Kok Lulusan Kampus Top Bisa Lebih Mudah Masuk Firma Elite? Ternyata Ada “Sinyal” di Balik CV

Inayah Choirunisa • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 06:30 WIB
Penelitian sosiolog Lauren Rivera ungkap alasan lulusan kampus top mudah masuk firma elite. (Forbes)
Proses rekrutmen tidak hanya menilai kemampuan, melainkan "sinyal" prestise universitas hingga cultural matching. (Forbes)

SOLOBALAPAN.COM – Pernah lihat fresh graduate yang baru lulus kuliah tetapi sudah masuk perusahaan consulting, investment banking, atau firma hukum elite dengan gaji puluhan juta rupiah? Sementara itu, di tempat lain, banyak lulusan baru masih harus mengirim CV berkali-kali demi mendapatkan pekerjaan pertama.

Lalu muncul pertanyaan yang cukup mengganggu: apa mereka memang selalu lebih pintar atau lebih hebat?

Belum tentu. Setidaknya, penelitian sosiolog Lauren Rivera menunjukkan bahwa proses perekrutan di sejumlah perusahaan elite tidak hanya berkaitan dengan kemampuan kandidat. Ada hal lain yang ikut dibaca dari sebuah CV, mulai dari nama kampus sampai aktivitas yang dilakukan kandidat di luar ruang kelas.

Baca Juga: Lawu International Gamelan Festival: Tidak hanya Melestarikan Budaya, Namun Juga Merawat Alam.

Bukan Cuma Soal IPK

Lauren Rivera merupakan profesor Management & Organizations di Kellogg School of Management, Northwestern University, sekaligus profesor sosiologi. Penelitiannya banyak membahas hubungan antara proses perekrutan, ketimpangan sosial, dan bagaimana perusahaan mendefinisikan “merit” atau kualitas seorang kandidat.

Dalam penelitian yang diterbitkan pada 2011, Rivera mengamati bagaimana perusahaan jasa profesional elite menggunakan latar belakang pendidikan untuk merekrut dan menyaring kandidat. Hasilnya cukup menarik. Kredensial pendidikan menjadi salah satu kriteria yang paling sering digunakan ketika perusahaan menyaring CV.

Baca Juga: Bintang 'Queen of Tears' Kim Ji-won Rambah Genre Medical Noir di 'Doctor X'

Namun, yang menjadi perhatian bukan semata-mata apa yang dipelajari kandidat, melainkan di mana kandidat tersebut belajar.

Perusahaan yang diteliti Rivera cenderung memberikan perhatian lebih pada prestise universitas. Kandidat dari universitas yang sangat elite dapat diasosiasikan dengan kualitas tertentu, bahkan ketika penilaian tersebut tidak secara langsung didasarkan pada performa kandidat selama kuliah.

Jadi, nama kampus bisa berfungsi sebagai semacam sinyal.

Bukan berarti lulusan kampus tertentu otomatis lebih pintar. Sederhananya, bagi perusahaan yang menerima banyak CV, nama institusi dapat menjadi salah satu informasi awal untuk memilah kandidat.

Setelah Nama Kampus, Apa Lagi?

Nah, ternyata masuk kampus elite juga belum menjadi tiket otomatis.

Rivera menemukan bahwa perusahaan yang ditelitinya melakukan penyaringan berikutnya dengan melihat aktivitas ekstrakurikuler dan kegiatan di luar akademik. Beberapa aktivitas bahkan diperlakukan seperti kredensial tambahan yang bisa memberi gambaran mengenai karakter kandidat.

Di sinilah hal yang kelihatannya sepele mulai menarik.

Baca Juga: Video Selena Gomez Nangis di Instagram Live Kembali Viral, Ini Faktanya

Bayangkan dua kandidat sama-sama punya nilai bagus. Salah satunya mengisi CV dengan pengalaman organisasi, sementara kandidat lain punya pengalaman mengikuti berbagai kegiatan atau hobi yang dianggap berstatus tinggi dan membutuhkan sumber daya tertentu.

Dalam penelitian Rivera, aktivitas semacam itu bisa ikut memengaruhi bagaimana kandidat dipersepsikan. Jadi, CV ternyata tidak hanya bercerita tentang apa yang bisa kamu kerjakan, tetapi juga bisa memberi gambaran tentang siapa kamu dan lingkungan seperti apa yang membentukmu.

Ketika “Cocok” Berarti “Mirip”

Masuk ke tahap wawancara, persoalannya menjadi lebih menarik lagi.

Dalam penelitian lain yang diterbitkan pada 2012, Rivera mewawancarai 120 profesional yang terlibat dalam perekrutan di perusahaan elite bidang perbankan, consulting, dan firma hukum. Ia juga melakukan observasi terhadap proses perekrutan di salah satu perusahaan.

Temuannya menunjukkan bahwa proses hiring tidak hanya menjadi ajang mencari kandidat dengan kemampuan yang sesuai. Ada pula proses cultural matching, yaitu ketika perekrut menilai apakah kandidat terasa cocok dengan budaya dan lingkungan perusahaan.

Masalahnya, “cocok” terkadang bisa berarti memiliki kesamaan dengan orang yang merekrut.

Misalnya, kesamaan pengalaman, hobi, gaya berinteraksi, hingga cara menampilkan diri. Ketika seorang pewawancara merasa memiliki banyak kesamaan dengan kandidat, rasa nyaman tersebut dapat ikut memengaruhi penilaiannya.

Padahal, kemampuan seseorang untuk mengerjakan pekerjaan belum tentu berkaitan dengan apakah ia memiliki hobi atau latar belakang yang sama dengan pewawancaranya.

Jadi, Apakah Semua Fresh Graduate Harus dari Kampus Top?

Tidak sesederhana itu.

Penelitian Rivera memang menunjukkan adanya pengaruh prestise kampus dan kesamaan budaya dalam proses perekrutan di perusahaan elite yang ditelitinya. Namun, temuan tersebut bukan berarti lulusan kampus nonelite tidak mungkin masuk ke perusahaan-perusahaan tersebut.

Ada kandidat dari latar belakang nonelite yang tetap berhasil masuk melalui jalur tertentu, misalnya pengalaman khusus, koneksi, rekomendasi, atau kredensial lain yang membuat mereka menonjol.

Jadi, kalau kamu sudah berkali-kali mengirim CV tetapi belum mendapat panggilan, mungkin persoalannya tidak selalu sesederhana “aku kurang pintar”.

Setidaknya, riset Rivera mengajak kita melihat proses mencari kerja dari sudut lain: dalam beberapa industri, perusahaan tidak hanya menilai kemampuan yang tertulis di CV. Mereka juga membaca berbagai sinyal tentang pendidikan, pengalaman, aktivitas, bahkan kesan “cocok” dengan lingkungan mereka.

Dan dari sini muncul pertanyaan yang mungkin lebih menarik: ketika perusahaan mencari kandidat yang dianggap paling “berkualitas”, sebenarnya kualitas itu sedang diukur dari kemampuan atau dari seberapa dekat seseorang dengan gambaran kandidat ideal yang sudah mereka kenal?

Editor : Inayah Choirunisa
Rivera kandidat kampus perusahaan