Noken Papua, Tas Anyaman dari Serat Alam yang Punya Nilai Budaya dan Ekonomi

tim solobalapan • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 18:06 WIB
Noken merupakan tas tradisional Papua yang dibuat secara manual dari serat tumbuhan dan menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat.(RumahEtnikPapua)
Noken merupakan tas tradisional Papua yang dibuat dari serat tumbuhan dan menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat. (RumahEtnikPapua)

SOLOBALAPAN.COM - Noken merupakan tas tradisional Papua yang dibuat dengan tangan dari serat tumbuhan. Kerajinan ini tidak hanya digunakan untuk membawa berbagai kebutuhan, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan dan kebudayaan masyarakat Papua.

Keberadaan noken bahkan pernah mendapat perhatian di dunia mode. Noken diangkat sebagai inspirasi dalam koleksi yang ditampilkan pada London Fashion Week Spring/Summer 2019.

Baca Juga: Ricky Nelson Ingatkan Persis Solo untuk Tidak Remehkan PSBS Biak di Stadion Manahan

Meski pernah tampil di panggung internasional, penggunaan noken sebenarnya telah melekat dalam kehidupan masyarakat Papua. Tas ini digunakan untuk membawa hasil kebun, kayu bakar, maupun barang kebutuhan sehari-hari.

Noken juga memiliki fungsi untuk menggendong bayi. Dalam kegiatan sosial dan adat, benda tersebut turut digunakan dalam berbagai keperluan masyarakat.

Berbeda dari tas produksi pabrik, noken dibuat secara manual. Bahan pembuatannya berasal dari serat tumbuhan yang diolah terlebih dahulu sebelum dirajut atau disimpul menjadi tas.

Bahan yang digunakan dapat berasal dari kulit kayu, daun, batang, maupun bagian tumbuhan tertentu. Jenis bahan dan teknik pembuatannya dapat berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.

Baca Juga: Buat Pecinta Astronomi, Jangan Lewatkan 22 September! Venus Bakal Bersinar Terang di Langit

Proses tersebut membutuhkan keterampilan yang tidak diperoleh secara singkat. Pengetahuan mengenai cara membuat noken diwariskan dari generasi ke generasi, terutama melalui lingkungan keluarga dan komunitas.

Pengerjaan dengan tangan membuat proses pembuatan noken membutuhkan waktu. Ukuran, bahan, motif dan teknik yang digunakan turut menentukan bentuk serta lama pengerjaannya.

Di sisi lain, kerajinan tersebut memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat. Di Nabire, Papua Tengah, misalnya, noken dari serat kayu dipasarkan mulai sekitar Rp50 ribu untuk ukuran tertentu. Noken dengan ukuran dan bahan berbeda dapat memiliki harga hingga ratusan ribu rupiah.

Noken dari serat nanas yang dibuat masyarakat Suku Mee di Nabire juga memiliki nilai jual. Harga yang tercatat berada pada kisaran Rp50 ribu hingga Rp200 ribu, bergantung pada ukuran dan motif.

Baca Juga: Rambut Monte Blitar, Wisata Religi di Lereng Kelud dengan Telaga Jernih dan Ikan Dewa

Bagi sejumlah pengrajin, kegiatan membuat noken menjadi salah satu sumber pendapatan. Kerajinan tersebut dapat dikerjakan dari rumah dan hasil penjualannya digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

Nilai ekonomi itu berjalan bersamaan dengan fungsi budaya noken. Bagi masyarakat Papua, keterampilan membuat noken bukan sekadar kemampuan menghasilkan sebuah tas, melainkan bagian dari pengetahuan yang diwariskan.

Pada 2012, UNESCO memasukkan noken dalam daftar Warisan Budaya Takbenda yang Memerlukan Perlindungan Mendesak. Penetapan tersebut menunjukkan adanya kebutuhan untuk menjaga keberlanjutan tradisi noken.

Baca Juga: Lengkapi Kuota Pemain Asing! de Red FC Resmi Rekrut Eks Gelandang Kreatif Persis Solo Dimitri Lima

Sejumlah tantangan turut dihadapi, mulai dari berkurangnya pengrajin, melemahnya pewarisan keterampilan, persaingan dengan tas produksi pabrik, hingga persoalan ketersediaan bahan baku tradisional.

Karena itu, keberadaan noken berkaitan dengan lebih dari sekadar hasil kerajinan. Di dalam proses pembuatannya terdapat pemanfaatan bahan alam, keterampilan tangan dan pengetahuan budaya yang terus diwariskan.

Noken kemudian menjadi salah satu contoh bagaimana kerajinan tradisional dapat memiliki fungsi sehari-hari sekaligus nilai ekonomi, tanpa melepaskan kaitannya dengan kebudayaan masyarakat yang melahirkannya. (Hanifatuz Zahra)

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
hanifatuz zahra Noken budaya papua kerajinan warisan budaya