Hujan Meteor Sextantid Terjadi Akhir September, Kenapa Justru Sulit Dilihat dari Bumi?

Luthfiana Sekar • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 06:38 WIB
Ilustrasi hujan meteor Daytime Sextantids yang memiliki karakter berbeda dari kebanyakan hujan meteor karena aktivitas utamanya berlangsung saat langit terang. Fenomena ini membuat meteor sulit diamati dengan mata telanjang. (Pinterest)
Ilustrasi hujan meteor Daytime Sextantids yang memiliki karakter berbeda dari kebanyakan hujan meteor karena aktivitas utamanya berlangsung saat langit terang. Fenomena ini membuat meteor sulit diamati dengan mata telanjang. (Pinterest)

SOLOBALAPAN.COM - Hujan meteor biasanya identik dengan langit malam yang gelap dan garis cahaya yang melintas di antara bintang. Namun, ada satu hujan meteor yang punya karakter berbeda dari kebanyakan fenomena serupa, yakni Daytime Sextantids.

Fenomena ini berlangsung setiap tahun pada sekitar akhir September hingga awal Oktober. Pada 2026, International Meteor Organization (IMO) mencatat Daytime Sextantids aktif pada 20 September hingga 6 Oktober, dengan perkiraan maksimum pada 1 Oktober.

Baca Juga: Prediksi Line Up Timnas Indonesia vs Singapura di FIFA ASEAN Cup 2026: John Herdman Siapkan Formasi 3-4-3

Sementara sejumlah kalender astronomi memperkirakan aktivitas maksimumnya berada di sekitar 27 September. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa waktu puncak hujan meteor tidak selalu dapat ditentukan dengan satu tanggal yang mutlak.

Lantas, apa yang membuat Daytime Sextantids menarik?

Hujan Meteor yang Terjadi Saat Siang

Sesuai namanya, Daytime Sextantids merupakan salah satu hujan meteor yang aktivitas utamanya berlangsung ketika langit sudah terang.

Penelitian yang diterbitkan dalam Monthly Notices of the Royal Astronomical Society menjelaskan bahwa radiant atau titik asal semu meteor Daytime Sextantids berada hanya sekitar 30 derajat dari posisi Matahari di langit.

Baca Juga: Resmi Digelar Desember Mendatang, Ini Daftar 5 Game dan 7 Nomor Kompetisi di WEC26 Indonesia

Kondisi tersebut membuat sebagian besar meteor dari hujan ini muncul ketika Matahari sudah berada di atas horizon. Akibatnya, meteor menjadi sangat sulit diamati menggunakan mata karena cahaya Matahari membuat langit jauh lebih terang dibandingkan meteor yang relatif redup.

Meski demikian, penelitian tersebut menemukan bahwa sejumlah kecil meteor Daytime Sextantids masih dapat terdeteksi secara optik sekitar satu jam sebelum Matahari terbit, terutama ketika kondisi pengamatan mendukung.

Berasal dari Arah Rasi Sextans

Seperti hujan meteor lainnya, nama Daytime Sextantids berasal dari lokasi radiant-nya di langit. Radiant fenomena ini berada di sekitar wilayah rasi Sextans.

Meteor sebenarnya tidak berasal dari satu titik tertentu di ruang angkasa. Titik tersebut merupakan efek perspektif ketika partikel-partikel kecil memasuki atmosfer Bumi dari arah yang hampir sama sehingga jalurnya seolah-olah memancar dari satu kawasan di langit.

Baca Juga: Siapa TGH Muhammad Imanuddin Sumar? Pimpinan Ponpes Mundur Usai Rekaman Suara Dugaan Pelecehan Santri Viral

Ketika partikel tersebut memasuki atmosfer dengan kecepatan tinggi, gesekan dan interaksi dengan atmosfer menghasilkan jejak cahaya yang kita kenal sebagai meteor.

Bukan Berarti Tidak Ada Meteor Sama Sekali

Kesulitan melihat Daytime Sextantids bukan berarti fenomenanya tidak terjadi.

Justru penelitian astronomi terhadap hujan meteor ini menggunakan pengamatan radar karena sebagian besar aktivitasnya berlangsung pada siang hari. Studi tersebut menganalisis ribuan orbit meteor untuk mempelajari karakteristik Daytime Sextantids dan menemukan bahwa hujan meteor ini memiliki aktivitas yang cukup jelas pada periode akhir September hingga awal Oktober.

Daytime Sextantids juga memiliki hubungan dengan kompleks aliran meteor Phaethon-Geminid. Penelitian tersebut menemukan kemiripan karakteristik orbitnya dengan aliran meteor Geminid dan asteroid 2005 UD, meskipun asal-usul pasti hubungan tersebut masih menjadi bahan penelitian.

Jadi, apabila pada akhir September hingga awal Oktober masyarakat tidak melihat banyak “bintang jatuh” dari hujan meteor ini, bukan berarti fenomenanya gagal terjadi.

Daytime Sextantids memang berbeda sejak awal. Meteor-meteornya sebagian besar muncul ketika langit sedang terang, sehingga fenomena yang secara astronomi nyata tersebut justru menjadi salah satu hujan meteor yang sulit disaksikan langsung dengan mata.(lut)

Editor : Luthfiana Sekar
Sumber : Berbagai Sumber
daytime sextandis meteor fenomena