Petani Asal Pati Tak Pernah Sekolah, Tapi Jadi Tempat Belajar Warga Desanya

tim solobalapan • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 15:57 WIB
Gunarti, perempuan Sedulur Sikep asal Pati yang mendampingi anak-anak belajar dan mengajak perempuan memahami persoalan Kendeng.(Instagram)
Gunarti, perempuan Sedulur Sikep asal Pati yang mendampingi anak-anak belajar dan perempuan di Kendeng.(Instagram)

SOLOBALAPAN.COM - Gunarti, perempuan Sedulur Sikep asal Kalioso, Pati, tidak pernah menempuh pendidikan formal. Sehari-hari ia menjalani aktivitas sebagai petani dan ibu rumah tangga. Namun, dari kehidupan tersebut, Gunarti justru aktif mengajak perempuan untuk  memahami persoalan lingkungan sekaligus mendampingi anak-anak belajar.

Peran tersebut mulai terlihat ketika warga di kawasan Pegunungan Kendeng menghadapi persoalan tanah dan rencana pembangunan pabrik pada 2006. Kondisi itu membuat Gunarti ikut turun menemui warga.

Baca Juga: Magnesium vs Melatonin untuk Tidur, Apa Bedanya dan Mana yang Lebih Tepat?

Dengan sepeda ontel, ia mendatangi desa demi desa dan berbicara dengan ibu-ibu tentang kondisi yang sedang dihadapi. Menurut Gunarti, persoalan kampung bukan hanya jadi urusan laki-laki. Perempuan juga perlu mengetahui dan memahami apa yang terjadi di lingkungan mereka.

Pertemuan dengan para perempuan kemudian berkembang menjadi kelompok bernama Simbar Wareh. Kelompok tersebut rutin mengadakan pertemuan setiap dua minggu untuk membahas persoalan yang berkaitan dengan kehidupan warga.

Dalam perjalanannya, kegiatan mereka sempat terganggu. Beberapa pertemuan dibubarkan oleh orang yang tidak dikenal. Meski begitu, para ibu tetap berkumpul dan melanjutkan kegiatan mereka.

Baca Juga: Nonton Reply 1988 Bukan Cuma Soal Nostalgia, Ini Pelajaran Hidup yang Bisa Dipetik

Perjuangan warga kemudian berlanjut melalui jalur hukum. Pada 2010, warga memenangkan perkara di Mahkamah Agung terkait rencana pembangunan pabrik semen di kawasan Kendeng.

Selain terlibat dalam kegiatan warga, Gunarti juga memperhatikan pendidikan anak-anak di lingkungannya. Di Omah Kendeng, ia mendampingi anak-anak belajar membaca, menulis, berhitung, hingga mengenal gamelan.

Kegiatan tersebut menjadi sisi lain dari kehidupan Gunarti. Meski tidak pernah merasakan pendidikan formal, ia tetap membagikan pengetahuan kepada anak-anak. Bagi Gunarti, belajar tidak hanya soal membaca dan menulis, tetapi juga tentang bagaimana seseorang bersikap dalam kehidupan sehari-hari.

Ia juga menekankan pentingnya sopan santun kepada anak-anak yang belajar bersamanya. Pesannya sederhana, tidak bersekolah bukan berarti seseorang tidak bisa memiliki kemampuan dan pengetahuan.

Baca Juga: Benarkah Teh Chamomile Bisa Bikin Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian

Kisah Gunarti menunjukkan bahwa peran yang ia jalani tidak berhenti pada petani dan ibu rumah tangga. Ia juga menjadi bagian dari gerakan perempuan di lingkungannya sekaligus mendampingi kegiatan belajar anak-anak.

Tanpa pernah duduk di bangku sekolah formal, Gunarti justru menghabiskan waktunya untuk mengajak orang lain belajar dan memahami lingkungan di sekitar mereka. (Hanifatuz Zahra)

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
hanifatuz zahra Gunarti perempuan desa pati inspiratif