SOLOBALAPAN.COM - Bagi Mohammed Aziz, buku bukan sekadar barang yang dijual. Di sela aktivitasnya sebagai penjual buku di kawasan Medina, Rabat, Maroko, ia justru menghabiskan sebagian waktunya untuk membaca.
Perjalanan Aziz bersama buku bermula dari kehidupan yang tidak mudah. Ia kehilangan orang tua saat berusia 6 tahun dan harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Baca Juga: Dari Upin & Ipin, 5 Kebiasaan Sederhana tentang Berbagi yang Masih Berarti
Saat berusia 15 tahun, Aziz tidak mampu melanjutkan pendidikan karena harga buku pelajaran terlalu mahal. Sekolahnya pun harus terhenti ketika ia masih muda.
Meski begitu, berhenti sekolah tidak membuat Aziz berhenti belajar. Ia kemudian menjadikan buku sebagai salah satu cara untuk memperoleh pengetahuan secara mandiri.
Pada 1963, Aziz mulai berjualan buku bekas di pinggir jalan. Saat itu, lapaknya masih sederhana. Ia menggelar tikar di bawah pohon dan hanya memiliki sembilan buku untuk dijual.
Dari lapak kecil tersebut, kehidupannya bersama buku terus berkembang. Beberapa tahun kemudian, Aziz memiliki toko buku di kawasan Medina, Rabat.
Baca Juga: Sering Melihat Taburan Takoyaki Menari-nari? Ternyata Dibuat dari Ikan yang Diproses Berbulan-bulan
Toko tersebut tidak hanya menjadi tempatnya mencari penghasilan. Di antara tumpukan buku, Aziz juga menghabiskan waktu untuk membaca.
Ia membaca buku sekitar 6-8 jam dalam sehari di sela aktivitas berjualan. Buku yang dibacanya pun berasal dari beberapa bahasa, seperti Arab, Prancis, Inggris dan Spanyol.
Kebiasaan itu membuat jumlah buku yang telah dibacanya terus bertambah. Aziz disebut telah membaca lebih dari 4.000 buku sepanjang hidupnya.
Angka tersebut merujuk pada jumlah buku yang telah dibaca Aziz, bukan jumlah buku yang berada di dalam tokonya. Toko miliknya sendiri memang dipenuhi berbagai buku hingga tampak seperti perpustakaan kecil.
Baca Juga: Siapa Sinden OVJ Tahun 2017 yang Dimaksud Erin Wartia? Sebut Andre Taulany Pernah Main Belakang
Aktivitas membaca dan berjualan menjadi bagian dari kesehariannya. Saat tidak melayani pembeli atau mencari buku untuk dijual, Aziz dapat kembali membaca koleksi yang ada di sekitarnya.
Pekerjaannya juga membuat Aziz terus berhubungan dengan berbagai bacaan. Ia mencari buku dari penjual lain dan menambah koleksi yang tersedia di tokonya.
Hari kerja Aziz pun cukup panjang. Ia dapat menghabiskan sekitar 12 jam sehari untuk menjalankan aktivitas di toko, sekaligus menyempatkan diri untuk membaca.
Buku yang dulu tidak mampu ia beli untuk melanjutkan pendidikan justru kemudian menjadi bagian penting dalam kehidupannya.
Baca Juga: Intip Goreng Khas Solo, Ada yang Gurih dan Ada yang Manis
Aziz menunjukkan bahwa berakhirnya pendidikan formal tidak membuat proses belajar harus berhenti. Ia terus mencari pengetahuan melalui buku yang dibacanya selama bertahun-tahun.
Kisahnya kemudian dikenal karena perpaduan antara pekerjaan dan kebiasaan membaca. Ia mencari nafkah dari buku, tetapi juga menjadikan buku sebagai jalan untuk terus belajar.
Aziz menggambarkan membaca sebagai menjalani banyak kehidupan. Setelah membaca lebih dari 4.000 buku, ia merasa telah mengenal begitu banyak kehidupan melalui cerita dan pengetahuan di dalamnya.
Baca Juga: Badai Cedera Hantam Timnas Indonesia Jelang FIFA ASEAN Cup 2026, Empat Pemain Utama Dipastikan Absen
Dari seorang anak yang harus meninggalkan sekolah pada usia 15 tahun, Aziz kemudian menghabiskan puluhan tahun kehidupannya di antara buku-buku.
Kini, Mohammed Aziz dikenal sebagai penjual buku di Rabat yang telah membaca lebih dari 4.000 buku. Kisahnya menjadi gambaran tentang bagaimana kebiasaan membaca terus ia jalani meski pendidikan formalnya harus berhenti sejak usia muda. (Hanifatuz Zahra)
Editor : Andi Aris WidiyantoSumber : Berbagai Sumber, solobalapan.com