Merayakan Hari Badak Sedunia, Badak Jawa Cuma Bisa Ditemukan di Satu Tempat

Luthfiana Sekar • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 09:36 WIB
Badak Jawa Keberadaan individu baru menjadi kabar positif bagi upaya konservasi satwa langka ini. (Pinterest)
Badak Jawa Keberadaan individu baru menjadi kabar positif bagi upaya konservasi satwa langka ini. (Pinterest)

SOLOBALAPAN.COM - Setiap 22 September diperingati sebagai Hari Badak Sedunia. Peringatan ini menjadi salah satu momen untuk meningkatkan kesadaran tentang keberadaan badak yang masih bertahan di dunia, sekaligus berbagai ancaman yang dihadapi satwa tersebut.

Saat ini terdapat lima spesies badak yang masih bertahan, yaitu badak Jawa, badak Sumatera, badak putih, badak hitam, dan badak India. Indonesia sendiri menjadi rumah bagi dua di antaranya, yakni badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) dan badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis).

Baca Juga: Sebelum Berburu Paus, Warga Lamalera Ternyata Punya Ritual untuk Memanggilnya

Namun, ada fakta menarik tentang salah satu spesies badak yang hidup di Indonesia. Badak Jawa ternyata hanya dapat ditemukan secara alami di satu tempat, yaitu Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Banten.

Dulu, wilayah persebaran badak Jawa jauh lebih luas. Satwa ini pernah ditemukan di sejumlah kawasan Asia, termasuk Myanmar, Vietnam, Malaysia, Sumatera, hingga Pulau Jawa. Kini, populasinya hanya tersisa di Semenanjung Ujung Kulon.

Kementerian Kehutanan memperkirakan populasi badak Jawa berada di kisaran 87 hingga 100 individu. Seluruh populasi tersebut berada di Taman Nasional Ujung Kulon.

Kondisi tersebut membuat TNUK memiliki peran yang sangat penting bagi keberlangsungan spesies ini. Bahkan, Balai Taman Nasional Ujung Kulon menyebut kawasan tersebut sebagai benteng terakhir konservasi badak Jawa.

Status badak Jawa juga tidak bisa dianggap sepele. Dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN), spesies ini masuk kategori Critically Endangered atau kritis, yang berarti menghadapi risiko kepunahan yang sangat tinggi di alam.

Baca Juga: Minum Soda Takut Gendut? Kenalan Dulu Sama Kombucha, Solusi Manis-Asem Buat Baju Kekecilan!

Menariknya, kabar mengenai badak Jawa pada 2026 justru membawa sedikit harapan. Pada 29 Januari 2026, kamera jebak di Blok Cigenter, Taman Nasional Ujung Kulon, merekam seekor induk badak Jawa bersama anaknya.

Rekaman tersebut menjadi temuan anakan badak Jawa pertama yang tercatat pada 2026. Anak badak yang terekam diperkirakan berusia kurang dari lima bulan dan merupakan individu baru yang belum pernah teridentifikasi sebelumnya.

Induknya diduga merupakan badak betina bernama Arum, salah satu individu yang sebelumnya sudah masuk dalam sistem pemantauan. Sementara anaknya masih terus dipantau oleh tim Taman Nasional Ujung Kulon.

Bukan hanya pada 2026. Pada 2025, tim Monitoring Badak Jawa juga berhasil mengidentifikasi tiga individu baru melalui kamera jebak dan pengecekan lapangan. Salah satunya berupa induk dan anak betina, sementara individu lainnya merupakan badak jantan remaja.

Keberadaan anak-anak badak tersebut menjadi bagian penting dalam upaya menjaga populasi karena perkembangan populasi secara alami sangat bergantung pada kemampuan badak Jawa untuk terus berkembang biak di habitatnya.

Baca Juga: Mengintip Kemewahan Kereta The Nusantara Explorer yang Katanya Mirip dengan Hotel

Meski begitu, memiliki satu habitat alami juga menjadi tantangan tersendiri. Ketika seluruh populasi suatu spesies hanya berada di satu kawasan, gangguan terhadap kawasan tersebut dapat memberikan dampak besar bagi keseluruhan populasi.

Karena alasan tersebut, pemerintah menjalankan berbagai upaya konservasi. Salah satunya adalah program translokasi untuk membentuk populasi kedua di luar habitat utama badak Jawa di Ujung Kulon.

Kementerian Kehutanan pada 2025 menjelaskan bahwa translokasi menuju Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA) disiapkan sebagai strategi untuk mengurangi risiko kepunahan, membentuk populasi kedua, sekaligus meningkatkan keragaman genetik badak Jawa.

Di habitat asalnya, pemantauan juga terus dilakukan menggunakan kamera jebak. Teknologi tersebut memungkinkan tim mengenali individu, mengetahui keberadaan induk dan anak, serta memantau perkembangan populasi tanpa harus terus-menerus melakukan kontak langsung dengan satwa.

Keberadaan badak Jawa di Ujung Kulon juga menunjukkan bagaimana perubahan persebaran suatu spesies dapat terjadi dalam waktu panjang. Satwa yang dulu memiliki wilayah persebaran luas di Asia kini hanya tersisa secara alami di satu kawasan.

Karena itu, Hari Badak Sedunia bukan hanya menjadi peringatan untuk mengenal satwa bercula tersebut. Bagi Indonesia, momentum ini juga menjadi pengingat bahwa ada satu spesies badak yang masa depannya sangat bergantung pada kelestarian satu kawasan.

Di balik kamera jebak yang merekam badak Jawa berjalan di dalam hutan Ujung Kulon, ada cerita tentang spesies yang masih berusaha bertahan dan berkembang biak. Temuan anak badak pada 2026 menjadi salah satu kabar bahwa di tengah statusnya yang kritis, kehidupan baru masih terus muncul di habitat alaminya. (Luthfiana Sekar)

Editor : Luthfiana Sekar
Sumber : Berbagai Sumber
hari badak sedunia 22 September badak jawa