Buku Yasin Ini Tampil Beda, Ada Sentuhan Personal dari Seniman Cahyo Destianto

tim solobalapan • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 14:17 WIB
Buku Yasin karya Cahyo Destianto dengan pendekatan visual yang lebih personal.(bushcoo)
Buku Yasin karya Cahyo Destianto dengan pendekatan visual yang lebih personal.

SOLOBALAPAN.COM - Buku Yasin biasanya memiliki desain yang sederhana dan identik dengan kegiatan keagamaan. Namun, seniman visual asal Lampung, Cahyo Destianto atau Destiantos, menghadirkan buku Yasin dengan tampilan yang berbeda melalui pendekatan desain yang lebih personal.

Cahyo mengubah sejumlah bagian pada buku tersebut, mulai dari tata letak, ilustrasi, hingga kemasannya. Perubahan itu membuat buku Yasin buatannya memiliki karakter visual yang berbeda dari buku Yasin pada umumnya.

Baca Juga: Tari Bugis Kembar Gubahan S. Ngaliman: Pernah Hampir Menjadi Alasan Perpecahan Suku di Indonesia

Karya tersebut merupakan bagian dari seri merchandise bertajuk “Hidup Apa Yang Kita Jalani Ini?”. Ide pembuatan buku Yasin itu berangkat dari pemikiran Cahyo tentang kehidupan dan kematian.

Cahyo membayangkan buku Yasin seperti apa yang ingin ia tinggalkan jika suatu saat meninggal dunia. Dari pemikiran tersebut, ia kemudian membuat buku Yasin yang tidak hanya memperhatikan fungsi, tetapi juga tampilan visualnya.

Buku Yasin tidak dibuat sebagai benda yang berkaitan dengan kematian. Buku tersebut juga menjadi bagian dari cara Cahyo untuk kembali melihat kehidupan yang telah dijalani.

Pesan “All is well” turut digunakan dalam karya tersebut. Pesan itu menjadi bagian dari gagasan yang ingin disampaikan Cahyo tentang menerima berbagai hal yang telah terjadi dalam kehidupan.

Baca Juga: Vico Duarte Datang, Slot Pemain Asing Persis Solo Overkapasitas: Siapa Legiun Asing yang Bakal Coret?

Pemilihan Surat Yasin juga tidak lepas dari kedekatannya dengan kehidupan masyarakat Muslim. Surat tersebut dikenal sering dibaca dalam berbagai kesempatan keagamaan, termasuk saat masyarakat memanjatkan doa dan memohon ampunan, keberkahan, serta keselamatan.

Meski tampilannya diubah, Cahyo tetap mempertahankan fungsi buku Yasin. Unsur yang mendapat sentuhan berbeda terutama pada bagian visual, seperti ilustrasi, tata letak, dan kemasan.

Latar belakang Cahyo sebagai desainer grafis turut memengaruhi pengerjaan karya tersebut. Ia merupakan alumnus Desain Komunikasi Visual Institut Seni Indonesia Surakarta dan memiliki pengalaman dalam bidang desain serta ilustrasi.

Baca Juga: Siapkan Payung! Ini Daftar Wilayah Indonesia yang Berpotensi Diguyur Hujan Menurut Prakiraan BMKG

Cahyo juga pernah mendapatkan pengalaman profesional sebagai graphic designer intern di Puma. Saat menjalani program tersebut di kantor pusat Puma di Jerman, ia terlibat dalam pekerjaan visual di bagian Creative Marketing.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu latar yang terlihat dalam cara Cahyo mengembangkan buku Yasin versinya. Ia tidak hanya mengolah tampilan, tetapi juga memasukkan gagasan pribadi ke dalam karya tersebut.

Buku Yasin buatan Cahyo kemudian menjadi pertemuan antara desain visual dan pemikiran tentang kehidupan. Benda yang selama ini dekat dengan kegiatan keagamaan itu dihadirkan dengan bentuk visual yang mengikuti karakter pembuatnya.

Baca Juga: Dony Tri Pamungkas Dicoret Akibat Cedera, John Herdman Langsung Panggil Shayne Pattynama ke Timnas Indonesia!

Melalui karya tersebut, Cahyo menunjukkan bahwa sebuah benda yang sudah dikenal masyarakat juga dapat diolah dari sudut pandang desain. Perubahan tampilan tidak menghilangkan fungsi utamanya, tetapi memberikan bentuk visual yang berbeda. (Hanifatuz Zahra)

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
hanifatuz zahra CahyoDestianto buku yasin seni visual desain grafis