Masih Ingat Ooglies? Ternyata Kartun Ini Punya Konsep yang Beda dari Kartun Anak pada Umumnya

Luthfiana Sekar • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 13:57 WIB
Masih ingat Ooglies? 👀 Kartun ini ternyata punya konsep yang cukup unik. Makanan dan benda sehari-hari dibuat hidup dengan teknik stop-motion dan dibiarkan melakukan berbagai kekacauan sendiri. (BBC)
Masih ingat Ooglies? 👀 Kartun ini ternyata punya konsep yang cukup unik. Makanan dan benda sehari-hari dibuat hidup dengan teknik stop-motion dan dibiarkan melakukan berbagai kekacauan sendiri. (BBC)

SOLOBALAPAN.COM - Buat yang tumbuh dengan tontonan anak-anak era 2000-an, mungkin masih ingat dengan satu kartun yang karakternya cukup berbeda dari kebanyakan animasi lainnya.

Tidak ada anak-anak yang menjadi tokoh utama, tidak ada hewan yang berbicara seperti manusia, bahkan tidak ada cerita panjang yang harus diikuti dari awal sampai akhir.

Baca Juga: Isu Reshuffle Kabinet Memanas usai OTT KPK di Kementerian ATR/BPN! Nasib Menteri Nusron Wahid di Ujung Tanduk?

Namanya Ooglies.

Kalau melihatnya sekarang, konsep kartun ini memang cukup unik. Karakternya justru berasal dari benda-benda yang biasanya ditemukan di rumah, terutama makanan dan berbagai peralatan sehari-hari.

Benda-benda tersebut kemudian diberi mata googly dan dibuat seolah-olah memiliki kehidupan sendiri.

Ooglies merupakan serial animasi stop-motion yang diproduksi BBC Scotland untuk CBBC. Serial ini pertama kali ditayangkan pada 2009 dan dibuat oleh Nick Hopkin, Tim Dann, serta Austin Low.

Konsepnya sederhana tetapi cukup berbeda. Bayangkan dapur atau rumah dalam keadaan tidak ada manusia. Dalam dunia Ooglies, benda-benda yang biasanya hanya diam di tempat seolah-olah memiliki kehidupan sendiri. Kentang, cabai, buah, peralatan rumah tangga hingga berbagai benda lainnya bisa menjadi karakter dalam cerita.

Baca Juga: Mau Liburan di Semarang? Ini 5 Rekomendasi Hotel Strategis Pusat Kota

Mereka bisa berlari, saling mengejar, bermain, melakukan aksi konyol, sampai mengalami berbagai kejadian yang sebenarnya tidak mungkin dilakukan oleh benda mati.

Yang membuatnya semakin unik adalah bentuk ceritanya. Ooglies tidak dibangun seperti serial kartun dengan satu alur cerita panjang. Setiap episode berisi sejumlah sketsa pendek yang biasanya hanya berlangsung dalam waktu singkat.

Satu kejadian bisa selesai dalam hitungan detik sebelum cerita berpindah ke karakter atau situasi lainnya. Karena itu, penonton tidak perlu mengikuti alur yang rumit untuk menikmati setiap bagian.

Ooglies juga tidak mengandalkan dialog panjang. Para karakternya lebih banyak berkomunikasi melalui gerakan, ekspresi, suara-suara lucu, serta efek suara. Hal ini membuat cerita tetap bisa dipahami meskipun karakter yang ada di dalamnya bukan manusia yang berbicara seperti dalam kartun pada umumnya.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca BMKG Hari Ini: Cuaca Berawan Hingga Hujan Dominasi Mayoritas Wilayah Indonesia

Konsep tersebut memang sengaja membuat benda-benda sehari-hari menjadi pusat perhatian.

Salah satu hal yang menarik adalah bagaimana sebuah benda yang sebenarnya biasa saja bisa terlihat seperti karakter ketika diberi mata. Kentang, misalnya, tidak lagi hanya terlihat sebagai bahan makanan.

