SOLOBALAPAN.COM - Pernikahan selama ini sering dibayangkan sebagai acara besar dengan gedung, dekorasi, ratusan tamu, sampai pesta berjam-jam. Namun, belakangan pilihan untuk menikah secara sederhana di Kantor Urusan Agama (KUA) juga semakin banyak diperbincangkan, terutama di kalangan anak muda.
Kementerian Agama bahkan pernah menyebut menikah di KUA sebagai tren baru di kalangan generasi milenial dan Gen Z. Pada 2023, Staf Khusus Menteri Agama Bidang Media dan Komunikasi Publik Wibowo Prasetyo mengatakan semakin banyak pasangan dari dua generasi tersebut yang memilih melangsungkan pernikahan di KUA.
Pilihan ini sebenarnya tidak selalu berarti pasangan ingin menggelar pernikahan dengan seadanya. Ada alasan yang cukup masuk akal di baliknya, mulai dari biaya hingga kepraktisan.
Salah satu yang paling jelas adalah biaya. Berdasarkan informasi Kementerian Agama, akad nikah yang dilaksanakan di KUA pada hari dan jam kerja tidak dipungut biaya alias Rp0. Sementara itu, jika akad dilaksanakan di luar KUA atau di luar jam kerja, ada biaya sebesar Rp600.000 yang disetorkan sesuai ketentuan.
Ketentuan tersebut kembali ditegaskan Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga pada Juni 2026. Informasi biaya nikah dipasang di seluruh KUA agar masyarakat bisa mengetahui dengan jelas kapan layanan tersebut gratis dan kapan dikenai biaya.
Bagi pasangan yang sedang mempersiapkan kehidupan setelah menikah, perbedaan biaya tersebut tentu bisa menjadi salah satu pertimbangan. Uang yang biasanya digunakan untuk dekorasi, venue, katering atau kebutuhan pesta dapat dialihkan untuk keperluan lain setelah pernikahan.
Tetapi, alasan memilih KUA tidak berhenti pada persoalan biaya.
Pernikahan di KUA juga menawarkan proses yang lebih sederhana. Pasangan tidak harus memikirkan terlalu banyak detail acara seperti menyewa gedung, menentukan jumlah tamu, menyiapkan dekorasi, hingga mengatur rangkaian resepsi. Bagi sebagian pasangan, konsep seperti ini bisa membuat momen pernikahan terasa lebih personal.
Ada pula perubahan cara pandang terhadap pesta pernikahan. Di media sosial, semakin banyak pasangan yang membicarakan pernikahan bukan hanya sebagai sebuah acara yang harus terlihat mewah, tetapi sebagai awal kehidupan bersama. Dengan begitu, pengeluaran besar untuk satu hari tidak selalu dianggap sebagai bagian yang wajib.
Namun, menariknya, tren menikah sederhana ini muncul ketika sebagian anak muda justru semakin berhati-hati soal pernikahan.
Badan Pusat Statistik mencatat kecenderungan pemuda untuk menunda pernikahan. Data Susenas Maret 2024 yang dipublikasikan BPS Kabupaten Bandung menunjukkan sekitar 71,69 persen pemuda di Jawa Barat berstatus belum kawin, sedangkan 26,95 persen berstatus kawin.
Baca Juga: Dorm Du Episode 3: Keteguhan Agrin Mempertahankan Hijab, Cerita Makin Menegangkan!
Artinya, pembicaraan tentang pernikahan di kalangan generasi muda tidak sesederhana “Gen Z ingin cepat menikah”. Sebagian justru memilih menunggu sampai merasa lebih siap.
Hal tersebut juga terlihat dalam pembahasan Mahkamah Agung mengenai fenomena “marriage is scary” di ruang digital. Dalam tulisan yang diterbitkan Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama pada Januari 2026, ketidakpastian mengenai hubungan, ekonomi, dan masa depan keluarga disebut menjadi bagian dari kegelisahan yang banyak dibicarakan generasi muda di media sosial.
Karena itu, ketika ada anak muda yang akhirnya memutuskan menikah, pilihan untuk menggelar akad secara sederhana di KUA bisa saja menjadi bagian dari pertimbangan yang lebih luas. Bukan sekadar ingin menghemat biaya, tetapi juga memilih bentuk pernikahan yang dianggap sesuai dengan kondisi dan prioritas mereka.
Menikah di KUA pun bukan berarti mengurangi makna pernikahan. Secara administratif, pencatatan perkawinan tetap menjadi bagian penting agar pernikahan tercatat secara resmi. Kemenag juga menyediakan prosedur pendaftaran dan pencatatan nikah melalui layanan KUA.
Pada akhirnya, tidak semua pasangan harus memiliki pernikahan dengan konsep yang sama. Ada yang memilih mengadakan pesta besar bersama keluarga dan teman, ada pula yang merasa akad sederhana sudah cukup.
Bagi sebagian anak muda, pernikahan mungkin bukan lagi tentang seberapa besar acara yang bisa digelar, melainkan bagaimana memulai kehidupan bersama tanpa harus membebani diri dengan pengeluaran yang tidak sesuai kemampuan.
Jadi, kalau sekarang ada pasangan Gen Z yang memilih menikah di KUA, alasannya belum tentu hanya karena gratis. Bisa jadi mereka memang sedang memilih sesuatu yang lebih sederhana, praktis, dan sesuai dengan prioritas hidup setelah hari pernikahan selesai.
Editor : Luthfiana Sekar