Penemu Kretek Ternyata Pengidap Asma, Begini Awal Mula Rokok Cengkeh dari Kudus

tim solobalapan • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 15:00 WIB
Haji Djamhari, sosok yang disebut sebagai perintis rokok kretek di Kudus.
Haji Djamhari, sosok yang disebut sebagai perintis rokok kretek di Kudus.

SOLOBALAPAN.COM - Kudus, Jawa Tengah, punya sejarah panjang dengan rokok kretek. Cerita awal kemunculannya kerap dikaitkan dengan Haji Djamhari, warga Kudus yang disebut mulai mencampurkan tembakau dengan cengkeh pada akhir abad ke-19.

Sekitar tahun 1880, Djamhari dikisahkan mengalami sakit atau sesak di bagian dada. Belum diketahui secara pasti penyakit yang dideritanya, tetapi keluhan tersebut membuatnya mencoba memanfaatkan cengkeh untuk mengurangi rasa tidak nyaman.

Baca Juga: Lamalera Punya Tradisi Berburu Paus, tapi Ada Satu Jenis yang Tak Boleh Diburu

Percobaan awal dilakukan dengan mengoleskan minyak cengkeh pada bagian dada dan punggung. Dalam cerita yang berkembang, cara tersebut disebut membuat keluhannya terasa lebih ringan.

Djamhari kemudian mencoba bentuk lain. Cengkeh dirajang dan dicampur dengan tembakau. Campuran itu dibungkus menggunakan klobot atau daun jagung kering, kemudian dibakar dan diisap.

Saat dibakar, cengkeh yang terdapat dalam lintingan tersebut mengeluarkan bunyi khas. Suara “kretek-kretek” atau “kemretek” inilah yang kemudian dikaitkan dengan sebutan rokok kretek.

Baca Juga: Masih Ingat "Koin untuk Prita?" Gerakan Masyarakat yang Menghebohkan Indonesia pada 2009

Dalam sejumlah cerita sejarah, racikan Djamhari juga disebut sempat dikenal sebagai rokok yang digunakan untuk membantu meredakan keluhan sakit dada. Namun, cerita tersebut merupakan bagian dari riwayat sejarah kretek dan tidak dapat dijadikan bukti bahwa rokok dapat mengobati penyakit.

Setelah itu, kretek mulai dikenal lebih luas di Kudus. Pada awalnya, pembuatannya masih sederhana dengan proses pelintingan yang dilakukan secara manual.

Perkembangan kretek kemudian memasuki tahap baru ketika Nitisemito mulai melihat peluang dari rokok tersebut. Sekitar 1906, ia mulai menjalankan usaha kretek dengan produksi awal yang masih dalam jumlah kecil. Pesanan yang semakin banyak membuat usahanya terus berkembang.

Baca Juga: Semur Ternyata Berasal dari Istilah Belanda, Ini Asal Nama dan Cara Masaknya

Nitisemito kemudian dikenal melalui merek Tjap Bal Tiga. Sejumlah catatan sejarah menyebut merek tersebut resmi terdaftar pada 1908 dan menjadi salah satu tonggak perkembangan industri kretek di Kudus.

Dari racikan sederhana tembakau dan cengkeh, kretek kemudian berkembang menjadi industri yang jauh lebih besar. Karena itu, sejarah kretek di Kudus tidak hanya berkaitan dengan nama Nitisemito sebagai tokoh industri, tetapi juga dengan cerita Haji Djamhari yang dikaitkan dengan awal munculnya racikan tersebut. (Hanifatuz Zahra)

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
hanifatuz zahra rokok kretek haji djamhari kudus sejarah