SOLOBALAPAN.COM - Selain terkenal dengan tradisi perburuan paus nya, Lamalera, Nusa Tenggara Timur mempunyai satu benda yang tidak kalah penting dalam kehidupan masyarakat setempat, yakni Paledang.
Paledang merupakan perahu tradisional yang digunakan masyarakat Lamalera untuk melaut. Namun, bagi masyarakat setempat, perahu ini bukan sekadar alat transportasi atau sarana mencari penghidupan.
Paledang memiliki kedudukan khusus dan dimaknai sebagai bagian dari identitas masyarakat Lamalera.
Baca Juga: Siapkan Payung! Ini Daftar Wilayah Indonesia yang Berpotensi Diguyur Hujan Menurut Prakiraan BMKG
Penelitian etnoarkeologi Universitas Gadjah Mada yang diterbitkan dalam jurnal JANUS pada 2025 menunjukkan bahwa Paledang memiliki makna simbolik yang jauh lebih luas.
Bentuk dan bagian-bagian perahu tidak hanya dilihat berdasarkan fungsi teknisnya, tetapi juga memiliki pemaknaan yang berkaitan dengan tubuh manusia.
Salah satu contohnya terdapat pada bagian lunas atau bagian dasar memanjang yang menjadi struktur penting perahu. Bagian tersebut dimaknai seperti tulang belakang. Sementara bagian haluan dipersonifikasikan sebagai kepala yang memimpin perjalanan perahu di laut.
Pemaknaan tersebut tidak muncul begitu saja. Pembuatan Paledang dilakukan oleh kelompok khusus yang disebut Ata Mola.
Pengetahuan mengenai pembuatan perahu diwariskan dari generasi ke generasi, bukan hanya mengenai teknik mengolah kayu, tetapi juga berbagai aturan dan ritual yang menyertainya.
Baca Juga: Rahasia Kulit Kenyal dan Awet Muda: Kenali Manfaat Ajaib Hyaluronic Acid
Dalam proses pembuatannya, bahan yang digunakan pun dipilih dengan pertimbangan tertentu. Penelitian UGM mencatat penggunaan kayu keppa atau kepapa untuk badan perahu dan kayu kena untuk bagian lunas. Proses pembuatannya dilakukan tanpa menggunakan paku logam. Bagian-bagian perahu disatukan menggunakan pasak kayu dan serat tumbuhan.
Sebelum pembuatan dimulai, terdapat pula ritual yang berkaitan dengan permohonan izin kepada leluhur dan penjaga hutan. Karena itu, kemampuan membuat Paledang tidak hanya membutuhkan keterampilan teknis, tetapi juga pemahaman terhadap aturan adat dan kehidupan sosial masyarakat.
Dokumentasi pemerintah melalui buku Paledang: Perahu Pemburu Ikan Paus yang diterbitkan pada 1996 juga menunjukkan betapa pentingnya posisi perahu tersebut dalam kehidupan masyarakat Lamalera. Dalam buku itu, Paledang disebut sebagai perahu tradisional Lamalera-Lembata dan dijelaskan bahwa kepemilikan perahu berkaitan erat dengan kelompok suku serta kerja sama masyarakat.
Satu Paledang secara tradisional dapat menjadi penopang kehidupan sejumlah orang. Karena itu, keberadaan perahu tidak hanya berkaitan dengan aktivitas di laut, tetapi juga berhubungan dengan kehidupan sosial kelompok yang memilikinya.
Baca Juga: Fenomena Ekuinoks Terjadi Hari Ini, Benarkah Siang dan Malam Jadi Sama-sama 12 Jam?
Menariknya, makna Paledang tidak berhenti pada perahu yang berada di pesisir. Bentuknya juga diabadikan dalam kain tenun ikat Lamalera.
Penelitian UGM menemukan bahwa motif Paledang pada kain tenun bukan sekadar hiasan. Motif tersebut menjadi bentuk pewarisan budaya dan memiliki makna sosial, termasuk berkaitan dengan status perempuan serta hubungan kekerabatan dalam masyarakat Lamalera.
Dengan begitu, Paledang hadir dalam berbagai sisi kehidupan masyarakat. Ia menjadi perahu yang digunakan untuk melaut, objek yang dibuat dengan pengetahuan turun-temurun, bagian dari ritual, sekaligus simbol yang dituangkan kembali ke dalam kain tenun.
Hal inilah yang membuat Paledang berbeda dari sekadar perahu tradisional. Bentuknya menyimpan pengetahuan mengenai teknologi, hubungan manusia dengan alam, kehidupan sosial, hingga kepercayaan masyarakat yang diwariskan lintas generasi.
Bagi masyarakat Lamalera, Paledang pada akhirnya bukan hanya benda yang membawa manusia menuju laut. Ia menjadi bagian dari cara masyarakat memahami kehidupan, identitas, dan hubungan mereka dengan lingkungan tempat tinggalnya.(Lut)
Editor : Luthfiana SekarSumber : Berbagai Sumber