SOLOBALAPAN.COM - Tanggal 23 September 2026 ternyata menjadi salah satu momen menarik dalam kalender astronomi. Pada tanggal tersebut, Matahari akan melintasi bidang ekuator Bumi dalam fenomena yang dikenal sebagai ekuinoks September. Peristiwa ini membuat posisi Matahari seolah-olah berada tepat di atas garis khatulistiwa.
Ekuinoks terjadi dua kali dalam setahun, sekitar Maret dan September. Pada momen tersebut, posisi Matahari berada di bidang ekuator Bumi sehingga belahan Bumi utara dan selatan mendapatkan penyinaran yang relatif lebih seimbang.
Baca Juga: Mirip Sepak Bola tapi Dimainkan di Meja, Ternyata Olahraga Ini Sudah Masuk Asian Games 2026
NASA mencatat ekuinoks September 2026 terjadi pada 23 September pukul 00.05 UTC. Jika dikonversikan ke waktu Indonesia bagian barat, momen tersebut berlangsung sekitar pukul 07.05 WIB.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi pada Bumi ketika Matahari berada tepat di atas khatulistiwa?
Hal pertama yang berkaitan dengan ekuinoks adalah perubahan panjang siang dan malam. Ketika Matahari berada di sekitar ekuator, sebagian besar wilayah Bumi mengalami durasi siang dan malam yang relatif hampir sama.
Meski begitu, bukan berarti semua tempat otomatis mendapatkan tepat 12 jam siang dan 12 jam malam. Dalam praktiknya, waktu siang dapat sedikit lebih panjang karena adanya pembiasan cahaya di atmosfer serta ukuran tampak Matahari ketika terbit dan terbenam.
Ekuinoks juga berkaitan dengan perubahan posisi semu Matahari. Sepanjang tahun, Matahari terlihat bergerak ke utara dan selatan dari perspektif pengamat di Bumi. Setelah ekuinoks September, posisi semu Matahari akan bergerak menuju belahan Bumi selatan.
Baca Juga: Sering Terlihat di Pinggir Lintasan, Ternyata Ini Tugas Marshal di MotoGP
Pergerakan tersebut berkaitan dengan perubahan musim astronomis di berbagai wilayah dunia. Di belahan Bumi utara, ekuinoks September menandai awal musim gugur. Sebaliknya, di belahan Bumi selatan, peristiwa tersebut menjadi penanda awal musim semi secara astronomis.
Indonesia memiliki kondisi yang berbeda karena berada di wilayah tropis. Ekuinoks tidak berarti Indonesia tiba-tiba memasuki musim gugur atau musim semi seperti negara-negara yang berada di lintang sedang. Indonesia tetap memiliki pola musim hujan dan kemarau yang dipengaruhi berbagai faktor atmosfer dan oseanografi.
Fenomena ekuinoks juga sering dikaitkan dengan kondisi Matahari yang berada tepat di atas suatu wilayah. Namun, ada hal yang perlu dibedakan. Ekuinoks dan hari tanpa bayangan merupakan dua fenomena yang berbeda.
Hari tanpa bayangan terjadi ketika Matahari berada tepat di atas atau sangat dekat dengan posisi zenit suatu lokasi. Akibatnya, benda yang berdiri tegak dapat memiliki bayangan yang sangat pendek atau tampak menghilang ketika Matahari mencapai kulminasi.
BMKG mencatat pada 23 September 2026, misalnya, Matahari akan berada tepat di atas Kota Pontianak pada sekitar pukul 11.35 WIB. Waktu tersebut merupakan momen kulminasi utama di lokasi tersebut.
Baca Juga: Dewa United Kudeta Puncak Klasemen Super League! Persib Bandung Tembus Lima Besar
Fenomena seperti ini dapat terjadi karena Indonesia berada di sekitar wilayah khatulistiwa dan berada di antara garis lintang 23,5 derajat lintang utara hingga 23,5 derajat lintang selatan, wilayah yang dilalui pergerakan semu tahunan Matahari.
Jadi, ketika Matahari disebut berada tepat di atas khatulistiwa pada 23 September, bukan berarti Matahari benar-benar berpindah tempat dan mendekati Bumi. Peristiwa tersebut berkaitan dengan posisi Bumi terhadap Matahari dan bagaimana posisi Matahari terlihat dari permukaan Bumi.
Kemiringan sumbu rotasi Bumi sekitar 23,5 derajat membuat posisi penyinaran Matahari berubah sepanjang tahun. Ketika Bumi mencapai posisi tertentu dalam orbitnya, Matahari terlihat berada tepat di atas bidang ekuator. Itulah yang kemudian kita kenal sebagai ekuinoks.
Peristiwa ini sebenarnya terjadi secara rutin dan bukan sesuatu yang berbahaya. Ekuinoks juga tidak secara otomatis menyebabkan suhu udara melonjak drastis atau menimbulkan gelombang panas. Kondisi suhu di suatu wilayah dipengaruhi banyak faktor lain.
Karena itu, 23 September 2026 bisa menjadi salah satu tanggal menarik untuk memperhatikan langit. Pada hari tersebut, Matahari akan melintasi bidang ekuator Bumi, posisi penyinaran antara belahan Bumi utara dan selatan menjadi relatif seimbang, dan di sejumlah wilayah Indonesia dapat terjadi kulminasi utama yang membuat bayangan benda menjadi sangat pendek.
Fenomena yang terlihat sederhana tersebut ternyata merupakan bagian dari siklus pergerakan Bumi mengelilingi Matahari yang berlangsung terus setiap tahun.(Luthfiana Sekar)
Editor : Luthfiana SekarSumber : NASA