SOLOBALAPAN.COM - Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian setelah sebuah penampakan dari udara memperlihatkan bagian kawahnya yang sekilas justru mirip telur ceplok.
Dari atas, terlihat bagian berwarna kuning di tengah yang dikelilingi warna putih sehingga bentuknya menyerupai kuning dan putih telur.
Baca Juga: Anak Orangutan Ini Tak Mau Lepas dari Induknya Saat Dievakuasi, Ternyata Bukan Sekadar Manja
Penampakan tersebut muncul setelah Gunung Anak Krakatau mengalami episode erupsi pada awal September 2026. Video yang memperlihatkan pola warna kuning-putih di kawasan kawah kemudian beredar dan membuat banyak orang penasaran dengan apa sebenarnya yang terjadi di dalam gunung api tersebut.
Kalau dilihat sekilas, bagian tengahnya memang terlihat seperti kuning telur. Sementara area putih di sekelilingnya membuat bentuk kawah tersebut semakin mirip telur ceplok yang baru dimasak.
Namun, warna tersebut ternyata sama sekali bukan berasal dari telur atau sesuatu yang sengaja berada di dalam kawah.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa penampakan tersebut berkaitan dengan proses geokimia alami di lingkungan kawah gunung api aktif.
Istilah “telur ceplok” sendiri sebenarnya bukan nama resmi dalam ilmu vulkanologi, melainkan sebutan masyarakat karena bentuknya yang menyerupai makanan tersebut.
Baca Juga: Mirip Sepak Bola tapi Dimainkan di Meja, Ternyata Olahraga Ini Sudah Masuk Asian Games 2026
Menurut penjelasan Daryono, bagian yang terlihat seperti kuning telur merupakan genangan air yang berada di bagian terendah kawah. Air tersebut kemudian berinteraksi dengan gas vulkanik, terutama senyawa sulfur atau belerang, serta batuan dan mineral yang berada di lingkungan kawah.
Interaksi tersebut kemudian menyebabkan perubahan geokimia dan menghasilkan perbedaan warna yang cukup mencolok jika dilihat dari udara. Warna kuning pada bagian tengah berkaitan dengan sulfur dan material mineral yang terbentuk atau terlarut akibat aktivitas vulkanik.
Sementara itu, bagian putih yang mengelilinginya merupakan batuan dan mineral yang mengalami alterasi akibat interaksi dengan fluida serta gas panas. Proses kimia dan pengendapan mineral di sekitar genangan tersebut akhirnya menghasilkan pola yang secara visual menyerupai putih telur.
Baca Juga: Sering Terlihat di Pinggir Lintasan, Ternyata Ini Tugas Marshal di MotoGP
Fenomena tersebut juga berkaitan dengan perubahan yang terjadi setelah episode erupsi. Sistem hidrotermal dan suplai gas di dalam kawah dapat mengalami perubahan setelah aktivitas erupsi, sehingga kondisi genangan maupun warna material di sekitarnya juga dapat berubah.
Karena itu, bentuk seperti telur ceplok yang terlihat dari udara bukan berarti ada sesuatu yang aneh atau misterius di dalam kawah. Penampakan tersebut merupakan salah satu hasil proses alami yang terjadi di lingkungan gunung api aktif.
Gunung Anak Krakatau sendiri sebelumnya mengalami episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam pada 4 hingga 6 September 2026.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat episode tersebut kemudian berakhir dan aktivitas gunung api kembali menunjukkan pola erupsi yang lebih ringan.
Meski episode erupsi menerus telah berakhir, aktivitas Gunung Anak Krakatau masih terus dipantau. Dalam evaluasi Badan Geologi per 11 September 2026, tingkat aktivitas gunung api tersebut masih berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat dan wisatawan juga diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Jadi, kalau melihat foto atau video kawah Anak Krakatau yang sekilas seperti telur ceplok, sebenarnya yang terlihat adalah perpaduan antara genangan air, sulfur, batuan, mineral, serta proses geokimia yang berlangsung setelah aktivitas vulkanik.
Bentuknya memang unik, tetapi di balik tampilannya yang mirip makanan sehari-hari tersebut terdapat proses alam yang cukup kompleks.(Luthfiana Sekar)
Editor : Luthfiana SekarSumber : Berbagai Sumber