SOLOBALAPAN.COM - Ada satu bagian dari busana adat Bali yang mungkin terlihat sederhana, tetapi tidak dipakai tanpa alasan. Saat menuju pura, perempuan Bali mengenakan selendang yang diikat melingkar di pinggang.
Selendang tersebut dikenal dengan sebutan "senteng". Penggunaannya menjadi bagian dari tata busana ketika masyarakat melakukan persembahyangan atau memasuki tempat suci.
Baca Juga: Terusir ke Bali Tanpa Penonton! Shin Tae-yong Pastikan Persija Siap Libas Java United
Berbeda dari selendang yang umumnya dikenakan sebagai pelengkap pakaian, senteng memiliki posisi pemakaian yang khas. Kain ini dililitkan pada bagian pinggang, tepat di sekitar area pusar.
Letaknya tersebut tidak hanya berkaitan dengan cara mengenakan busana. Dalam pemaknaan adat Bali, senteng menjadi simbol untuk mengingatkan seseorang agar mampu mengendalikan indra, pikiran, dan perilakunya ketika berada di tempat suci.
Makna itu berkaitan dengan konsep pengendalian diri. Saat melakukan persembahyangan, seseorang diharapkan dapat menjaga sikap dan pikirannya agar tetap tertuju pada ibadah.
Ada pula pemaknaan lain yang menghubungkan senteng dengan tali pusar atau ari-ari. Bagian tersebut dipandang sebagai pengingat hubungan manusia dengan asal kehidupannya.
Baca Juga: Ande-Ande Lumut Khas Solo, Olahan Singkong yang Sekilas Mirip Kolak
Posisi senteng di pinggang juga memiliki pemaknaan sebagai batas antara bagian tubuh atas dan bawah. Simbol tersebut kemudian dikaitkan dengan upaya menjaga kesucian diri ketika seseorang hendak melakukan persembahyangan.
Karena itu, keberadaan senteng tidak berhenti pada persoalan busana. Selendang tersebut menjadi bagian dari etika berpakaian sekaligus simbol kesiapan seseorang sebelum memasuki tempat suci.
Dalam tata busana ke pura, pakaian memang memiliki aturan dan makna masing-masing. Kebaya, kain, hingga selendang dikenakan dengan memperhatikan kesopanan sebagai bentuk penghormatan terhadap tempat suci.
Itulah sebabnya selendang yang hanya berupa selembar kain dapat memiliki posisi penting dalam busana adat Bali. Senteng menjadi pengingat bahwa memasuki pura bukan hanya soal mengenakan pakaian yang pantas, tetapi juga mempersiapkan sikap dan diri untuk bersembahyang. (Hanifatuz Zahra)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber