SOLOBALAPAN.COM – Bisa menggunakan AI sekarang memang menjadi nilai tambah di dunia kerja. Namun, semakin banyak pekerjaan yang bersentuhan dengan AI, ternyata bukan berarti kemampuan manusia menjadi tidak penting.
Justru sebaliknya. Ketika pekerjaan rutin bisa dibantu teknologi, kemampuan untuk menilai informasi, mengambil keputusan, berkomunikasi, dan beradaptasi menjadi semakin penting.
Hal tersebut terlihat dalam PwC 2026 AI Jobs Barometer yang menganalisis lebih dari satu miliar lowongan pekerjaan di 27 negara. Dalam analisis tersebut, pekerjaan yang banyak terpapar AI semakin membutuhkan keterampilan manusia seperti judgement, kreativitas, dan kepemimpinan. Bahkan, lowongan entry-level yang paling terpapar AI tercatat tujuh kali lebih mungkin membutuhkan kemampuan yang sebelumnya lebih sering dikaitkan dengan posisi senior.
Baca Juga: Menakar Khasiat Telur Bebek Asin vs Telur Ayam Rebus untuk Asupan Protein Harian
Lantas, skill apa saja yang mulai penting dimiliki pencari kerja, khususnya fresh graduate?
1. Berpikir Kritis
Bisa mencari informasi belum tentu berarti bisa menilai informasi tersebut dengan benar. Inilah mengapa kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting.
World Economic Forum (WEF) dalam Future of Jobs Report 2025 menempatkan analytical thinking sebagai salah satu kemampuan inti yang paling banyak dianggap penting oleh perusahaan. Sekitar tujuh dari 10 perusahaan yang disurvei menyebut kemampuan tersebut sebagai skill utama.
Dalam praktiknya, kemampuan ini bisa terlihat ketika seseorang tidak langsung percaya pada hasil pencarian atau jawaban AI, tetapi mengecek sumber, membandingkan informasi, kemudian menentukan kesimpulan.
Baca Juga: Jangan Langsung Dibuang! Ampas Kopi Bikin Tanamanmu Melek dan Senyam-Senyum
2. Kemampuan Mengambil Keputusan
AI bisa memberikan beberapa pilihan, tetapi manusia tetap perlu menentukan pilihan mana yang masuk akal untuk situasi tertentu.
PwC menemukan bahwa pekerjaan entry-level yang paling terpapar AI kini lebih sering membutuhkan kemampuan yang sebelumnya dianggap sebagai keterampilan senior, termasuk judgement. Perubahan ini menunjukkan bahwa pekerja pemula tidak selalu hanya dituntut mengerjakan instruksi, tetapi juga semakin perlu memahami konsekuensi dari keputusan yang dibuat.
Bagi fresh graduate, kemampuan ini bisa dilatih dari hal sederhana. Misalnya, ketika menemukan masalah dalam pekerjaan, jangan hanya menyampaikan “ada kendala”, tetapi coba jelaskan penyebabnya dan tawarkan beberapa pilihan penyelesaian.
Baca Juga: Penemu Kretek Ternyata Pengidap Asma, Begini Awal Mula Rokok Cengkeh dari Kudus
3. Komunikasi
Teknologi boleh semakin canggih, tetapi pekerjaan tetap melibatkan manusia.
WEF menyebut komunikasi sebagai salah satu kemampuan yang penting bagi anak muda yang memasuki dunia kerja di era AI. Kemampuan untuk menyampaikan ide dengan jelas, bertanya ketika belum memahami sesuatu, dan membangun hubungan dengan orang lain tetap menjadi bagian penting dari pekerjaan.
Kemampuan komunikasi juga tidak selalu berarti pandai berbicara di depan banyak orang. Menulis email yang jelas, memberikan kabar mengenai progres pekerjaan, atau menjelaskan masalah kepada rekan satu tim juga termasuk komunikasi profesional.
4. Kreativitas
Kalau AI bisa menghasilkan banyak ide dalam hitungan detik, apakah kreativitas manusia masih diperlukan?
Menurut PwC, jawabannya masih iya. Kreativitas termasuk keterampilan manusia yang semakin ditekankan pada pekerjaan yang terdampak AI. WEF juga memasukkan creative thinking sebagai salah satu kemampuan yang diperkirakan terus meningkat kepentingannya dalam beberapa tahun mendatang.
Kreativitas dalam dunia kerja tidak selalu berarti harus pandai menggambar atau membuat karya seni. Mencari sudut pandang baru untuk sebuah masalah, membuat konsep konten, menemukan cara kerja yang lebih efisien, hingga mengembangkan ide produk juga membutuhkan kreativitas.
5. Adaptasi dan Kemauan Belajar
Lulus kuliah bukan berarti proses belajar selesai. Justru ketika teknologi berubah cepat, kemampuan untuk mempelajari sesuatu yang baru menjadi semakin penting.
Laporan ILO 2026 tentang perubahan kebutuhan skill di era AI menyoroti adaptabilitas, resiliensi, dan human agency sebagai kemampuan yang semakin penting. ILO juga menyebut literasi AI sebagai salah satu kemampuan dasar yang dibutuhkan agar seseorang dapat menggunakan teknologi secara aman dan bertanggung jawab.
WEF juga menyoroti learning agility, yaitu kemampuan untuk terus belajar dan menyesuaikan diri ketika menghadapi situasi baru.
Artinya, perusahaan tidak hanya membutuhkan orang yang sudah bisa melakukan sesuatu, tetapi juga orang yang mampu belajar ketika pekerjaannya berubah.
6. Kecerdasan Emosional dan Kolaborasi
Punya kemampuan teknis saja belum tentu cukup kalau seseorang kesulitan bekerja dengan orang lain.
WEF menyoroti kecerdasan emosional, ketahanan diri, kemampuan membangun hubungan, dan rasa ingin tahu sebagai kualitas manusia yang tetap penting ketika AI semakin banyak digunakan.
Hal ini juga sejalan dengan laporan ILO yang melihat meningkatnya kebutuhan terhadap kemampuan sosial-emosional selain kemampuan kognitif dan digital.
Dalam pekerjaan sehari-hari, kemampuan tersebut bisa terlihat dari cara seseorang menerima kritik, menghadapi perbedaan pendapat, memahami kebutuhan rekan kerja, dan tetap menyelesaikan tugas ketika situasi tidak berjalan sesuai rencana.
Editor : Inayah ChoirunisaSumber : PwC 2026, International Labour Organization (ILO)