Nobita Sering Menunda Pekerjaan, Kenapa Kita Juga Suka Menunda-nunda?

Luthfiana Sekar • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 07:07 WIB
Nobita dikenal sering menunda pekerjaan sampai mendekati batas waktu. Kebiasaan ini ternyata bukan sekadar soal malas, karena menunda pekerjaan juga bisa berkaitan dengan cara kita menghadapi rasa tidak nyaman. (Pinterest)
Nobita dikenal sering menunda pekerjaan sampai mendekati batas waktu. Kebiasaan ini ternyata bukan sekadar soal malas, karena menunda pekerjaan juga bisa berkaitan dengan cara kita menghadapi rasa tidak nyaman. (Pinterest)

SOLOBALAPAN.COM - Nobita dikenal sebagai salah satu karakter kartun yang sering menunda pekerjaan. Tugas sekolah yang seharusnya dikerjakan justru ditunda sampai mendekati batas waktu. Alih-alih mulai belajar, Nobita lebih memilih bermain atau melakukan hal lain yang menurutnya lebih menyenangkan.

Kebiasaan tersebut memang menjadi bagian dari cerita Doraemon. Namun, perilaku menunda pekerjaan sebenarnya bukan hanya terjadi pada Nobita. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang pernah mengatakan, “Nanti saja,” ketika berhadapan dengan tugas yang terasa berat, membosankan atau membuat tidak nyaman.

Dalam psikologi, kebiasaan menunda pekerjaan meski tahu pekerjaan tersebut perlu segera diselesaikan disebut prokrastinasi.

Baca Juga: Lengket, Berlendir, dan Baunya Kuat, Natto Justru Punya Banyak Manfaat

Prokrastinasi sering dianggap sebagai tanda seseorang malas atau tidak pandai mengatur waktu. Padahal, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penyebabnya tidak sesederhana itu.

Salah satu penjelasan yang banyak dibahas dalam penelitian psikologi adalah hubungan prokrastinasi dengan pengaturan emosi. Ketika seseorang berhadapan dengan pekerjaan yang terasa sulit, membosankan, membuat cemas atau menimbulkan tekanan, mengerjakannya bisa memunculkan perasaan tidak menyenangkan.

Pada saat yang sama, melakukan aktivitas lain seperti bermain gim, menonton video, membuka media sosial atau sekadar rebahan bisa memberikan perasaan yang lebih menyenangkan dalam waktu singkat.

Akibatnya, otak cenderung memilih aktivitas yang bisa membuat suasana hati terasa lebih baik sekarang dibandingkan pekerjaan yang manfaatnya baru terasa nanti.

Inilah salah satu alasan mengapa seseorang bisa mengetahui bahwa tugasnya penting, memiliki waktu yang cukup untuk mengerjakannya, bahkan sudah berniat menyelesaikannya, tetapi tetap memilih menunda.

Baca Juga: Bukan Cuma Motorik Halus, Ini Manfaat Sensory Play dalam Pembentukan Kesadaran Spasial Tubuh Anak

Penelitian tentang kebiasaan menunda pekerjaan dan pengaturan emosi juga menunjukkan bahwa kecenderungan menunda tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengatur waktu. Cara seseorang menghadapi emosi yang muncul ketika mengerjakan tugas juga dapat berperan.

Misalnya, seseorang mendapat tugas membuat laporan. Tugas tersebut sebenarnya bisa diselesaikan dalam beberapa jam. Namun, karena merasa bingung harus mulai dari mana, ia memilih membuka media sosial sebentar.

Awalnya hanya berniat melihat-lihat selama lima menit. Tanpa terasa, satu jam berlalu dan laporan masih belum dikerjakan.

Masalahnya bukan karena orang tersebut tidak mengetahui bahwa laporan harus selesai. Ia justru sedang mencari aktivitas yang terasa lebih ringan dibandingkan menghadapi rasa bingung dan tidak nyaman dari tugas tersebut.

Hal seperti ini membuat kebiasaan menunda pekerjaan berbeda dengan sekadar beristirahat atau menunda pekerjaan karena alasan yang masuk akal. Jika seseorang sengaja menjadwalkan pekerjaan untuk dikerjakan besok karena hari ini ada prioritas lain, itu belum tentu merupakan prokrastinasi.

Baca Juga: Kiko Sudah Punya 200 Episode, Ternyata Kartun Ini Punya Perjalanan Panjang

Prokrastinasi lebih berkaitan dengan penundaan yang sebenarnya tidak diperlukan dan akhirnya membuat pekerjaan semakin sulit atau menimbulkan penyesalan.

Kebiasaan Nobita dalam Doraemon tentu saja dibuat untuk kebutuhan cerita dan hiburan. Namun, dari karakter tersebut kita bisa melihat gambaran sederhana tentang kebiasaan manusia yang sebenarnya cukup umum.

Lalu, bagaimana cara mengurangi kebiasaan menunda?

Salah satu cara yang dapat dicoba adalah berhenti memikirkan pekerjaan sebagai sesuatu yang harus langsung diselesaikan seluruhnya. Pecah tugas menjadi bagian yang jauh lebih kecil.

Daripada mengatakan, “Aku harus menyelesaikan laporan hari ini,” coba ubah menjadi, “Aku akan membuka dokumen dan menulis tiga kalimat pertama.”

Langkah kecil seperti itu dapat membuat pekerjaan terasa lebih mudah untuk dimulai.

Cara lain adalah menggunakan aturan sederhana seperti mulai mengerjakan selama lima atau sepuluh menit. Setelah berhasil memulai, pekerjaan biasanya terasa tidak sesulit ketika masih hanya dipikirkan.

Mengurangi gangguan juga dapat membantu. Jika media sosial selalu menjadi pelarian ketika mulai mengerjakan tugas, ponsel bisa diletakkan agak jauh atau notifikasi dimatikan selama beberapa waktu.

Jadi, kalau sesekali merasa seperti Nobita yang terus berkata “nanti saja”, hal tersebut tidak otomatis berarti malas. Bisa jadi ada rasa bosan, cemas, bingung atau tidak nyaman yang sedang coba dihindari.

Memahami penyebabnya justru bisa menjadi langkah pertama untuk berhenti menunda. Sebab, menyelesaikan pekerjaan tidak selalu dimulai dari motivasi besar. Kadang, cukup dengan membuka tugas dan mengerjakan bagian paling kecil terlebih dahulu.(lut)

Editor : Luthfiana Sekar
Sumber : Berbagai Sumber
Nobita kartun doraemon