Dalam dunia Ooglies, benda tersebut bisa memiliki kepribadian, melakukan aksi, bahkan terlibat dalam kekacauan bersama karakter lainnya.

Produksi stop-motion juga menjadi bagian penting dari keunikan serial ini. Berbeda dari animasi 2D yang dibuat dengan gambar atau animasi digital yang seluruh pergerakannya dapat dibuat melalui komputer, stop-motion menggunakan objek nyata yang digerakkan sedikit demi sedikit lalu difoto secara berurutan.

Ketika rangkaian foto tersebut diputar, benda yang sebenarnya diam terlihat seperti bergerak.

Dalam produksi Ooglies, proses tersebut tentu membutuhkan persiapan yang cukup rumit. Tobias Feltus, yang pernah menjadi production designer untuk seri Ooglies yang dibuat pada 2014, menceritakan bahwa produksi melibatkan sekitar enam animator yang bekerja di ruang khusus untuk proses pengambilan gambar stop-motion.

Berbagai properti yang terlihat sederhana di layar juga dibuat secara khusus. Feltus, misalnya, menyebut beberapa benda yang ia bangun untuk produksi seperti kotak makanan, helikopter untuk karakter Toast Soldiers, perahu dari mentega, hingga kendaraan berbentuk sepeda roda satu yang digunakan karakter Slippy Nana.

Hasil akhirnya justru membuat Ooglies terasa seperti dunia kecil yang hidup di dalam rumah.

Menariknya, konsep Ooglies juga tidak selalu dibuat untuk menjadi tontonan yang benar-benar “manis”. Beberapa adegannya menggunakan humor fisik yang cukup ekstrem. Ada karakter yang terpeleset, terjepit, tertabrak, terlempar, atau mengalami berbagai kekacauan akibat benda lain.

Semua itu dibuat sebagai slapstick, sehingga kejadian yang sebenarnya terlihat berbahaya justru menjadi bagian dari komedi.

Bahkan pada awal acara terdapat semacam peringatan keselamatan yang disampaikan narator Peter Dickson. Penonton diberi tahu bahwa aksi-aksi yang dilakukan para Ooglies dilakukan oleh “trained OOglies”, seolah-olah benda-benda tersebut benar-benar melakukan aksi berbahaya sendiri.

Serial ini awalnya memiliki dua seri yang masing-masing terdiri dari 13 episode dengan durasi sekitar 15 menit. Ooglies kemudian kembali dalam versi OOglies Funsize pada 2015 dengan format yang lebih pendek.

Jadi, kalau dulu Ooglies mungkin hanya terlihat seperti kartun aneh berisi makanan dan benda-benda yang memiliki mata, ternyata konsepnya memang sengaja dibuat berbeda.

Tidak perlu karakter manusia, dialog panjang, atau cerita yang rumit. Ooglies mengambil benda-benda yang kita temui setiap hari, memberinya mata, kemudian membayangkan apa yang mungkin terjadi jika benda-benda tersebut bisa hidup ketika tidak ada manusia yang melihat.

Itulah yang membuat Ooglies terasa unik. Kartun ini seolah mengajak penonton melihat dapur dan benda-benda di sekitar rumah dari sudut pandang yang berbeda.

Siapa sangka, kentang, cabai, pisang, peralatan dapur, hingga benda-benda rumah tangga yang biasanya hanya dianggap sebagai barang biasa bisa berubah menjadi sekumpulan karakter yang sibuk melakukan kekacauan sendiri.

Dan mungkin itulah alasan Ooglies cukup mudah diingat sampai sekarang: kartun ini tidak membuat dunia baru. Mereka justru membuat benda-benda yang sudah ada di sekitar kita terasa seperti punya dunia sendiri. (Luthfiana Sekar)

Editor : Luthfiana Sekar
Sumber : Berbagai Sumber
Ooglies kartun old animasi kartun