Harvest Moon Muncul 26 September, Kenapa Bulan Purnama Ini Punya Nama “Panen”?

Luthfiana Sekar • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 06:39 WIB
Harvest Moon akan menghiasi langit pada 26 September 2026 dan tampak berdekatan dengan Saturnus. (NASA)
Harvest Moon akan menghiasi langit pada 26 September 2026 dan tampak berdekatan dengan Saturnus. (NASA)

SOLOBALAPAN.COM - Bulan purnama akan kembali menghiasi langit pada Sabtu, 26 September 2026. Kali ini, purnama tersebut bukan hanya sekadar Bulan yang terlihat bulat penuh, tetapi dikenal dengan nama Harvest Moon.

NASA memasukkan Harvest Moon sebagai salah satu fenomena langit yang bisa diamati pada September 2026. Pada 26 September, Bulan akan terbit di arah timur tidak lama setelah Matahari terbenam.

Menariknya, Saturnus juga akan berada di dekat Bulan, sementara Neptunus membentuk posisi yang lebih lebar di antara keduanya.

Baca Juga: Sule Buka Suara Usai Tak Masuk Jajaran Groomsman Andre Taulany, Singgung Circle Pertemanan

Untuk wilayah Indonesia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat fase purnama terjadi pada 26 September pukul 23.48 WIB. Di Yogyakarta, misalnya, Bulan dijadwalkan terbit sekitar pukul 17.14–17.15 WIB dan berada di langit sepanjang malam.

Jadi, tidak perlu menunggu sampai tepat pukul 23.48 WIB untuk melihatnya. Waktu tersebut merupakan momen ketika fase purnama mencapai puncaknya. Secara kasatmata, Bulan sudah tampak hampir penuh sejak sebelum mencapai waktu tersebut.

Lalu, dari mana nama Harvest Moon berasal?

Nama tersebut berkaitan dengan posisi purnama terhadap titik ekuinoks September. Harvest Moon merupakan sebutan untuk Bulan purnama yang waktunya paling dekat dengan ekuinoks musim gugur di belahan Bumi utara. Pada 2026, ekuinoks September terjadi pada 23 September, sehingga purnama 26 September menjadi Harvest Moon tahun ini.

Istilah “Harvest Moon” sendiri berhubungan dengan kegiatan panen. Ada alasan sederhana mengapa Bulan purnama ini dikaitkan dengan pertanian.

Baca Juga: Manfaatkan Air Rebusan Kayu Secang untuk Kulit Sehat, Begini Cara Sederhana dan Tips Aman Penggunaannya

Di sekitar waktu Harvest Moon, jeda antara satu waktu terbit Bulan dengan terbit Bulan pada hari berikutnya menjadi lebih pendek dibanding rata-rata. Akibatnya, Bulan tampak terbit mendekati waktu Matahari terbenam selama beberapa malam berturut-turut.

Kondisi tersebut membuat cahaya Bulan tersedia lebih lama pada awal malam. Pada masa ketika aktivitas pertanian masih sangat bergantung pada cahaya alami, tambahan penerangan setelah Matahari terbenam dapat memberi waktu lebih panjang untuk menyelesaikan pekerjaan di ladang, termasuk memanen hasil pertanian.

Timeanddate mencatat bahwa rata-rata Bulan terbit sekitar 50 menit lebih lambat setiap harinya. Namun di sekitar Harvest Moon, selisih tersebut dapat menjadi jauh lebih pendek. Di lintang tertentu, perubahan waktunya bahkan bisa hanya beberapa menit.

Itulah sebabnya nama “Harvest Moon” tidak merujuk pada warna Bulan, ukuran Bulan, atau karena Bulan tiba-tiba menjadi lebih dekat dengan Bumi. Nama tersebut lebih berkaitan dengan waktu kemunculannya dan kaitannya dengan musim panen.

Baca Juga: Bocoran MAKI, Ada 15 Tokoh Elit Diduga Penghuni Sel Mewah Lapas Cibinong, Cek Disini!

Meski begitu, ada satu hal yang mungkin membuat Bulan terlihat berbeda ketika baru muncul di dekat cakrawala. Harvest Moon terkadang tampak berwarna kekuningan hingga kemerahan saat baru terbit.

Efek tersebut bukan karena Bulan berubah warna. Ketika berada dekat cakrawala, cahaya Bulan harus melewati atmosfer Bumi dalam lintasan yang lebih panjang sebelum sampai ke mata pengamat. Kondisi atmosfer dapat membuat warna-warna dengan panjang gelombang tertentu lebih banyak tersebar sehingga cahaya Bulan terlihat lebih kuning atau kemerahan.

Pada 26 September tahun ini, perhatian juga tertuju pada Saturnus. NASA menyebut Saturnus akan terlihat berada dekat dengan Harvest Moon.

Planet tersebut cukup terang untuk diamati tanpa alat bantu dalam kondisi langit yang mendukung, sedangkan Neptunus jauh lebih redup sehingga diperlukan teropong atau teleskop untuk melihatnya.

Bagi yang ingin mengamati, waktu setelah Matahari terbenam menjadi salah satu momen yang menarik untuk mulai melihat ke arah timur.

Tidak perlu peralatan khusus untuk menikmati Bulan purnama dan Saturnus, selama langit cukup cerah dan pandangan ke arah timur tidak terhalang bangunan atau pepohonan.

Jadi, Harvest Moon pada 26 September bukanlah nama untuk jenis Bulan yang berbeda. Ini tetap merupakan Bulan purnama seperti biasanya.

Yang membuatnya istimewa adalah waktunya yang berdekatan dengan ekuinoks September serta pola terbit Bulan yang pada periode tersebut membantu menjelaskan asal-usul nama “Bulan panen” yang sudah digunakan sejak lama.

Editor : Luthfiana Sekar
Sumber : NASA, BMKG
harvest bulan panen september