Disebut ‘Cucu Krakatau’, Sebenarnya Gunung Apa yang Viral di Selat Sunda?

Luthfiana Sekar • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 14:45 WIB
Daratan baru dan dua gumuk kecil terdeteksi di sekitar Gunung Anak Krakatau setelah rangkaian erupsi 4–6 September 2026. Istilah “Cucu Krakatau” merupakan sebutan yang muncul di publik, bukan nama resmi gunung api baru.(IpopBase)
Daratan baru dan dua gumuk kecil terdeteksi di sekitar Gunung Anak Krakatau setelah rangkaian erupsi 4–6 September 2026. Istilah “Cucu Krakatau” merupakan sebutan yang muncul di publik, bukan nama resmi gunung api baru.(IpopBase)

SOLOBALAPAN.COM - Nama “Cucu Krakatau” belakangan ramai muncul di media sosial setelah terlihat bentukan daratan baru di sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda. Sebutan tersebut membuat banyak orang bertanya-tanya, apakah benar ada gunung api baru yang sedang lahir di kawasan tersebut?

Jawabannya, belum.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memang menemukan adanya perubahan bentang daratan di sekitar Gunung Anak Krakatau.

Baca Juga: Kedengarannya Seperti Lagu Anak, Ini Makna di Balik Lagu Jepang dalam Masha and the Bear

Namun, sampai saat ini belum ada keterangan resmi yang menyebut bentukan tersebut sebagai gunung api baru atau “Cucu Krakatau”.

Fenomena ini terpantau melalui evaluasi citra satelit Sentinel. Berdasarkan analisis awal Badan Geologi, tubuh Gunung Anak Krakatau mengalami penambahan daratan pada sektor barat laut, barat hingga barat daya.

Penambahan tersebut berkaitan dengan pengendapan material piroklastik dan aliran lava dari rangkaian erupsi yang berlangsung pada 4–6 September 2026.

Luas penambahan daratan yang dihitung Badan Geologi mencapai sekitar 32,8 hektare. Selain perluasan tubuh utama gunung, citra Sentinel juga memperlihatkan dua bentukan kecil yang tampak seperti pulau. Satu berada di sebelah barat laut dan lainnya di sebelah tenggara Gunung Anak Krakatau.

Kedua bentukan inilah yang kemudian ikut menarik perhatian publik dan memunculkan istilah “Cucu Krakatau”.

Baca Juga: Forgotten Island Hadir di Bioskop Indonesia, Angkat Mitologi Filipina dan Kisah Persahabatan

Namun, istilah tersebut perlu dipahami dengan hati-hati. Dalam analisis sementara, Badan Geologi menduga kedua gumuk tersebut masih berkaitan dengan material erupsi Gunung Anak Krakatau. Erupsi menerus pada 4–6 September berlangsung sekitar 25 jam. Material vulkanik yang keluar kemudian dapat mengendap di sekitar tubuh gunung maupun lokasi lain di sekitarnya.

Dengan kata lain, kemunculan daratan baru tidak otomatis berarti lahirnya gunung api baru.

Untuk menyebut sebuah bentukan sebagai gunung api independen, diperlukan bukti bahwa bentukan tersebut mempunyai sistem vulkaniknya sendiri. Misalnya, terdapat jalur magma atau rekahan yang terhubung ke sistem magma dan menghasilkan aktivitas erupsi sendiri.

Sementara itu, dua gumuk yang terdeteksi di sekitar Gunung Anak Krakatau masih dalam tahap interpretasi. Badan Geologi menyatakan diperlukan analisis lebih lanjut dengan membandingkan citra satelit sebelum dan sesudah erupsi serta melakukan pengecekan langsung di lapangan.

Baca Juga: Bungkam 10 Pemain Singapura 2-0, Timnas Indonesia Tempel Ketat Malaysia di Klasemen Grup A

Fenomena tersebut sebenarnya tidak terlalu mengejutkan jika melihat karakter Gunung Anak Krakatau yang masih aktif dan terus mengalami perubahan bentuk.

Gunung Anak Krakatau sendiri merupakan gunung api yang terbentuk setelah letusan besar Krakatau pada 1883. Setelah sebagian besar tubuh Krakatau runtuh dan kawasan tersebut mengalami perubahan besar, aktivitas vulkanik kemudian melahirkan Anak Krakatau yang terus tumbuh melalui akumulasi material erupsi.

Karena itu, pertumbuhan daratan di sekitar gunung api aktif merupakan bagian dari proses vulkanik yang perlu terus dipantau. Material lava dan hasil letusan dapat menumpuk dan mengubah bentuk tubuh gunung maupun kawasan di sekitarnya.

Kondisi Anak Krakatau juga masih menjadi perhatian. Setelah sebelumnya berada pada Level III atau Siaga, Badan Geologi menurunkan status aktivitasnya menjadi Level II atau Waspada mulai 21 September 2026 pukul 18.30 WIB. Meski status turun, masyarakat tetap diminta tidak beraktivitas dalam radius 2 kilometer dari pusat erupsi. Untuk dua gumuk yang terlihat di sekitar gunung, masyarakat juga diimbau tidak mendekat dalam radius 1 kilometer.

Sementara itu, BMKG terus memantau kondisi laut di kawasan Selat Sunda. Dalam pemantauan pascaerupsi, BMKG menggunakan berbagai sensor untuk mengawasi kemungkinan perubahan muka laut dan potensi tsunami. Pada pemantauan 6 September 2026, tidak ditemukan anomali muka laut yang mengindikasikan tsunami terkait rangkaian erupsi tersebut.

Jadi, apakah Gunung Anak Krakatau kini benar-benar memiliki “Cucu Krakatau”?

Untuk saat ini, belum bisa disebut demikian.

Yang sudah teridentifikasi adalah penambahan daratan pada tubuh Gunung Anak Krakatau serta dua gumuk kecil yang tampak seperti pulau berdasarkan citra satelit. Penyebabnya diduga masih berkaitan dengan material erupsi, sedangkan status kedua bentukan tersebut masih membutuhkan verifikasi lebih lanjut.

Nama “Cucu Krakatau” boleh jadi terdengar menarik untuk menggambarkan fenomena yang sedang viral. Tetapi secara ilmiah, bentukan baru itu belum dapat disebut sebagai gunung api baru.(lut)

Editor : Luthfiana Sekar
Gunung Anak Krakatau krakatau cucu Krakatau