Perempuan Sering Bingung Baca Maps, Benarkah? Ini Penjelasan dari Sains

Luthfiana Sekar • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 15:00 WIB
Perempuan sering disebut lebih gampang bingung saat membaca maps. Benarkah karena kemampuan spasial? Penelitian justru menunjukkan ada banyak faktor yang memengaruhi cara seseorang menentukan arah. (Pinterest)
Perempuan sering disebut lebih gampang bingung saat membaca maps. Benarkah karena kemampuan spasial? Penelitian justru menunjukkan ada banyak faktor yang memengaruhi cara seseorang menentukan arah. (Pinterest)

 SOLOBALAPAN.COM - “Belok kiri setelah minimarket.”

“Minimarket yang mana?”

“Ya yang tadi kita lewatin!”

Percakapan semacam ini mungkin terdengar familiar ketika seseorang sedang mencari jalan. Apalagi kalau sudah berhadapan dengan Google Maps, tetapi arah panahnya justru terasa makin membingungkan.

Dari situ kemudian muncul stereotip bahwa perempuan lebih sulit membaca peta atau menentukan arah dibandingkan laki-laki. Tapi, apakah benar demikian?

Baca Juga: Bukan Cuma Motorik Halus, Ini Manfaat Sensory Play dalam Pembentukan Kesadaran Spasial Tubuh Anak

Jawabannya tidak sesederhana itu.

Kemampuan seseorang dalam membaca peta dan mencari jalan berkaitan dengan kemampuan kognitif yang disebut spatial navigation atau navigasi spasial. Sederhananya, kemampuan ini membantu seseorang memahami posisi dirinya, mengetahui hubungan antara berbagai tempat, memperkirakan arah, serta menentukan bagaimana mencapai lokasi tertentu.

Penelitian memang menemukan adanya perbedaan rata-rata antara laki-laki dan perempuan dalam beberapa jenis tugas navigasi. Sebuah meta-analisis terhadap 266 penelitian menemukan bahwa peserta laki-laki secara keseluruhan memperoleh hasil lebih tinggi dalam kemampuan navigasi skala besar, tetapi besar perbedaannya juga dipengaruhi jenis tugas, lingkungan pengujian, dan cara kemampuan tersebut diukur.

Artinya, bukan berarti setiap laki-laki otomatis jago membaca peta dan setiap perempuan pasti kesulitan.

Baca Juga: Panggung Budaya di Fasad Gedung Marba: Fiesta Folklore Tutup FKL 2026 dengan Semangat Keberagaman

Salah satu hal yang menarik justru terletak pada cara seseorang menentukan arah.

Dalam beberapa penelitian, laki-laki lebih sering menggunakan strategi yang berorientasi pada gambaran ruang secara keseluruhan. Misalnya, mengingat posisi berdasarkan arah utara, selatan, timur, dan barat, kemudian membayangkan hubungan antarjalan atau jarak dari satu tempat ke tempat lain.

Sementara itu, perempuan dalam sejumlah penelitian lebih sering menggunakan strategi berbasis rute dan landmark. Contohnya, mengingat “belok kiri setelah pom bensin”, “lurus sampai ketemu lampu merah”, atau “rumahnya ada di sebelah minimarket”.

Penelitian yang membandingkan kedua strategi tersebut menemukan bahwa peserta perempuan cenderung lebih mengandalkan informasi landmark, sedangkan peserta laki-laki lebih banyak menggunakan informasi berbasis hubungan ruang atau arah.

Baca Juga: Rahasia Latihan Po di Kung Fu Panda yang Bisa Ditiru agar Tak Mudah Menyerah Belajar

Nah, di sinilah penggunaan maps bisa terasa berbeda.

Bayangkan Google Maps menunjukkan sebuah rute dengan garis biru. Ada orang yang melihatnya lalu langsung membayangkan bentuk jalan secara keseluruhan. Ada pula yang lebih mudah memahami rute jika diberi petunjuk seperti “lurus, belok kanan di pertigaan, lalu cari gedung warna putih”.

Keduanya sama-sama sedang melakukan navigasi. Hanya saja, otak menggunakan informasi yang berbeda sebagai patokan.

Hal tersebut juga menjelaskan kenapa seseorang bisa sangat hafal jalan di lingkungan yang familiar, tetapi mendadak bingung ketika berada di tempat baru.

Sebuah studi tentang navigasi menunjukkan bahwa perbedaan performa antara laki-laki dan perempuan dapat berkaitan dengan perilaku wayfinding, yaitu bagaimana seseorang benar-benar mencari jalan. Penelitian tersebut menemukan bahwa perbedaan keberhasilan navigasi berkaitan dengan perbedaan perilaku saat mencari arah, bukan sekadar seberapa bagus seseorang merasa kemampuan spasialnya.

Namun, penelitian terbaru memberikan gambaran yang lebih hati-hati.

Review sistematis yang diterbitkan pada 2026 dan menganalisis 21 studi dari periode 2014–2024 menemukan bahwa keunggulan laki-laki lebih konsisten terlihat pada penggunaan strategi allocentric, yaitu memahami posisi berdasarkan hubungan objek atau lokasi dalam ruang secara keseluruhan. Tetapi, bukti bahwa perempuan selalu lebih unggul dalam strategi egocentric—menggunakan posisi diri sendiri sebagai titik acuan—masih terbatas dan tidak konsisten.

Review tersebut juga menekankan bahwa tingkat kesulitan tugas, seberapa familiar seseorang dengan lingkungan, beban kognitif, usia, serta faktor individual dapat memengaruhi hasil.

Jadi, kalau seseorang bingung ketika melihat peta, penyebabnya tidak bisa langsung disimpulkan karena dia perempuan.

Bisa saja masalahnya adalah jenis peta yang digunakan, lingkungan yang terlalu rumit, belum terbiasa membaca peta, atau cara petunjuk diberikan tidak sesuai dengan strategi navigasi yang paling mudah dipahami orang tersebut.

Bahkan, pengalaman juga berperan dalam kemampuan spasial. Kajian mengenai kemampuan spasial menunjukkan bahwa kemampuan tersebut bukan sesuatu yang sepenuhnya kaku dan dapat dipengaruhi oleh pembelajaran serta latihan.

Karena itu, stereotip “perempuan nggak bisa baca maps” sebenarnya terlalu menyederhanakan persoalan.

Bisa jadi seseorang bukan tidak bisa membaca maps, tetapi lebih mudah memahami petunjuk berdasarkan sesuatu yang bisa dilihat langsung.

Daripada mengatakan, “Pokoknya belok utara,” mungkin petunjuk seperti “belok kanan setelah SPBU” justru jauh lebih mudah dipahami.

Dan kalau dipikir-pikir, itu bukan berarti salah satu cara lebih pintar dari yang lain.

Yang satu mengandalkan gambaran besar, sementara yang lain mengandalkan detail perjalanan.

Jadi, lain kali ada yang terlihat kebingungan memutar-mutar Google Maps sambil bertanya, “Ini kita sebenarnya menghadap ke mana?”, mungkin masalahnya bukan karena dia tidak bisa membaca peta.

Bisa saja otaknya hanya sedang mencari patokan yang berbeda.(lut)

Editor : Luthfiana Sekar
Sumber : Berbagai Sumber
maps perempuan sains