Kok Makan di Pinggir Jalan Jarang Keracunan? Ternyata Ini yang Bikin MBG Berbeda

tim solobalapan • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 14:10 WIB
Ilustrasi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).(Jawa Pos)
Ilustrasi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

SOLOBALAPAN.COM - Pernah melihat orang makan di warung atau jajan di pinggir jalan lalu muncul pertanyaan, “Kok selama ini baik-baik saja?” Pertanyaan tersebut kerap muncul ketika keamanan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi perbincangan.

Makanan kaki lima memang sudah menjadi bagian dari keseharian. Mulai dari sarapan, gorengan, sampai makanan berat, semuanya mudah ditemui dan dikonsumsi masyarakat. Dari situ kemudian muncul perbandingan, mengapa makanan yang dijual bebas seolah tidak banyak menjadi perhatian, sementara makanan MBG bisa dikaitkan dengan persoalan keracunan.

Baca Juga: Uan Juicy Luicy Viral karena Sebut Sejumlah Nama Perempuan “Bungkusable”, Label Seksual Bukan Sekadar Candaan

Namun, ada hal yang sering terlewat dari perbandingan tersebut.

Bukan hanya soal apa yang dimakan, tetapi bagaimana makanan itu disiapkan dan berapa banyak orang yang akan menyantapnya.

Pedagang bisa memasak makanan untuk pembeli yang datang hari itu. Sementara dalam program MBG, makanan harus dipersiapkan dalam jumlah besar sebelum dibagikan kepada penerima di berbagai tempat.

Perbedaan jumlah inilah yang membuat persoalannya menjadi lebih rumit.

Satu dapur tidak hanya berhubungan dengan bahan makanan dan kompor. Ada bahan baku yang datang dalam jumlah besar, penyimpanan sebelum digunakan, proses pengolahan, hingga makanan matang yang harus dikemas dan dikirim.

Kalau semuanya berjalan sesuai prosedur, rangkaian tersebut tentu bukan persoalan. Yang menjadi tantangan adalah memastikan tidak ada satu titik pun yang luput dari pengawasan.

Baca Juga: Marc Marquez Juara MotoGP San Marino 2026, Jorge Martin Terpuruk Usai Sempat Memimpin

Sebab, makanan bisa saja menghadapi persoalan bukan karena bentuk atau rasanya berubah. Kontaminasi silang, misalnya, dapat terjadi ketika bahan mentah dan makanan matang tidak ditangani dengan benar. Kondisi kebersihan dapur dan peralatan juga menjadi bagian yang tidak bisa dilepaskan dari keamanan makanan.

Begitu pula dengan proses memasak.

Makanan yang sudah terlihat matang belum otomatis berarti seluruh persoalan selesai. Pengendalian suhu dan waktu pengolahan tetap diperlukan untuk menekan risiko pertumbuhan mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit.

Setelah itu, makanan masih harus menempuh perjalanan.

Makanan yang selesai dimasak perlu dikemas, disimpan sementara, kemudian didistribusikan kepada penerima. Jarak waktu antara makanan selesai dibuat dan dikonsumsi menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan.

Baca Juga: Siapa Yasin? Guru SD Pria Asal Sulawesi yang Viral Pakai Lipstik dan Bedak ke Sekolah, Kini Jadi Sorotan

Dalam pengawasan terhadap pelaksanaan MBG, persoalan seperti ini memang pernah ditemukan. Pemeriksaan pada sejumlah dapur yang mengalami kejadian luar biasa keracunan pangan menyoroti berbagai hal, mulai dari kondisi fasilitas, higiene dan sanitasi, penyimpanan bahan baku, suhu serta waktu pemasakan, pemantauan suhu, hingga distribusi makanan.

Artinya, ketika membicarakan keamanan makanan MBG, persoalannya tidak berhenti pada pertanyaan apakah makanan sudah dimasak dengan baik.

Ada perjalanan panjang sebelum satu kotak makanan sampai ke tangan penerima.

Lalu bagaimana dengan makanan pinggir jalan?

Bukan berarti makanan yang dijual pedagang kaki lima bebas dari risiko. Sama seperti makanan lainnya, keamanan tetap bergantung pada bagaimana makanan tersebut diolah dan ditangani.

Hanya saja, skala produksinya berbeda.

Baca Juga: Kenapa BBM dan Gas Melon Langka di Sulsel? Picu Antrean Panjang, Pertamina Beberkan Alasannya

Ketika satu pedagang membuat makanan dalam jumlah terbatas, jangkauan dari satu proses produksi juga relatif kecil. Sedangkan makanan yang dibuat untuk program berskala besar dapat dibagikan kepada banyak orang dari rangkaian produksi yang sama.

Itulah sebabnya ketika muncul persoalan pada makanan yang diproduksi secara massal, perhatian terhadapnya bisa menjadi jauh lebih besar.

Jadi, pertanyaan “kenapa orang makan di pinggir jalan kok tidak keracunan?” sebenarnya tidak harus berakhir pada kesimpulan bahwa makanan kaki lima lebih aman.

Justru pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa keamanan pangan sangat dipengaruhi oleh cara makanan diproduksi, ditangani, dan didistribusikan

Baca Juga: Sosok Istri Ustaz Budi Abu Muhammad Ramai Dicari Netizen, Menikah Sejak Belia, Hamil Anak ke-15 .

Pada MBG, tantangannya adalah menjaga semua proses tersebut tetap berjalan dengan baik ketika jumlah makanan yang harus disiapkan begitu besar.

Karena itu,satu kotak makanan mungkin terlihat sederhana. Tetapi ketika kotak-kotak itu harus diproduksi dalam jumlah banyak dan dibagikan kepada penerima dalam waktu yang berdekatan, menjaga keamanannya menjadi persoalan yang tidak bisa dianggap sederhana. (hanifatuz zahra)

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
bahan pangan hanifatuz zahra keamanan pangan keracunan mbg makanan bergizi gratis