Atasi Stres dan Beban Pikiran dengan "Journaling": Terapi Menulis Sederhana untuk Kesehatan Mental

tim solobalapan • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 09:25 WIB
Ilustrasi buku catatan harian (gpt AI)
Ilustrasi buku catatan harian (gpt AI)

SOLOBALAPAN.COM - Rasa lelah tidak hanya terasa di tubuh saja, namun juga pada pikiran kita. Disebabkan karena terlalu banyak pikiran yang menumpuk, pekerjaan yang tidak kunjung selesai, bahkan perasaan yang terlalu lama ditahan sebab takut untuk membaginya dengan orang lain.

Hal itu bisa menyebabkan stress, kurangnya fokus, bahkan rasa malas serta burn out. Namun terdapat suatu kegiatan yang bisa mengurangi hal-hal negatif tersebut dan memiliki banyak manfaat yaitu Journaling. 

Baca Juga: Sering Jadi Campuran Es, Ketan Hitam Punya Manfaat Tak Terduga untuk Kesehatan Kulit.

Journaling adalah kegiatan menuangkan pikiran, perasaan, pengalaman, serta ide ke ke dalam bentuk tulisan secara rutin. Aktivitas ini bisa dilakukan di buku catatan fisik atau dairy maupun secara digital, journaling tidak memiliki aturan khusus bahkan hanya sekedar menulis kegiatan sehari-hari. 

Journaling memiliki sejarah yang panjang, bahkan pada zaman manusia prasejarah saat manusia belum mengenal membaca dan menulis mereka menggambarkan pengalaman hidup mereka bahkan rutinitas harian mereka dengan melukisnya atau menggambarnya di dinding gua.

Baca Juga: Langkah Strategis Jeonghan dan Joshua Menjaga Nyala Kreativitas SEVENTEEN Lewat Mini Album 'DREAMSCAPE'

Journaling kemudian berevolusi dari catatan reflektif kuno hingga menjadi alat refleksi pribadi yang kini semakin populer.

Sekitar abad ke-2 Masehi Kekaisaran Romawi sudah memulai menulis catatan reflektif pribadi, Kaisar Romawi Marcus Aurelius setiap hari menulis catatan reflektifnya yang kemudian catatan itu ditemukan hingga menjadi sebuah buku yang bertajuk “Meditations”. 

Tidak hanya di Romawi, di Asia Timur khususnya Jepang dan China pada periode Heian yaitu sekitar abad ke-10 . Para wanita istana mulai menulis catatan harian pribadi yang disebut dengan “Nikki” atau “Tosa Nikki” bisa juga disebut catatan harian Murasaki Shikibu. Mereka mencatat kehidupan sehari-hari mereka bahkan perasaan mereka dengan prosa bahkan sebuah puisi. 

Baca Juga: Rainbow Six Siege Siapkan Konten Baru Saat GTA 6 Rilis

Berkembang ke abad Eropa di abad pertengahan, journaling bermula dari “day books” atau buku harian para pedagang untuk mencatat transaksi, perjalanan dagang, bahkan mencatat cuaca.

Sedangkan ilmuwan besar seperti Leonardo da Vinci mengisi ribuan buku catatn bahkan buku hariannya dengan ide penemuan ilmiah, bahkan sketsa anatomi, yang kemudian menggeser fungsi buku catatan sebagai wadah eksplorasi ide dan kreativitas. 

Kemudian awal kepopuleran journaling di era modern bermula dari tradisi puritan pada perpindahan abad ke-17 ke abad ke-18. Di dunia barat, kaum puritan didorong untuk mencatat kehidupan rohaninya dengan evaluasi diri, mencatat rahmat Tuhan hingga pengakuan dosa secara rutin di buku harian mereka. 

Lalu pada abad ke-19 ditemukan jurnal komersial, journaling semakin populer karena pada saat itu banyak perusahaan dan berbagai penerbit mulai memproduksi buku catatan (notebook) bersampul kulit dengan ukuran yang pas menjadikan buku catatan mudah dibawa kemana-mana dan dijual dengan harga terjangkau. 

Baca Juga: Dari Sepur hingga Potlot, Begini Jejak Bahasa Belanda dalam Kosakata Jawa

Masuk ke abab 20-an, para psikolog seperti Dr. Ira Progoff memperkenalkan metode “Intensive Journal” sebagai alat terapi untuk pertumbuhan pribadi dan kesehatan mental.

Baca Juga: Kenapa Parfum Cepat Hilang? Ini Faktor yang Memengaruhi Ketahanan Aroma

Kemudian seiring berkembangnya zaman cara untuk menulis jurnal atau catatan harian semakin bervariasi seperti “Bullet Journal” atau yang lebih dikenal dengan BuJo yang dapat meningkatkan produktivitas hingga kedisiplinan diri. Selain dapat dibaca kembali sebagai evaluasi, introspeksi diri, catatan harian bisa menjadi kenangan, semua momen dari biasa saja, sangat menyedihkan atau sangat membahagiakan terekam kedalam catatan harian yang bisa dibaca kembali suatu saat nanti. (Adhima Aulia)

Editor : Andi Aris Widiyanto
Sumber : unsia.ac.id: Temukan Kedamaian dan Kreativitas Melalui Journaling, epica.com: The Astonishing History of Journaling, theselfhug.id: Journaling as a Tool For Overfflowing Feelings.
adhima aulia diary sejarah journaling