SOLOBALAPAN.COM – Siang hari terasa menyengat, tetapi masuk ke rumah ternyata belum tentu langsung terasa lebih nyaman. Jendela sudah dibuka, kipas sudah menyala, tetapi udara di dalam ruangan justru terasa panas dan pengap.
Kondisi seperti ini cukup akrab bagi rumah-rumah di Indonesia, terutama ketika musim kemarau membuat cuaca lebih kering dan matahari terasa terik. BMKG sendiri memprediksi puncak musim kemarau 2026 berlangsung pada Juli–September di sejumlah wilayah Indonesia.
Lantas, bagaimana membuat rumah tetap terasa lebih sejuk tanpa harus bergantung pada pendingin ruangan?
Baca Juga: Minum Soda Takut Gendut? Kenalan Dulu Sama Kombucha, Solusi Manis-Asem Buat Baju Kekecilan!
Jangan Biarkan Udara Hanya Berputar
Salah satu kuncinya adalah sirkulasi udara. Rumah yang memiliki bukaan di lebih dari satu sisi memungkinkan udara masuk dan keluar sehingga udara panas tidak terus terperangkap di dalam.
Konsep ini dikenal sebagai ventilasi silang atau cross ventilation. Caranya sederhana: manfaatkan jendela, pintu, atau lubang ventilasi yang berada di sisi berbeda agar ada jalur bagi udara untuk bergerak.
WHO juga menyebut ventilasi silang sebagai salah satu prinsip yang dapat membantu proses pendinginan bangunan secara alami.
Jadi, membuka satu jendela saja belum tentu cukup. Kalau memungkinkan, bukalah bukaan yang berada berseberangan atau berbeda arah sehingga udara memiliki jalur masuk dan keluar.
Baca Juga: Resep Panjang Umur dari Slovakia: Manfaat Sehat di Balik Kaldu Sunday Soup
Siang Terik, Bukan Berarti Semua Jendela Harus Terbuka
Ada anggapan bahwa semakin banyak jendela dibuka, rumah akan semakin sejuk. Padahal, waktunya juga perlu diperhatikan.
Ketika udara luar sedang sangat panas dan sinar matahari langsung masuk melalui jendela, panas justru dapat ikut masuk ke dalam rumah. Karena itu, bagian rumah yang terkena paparan matahari langsung dapat diberi tirai, gorden, kerai, atau peneduh sederhana.
Untuk rumah yang menghadap matahari cukup kuat, kanopi atau teritisan juga bisa membantu mengurangi paparan langsung ke jendela dan dinding.
Sementara itu, ketika udara luar mulai lebih sejuk, bukaan dapat dimanfaatkan untuk membantu mengeluarkan udara panas yang tersimpan di dalam ruangan.
Baca Juga: 7 Cara Pandang dari Jepang untuk Membantu Menjaga Kesehatan Mental
Kipas Bukan Sekadar Dinyalakan
Kipas angin juga bisa dimanfaatkan untuk membantu pergerakan udara, bukan hanya diarahkan langsung ke tubuh.
Jika terdapat jendela atau pintu yang bisa dibuka, posisi kipas dapat diatur untuk membantu mendorong udara keluar atau menarik udara dari luar. Dengan begitu, udara di dalam ruangan tidak hanya berputar di tempat.
WHO juga merekomendasikan penggunaan bukaan pada sisi berlawanan untuk menciptakan aliran udara dan menyebut kipas yang ditempatkan di dekat jendela sebagai salah satu cara meningkatkan pergerakan udara.
Kurangi Sumber Panas di Dalam Rumah
Rumah juga bisa terasa lebih gerah karena panas tidak hanya berasal dari luar. Peralatan elektronik yang menyala terus-menerus turut menghasilkan panas, terutama jika digunakan dalam ruangan kecil dan minim ventilasi.
Lampu, televisi, komputer, hingga peralatan elektronik lain yang sedang tidak digunakan bisa dimatikan. Selain mengurangi sumber panas, kebiasaan ini juga membuat penggunaan listrik lebih efisien.
Tanaman dan area hijau di sekitar rumah juga dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih teduh. Namun, penempatannya tetap perlu memperhatikan jalur ventilasi agar tidak justru menutup bukaan rumah.
Rumah Sejuk Tak Harus Pakai AC
Pada akhirnya, membuat rumah terasa lebih nyaman selama musim kemarau tidak selalu berarti harus memasang AC. Kondisi rumah, arah datangnya matahari, jumlah bukaan, hingga bagaimana udara bergerak di dalam ruangan ikut menentukan rasa panas dan pengap.
Untuk rumah yang tidak memiliki AC, hal-hal sederhana seperti membuka jalur udara, memanfaatkan ventilasi silang, menghalangi sinar matahari langsung, dan menggunakan kipas secara tepat bisa menjadi pilihan yang lebih realistis.
Sebab, terkadang masalahnya bukan sekadar “rumah terlalu panas”, tetapi udara panas yang tidak punya jalan untuk keluar.
Editor : Inayah Choirunisa