SOLOBALAPAN.COM – Sekarang, mencari inspirasi outfit tinggal buka Pinterest atau TikTok. Mau cari gaya Y2K, outfit kuliah, sampai referensi baju untuk kondangan, semuanya bisa muncul dalam hitungan detik.
Tapi pernah kepikiran nggak, bagaimana anak muda mencari inspirasi fashion sebelum internet ramai digunakan?
Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 2000-an, jawabannya bisa jadi adalah majalah remaja. Salah satu yang cukup lekat dengan memori tersebut adalah Majalah GADIS.
Baca Juga: Sebelum Ada Fashion Influencer, Vogue Sudah Ramal Tren Warna Sejak 1898
Sebelum Pinterest, Ada Halaman Fashion GADIS
Majalah GADIS pertama kali terbit pada 19 November 1973. Sejak awal, majalah ini memang ditujukan untuk remaja putri dan memuat berbagai topik yang dekat dengan kehidupan mereka, mulai dari sekolah, musik, film, kecantikan, hingga mode.
Fashion bukan sekadar pelengkap. Penelitian tentang Majalah GADIS periode 1999–2010 menemukan bahwa rubrik style fashion & beauty menjadi salah satu bagian yang banyak diminati. Busana seperti T-shirt, kemeja, kulot, blazer, dress, hingga denim ditampilkan dengan berbagai kombinasi gaya yang kemudian direpresentasikan oleh remaja dalam kehidupan sehari-hari.
Artinya, kalau sekarang seseorang bisa membuka Pinterest untuk mencari referensi outfit, dulu halaman majalah bisa menjalankan fungsi yang mirip.
Baca Juga: Guru dan Murid Remake Video STORM Yung Lean, Bawa Ompreng MBG hingga Jadi Sorotan di Threads
Bedanya, referensinya tidak bisa dicari dengan mengetik kata kunci. Pembaca harus menunggu majalah terbit, membelinya, lalu membolak-balik halaman untuk menemukan gaya yang disukai.
GADIS Sampul Ikut Membentuk Tren
Hal lain yang membuat GADIS begitu dekat dengan dunia fashion adalah ajang GADIS Sampul.
Ajang tersebut mulai digelar pada 1987 setelah sebelumnya GADIS pernah mengadakan pemilihan Putri Remaja Indonesia. GADIS menyebut ajang ini menjadi salah satu bagian dari perjalanan majalahnya dan melahirkan sejumlah nama yang kemudian dikenal di dunia hiburan.
Beberapa alumninya antara lain Desy Ratnasari, Lulu Tobing, Dian Sastrowardoyo, Sigi Wimala, hingga Krisdayanti. Ajang ini bukan hanya menjadi tempat mencari wajah baru, tetapi juga membuat sosok remaja di sampul majalah menjadi figur yang bisa diperhatikan pembaca.
Jadi, tren fashion masa itu tidak datang dari algoritma yang terus merekomendasikan konten. Pembaca melihat model, artis, pakaian, aksesori, dan gaya rambut melalui halaman-halaman majalah.
Bahkan, tulisan Kompas pada 2023 menggambarkan majalah remaja seperti GADIS, HAI, dan Mode sebagai pendukung tren fashion pada era 1980–1990-an. Majalah-majalah tersebut ikut menampilkan berbagai merek dan gaya berpakaian yang populer pada zamannya.
Dari Potong Halaman ke Tombol Save
Perbedaannya terasa jelas kalau dibandingkan dengan kebiasaan sekarang.
Dulu, kalau menemukan gaya yang disukai, pembaca mungkin menyimpan majalah, mencatat informasi, atau bahkan menyimpan halaman tertentu. Sekarang, satu foto outfit bisa langsung di-save, dikirim ke teman, atau dimasukkan ke board Pinterest.
Menariknya, kebutuhan dasarnya sebenarnya tidak terlalu berubah.
Anak muda tetap mencari referensi untuk menentukan ingin tampil seperti apa. Hanya medianya yang berganti: dari majalah ke blog, kemudian Instagram, Pinterest, TikTok, dan berbagai platform digital lainnya.
Karena itu, ketika membuka kembali Majalah GADIS lama, yang muncul bukan hanya kenangan terhadap sebuah bacaan. Di dalamnya ada gambaran tentang bagaimana remaja Indonesia pada masa itu mengenal tren, menemukan gaya, dan membentuk selera.
Kalau sekarang kita punya Pinterest untuk mencari inspirasi outfit, dulu mungkin cukup membuka halaman Majalah GADIS. Bedanya, dulu harus menunggu majalahnya datang. Sekarang, inspirasinya malah tidak ada habisnya.
Editor : Inayah Choirunisa