SOLOBALAPAN.COM - Jepang dikenal memiliki sistem pendidikan yang cukup disiplin. Namun, negara tersebut pernah mengambil langkah berbeda dengan mengurangi tekanan akademik yang diterima anak-anak di sekolah.
Ketika banyak siswa terbiasa mengejar nilai dan mempersiapkan berbagai ujian, Jepang sempat menerapkan pendekatan pendidikan yang lebih longgar. Gagasan ini dikenal dengan istilah yutori education.
Baca Juga: Megawati Soekarnoputri dan Keluarga Besar Makamkan Guruh Soekarnoputra di Samping Ibu Fatmawati
Melalui pendekatan tersebut, jam pelajaran dikurangi dan sebagian materi dalam kurikulum disederhanakan. Anak-anak juga mendapat ruang lebih banyak untuk mengikuti kegiatan lain di sekolah, sehingga waktu belajar tidak sepenuhnya dihabiskan untuk mengejar materi akademik.
Perubahan itu bukan tanpa alasan. Jepang ingin mengurangi beban belajar yang dianggap terlalu berat bagi siswa. Pendidikan diharapkan tidak hanya membuat anak mampu mengerjakan soal, tetapi juga memberi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan lain.
Namun, hasilnya kemudian menjadi perdebatan. Ketika beban belajar dikurangi, muncul kekhawatiran bahwa kemampuan akademik siswa juga ikut menurun.
Perdebatan tersebut akhirnya mendorong Jepang melakukan penyesuaian. Materi pelajaran kembali diperkuat dan waktu belajar ditambah dibandingkan dengan masa penerapan yutori yang lebih longgar.
Baca Juga: Sensasi "Kaget Sehat" Ice Facial: Terapi Air Es Sederhana untuk Kulit Kencang dan Awet Muda
Meski begitu, persoalan tekanan akademik pada anak masih menjadi perhatian. Salah satunya terlihat dalam persiapan ujian masuk SMP yang diikuti sebagian siswa sekolah dasar.
Sebuah penelitian terhadap siswa kelas 6 SD di Jepang membandingkan anak-anak yang mempersiapkan ujian masuk SMP dengan mereka yang tidak mengikuti ujian tersebut.
Penelitian tersebut menemukan bahwa siswa yang mengikuti ujian lebih banyak mengalami stres. Tekanan itu semakin terasa ketika mereka mulai menentukan sekolah lanjutan..
Persiapan menghadapi ujian juga dapat memengaruhi kegiatan anak di luar belajar. Siswa yang mengikuti persiapan ujian tercatat memiliki waktu berolahraga yang lebih terbatas dibandingkan dengan kelompok yang tidak mengikuti ujian masuk.
Baca Juga: Dari After Hours hingga Dawn, Kenapa The Weeknd Selalu Identik dengan Dunia Malam?
Temuan tersebut menunjukkan bahwa tekanan ujian tidak hanya berkaitan dengan nilai. Bagi sebagian anak, persiapan menghadapi seleksi sekolah juga dapat memengaruhi keseharian mereka.
Di sisi lain, pengalaman Jepang menunjukkan bahwa mengurangi ujian atau beban belajar bukan berarti otomatis membuat kemampuan anak meningkat. Perubahan sistem pendidikan tetap membutuhkan evaluasi karena setiap kebijakan membawa dampak yang berbeda.
Yang menarik, Jepang sampai sekarang juga tidak menghilangkan seluruh ujian dari sistem pendidikannya. Asesmen akademik berskala nasional masih dilakukan untuk siswa kelas 6 SD dan kelas 3 SMP.
Karena itu, cerita tentang Jepang bukan semata-mata soal negara yang menghapus ujian untuk anak-anak. Yang terjadi berkaitan dengan bagaimana pemerintah dan sekolah mencoba mencari keseimbangan antara tuntutan akademik dan kondisi siswa.
Anak tetap membutuhkan kemampuan akademik untuk melanjutkan pendidikan. Namun, pengalaman Jepang menunjukkan bahwa tekanan yang muncul dari proses mengejar nilai juga perlu diperhatikan.
Pada akhirnya, sekolah bukan hanya tempat untuk mendapatkan nilai tinggi. Ada proses lain yang ikut membentuk perkembangan anak, seperti kesempatan untuk mencoba, berdiskusi, bekerja sama, memecahkan masalah, hingga berani melakukan kesalahan.
Perjalanan pendidikan Jepang menunjukkan bahwa mencari sistem belajar yang tepat tidak bisa hanya diukur dari jumlah ujian atau tinggi rendahnya nilai. Di balik angka tersebut, ada kondisi anak yang juga menjadi bagian penting dari proses pendidikan. (Hanifatuz Zahra)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber