Ajining Diri Saka Lathi, Ajining Raga Saka Busana, Filosofi Jawa soal Ucapan dan Cara Membawa Diri

Inayah Choirunisa • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 16:40 WIB
Filosofi Jawa ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana menekankan pentingnya menjaga ucapan dan penampilan. (M. IHSAN/RADAR SOLO)
Filosofi Jawa ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana menekankan pentingnya menjaga ucapan dan penampilan. (M. IHSAN/RADAR SOLO)

SOLOBALAPAN.COM – Pernah mendengar pepatah Jawa “ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana”? Ungkapan ini mengingatkan bahwa nilai diri seseorang dapat tercermin dari perkataannya, sementara penampilan juga menjadi salah satu hal yang diperhatikan dalam kehidupan bermasyarakat.

Secara sederhana, ajining diri saka lathi berarti harga atau nilai diri seseorang tercermin dari ucapannya. Sementara itu, ajining raga saka busana merujuk pada bagaimana kehormatan seseorang juga dapat dilihat dari cara berbusana atau berpenampilan. Makna tersebut juga dibahas dalam kajian tentang filosofi Jawa dan tercantum dalam buku Pendidikan Pancasila terbitan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Baca Juga: Mengenal Tokoh Limbuk, Punokawan Putri yang Penuh Nasihat

Namun, “busana” dalam ungkapan tersebut tidak harus dipahami sesempit pakaian yang dikenakan. Dalam kehidupan sehari-hari, cara seseorang menampilkan diri juga berkaitan dengan bagaimana ia menyesuaikan penampilan dan sikap dengan situasi yang sedang dihadapi.

Ajining Diri Saka Lathi, Nilai Diri dari Ucapan

Bagian pertama, ajining diri saka lathi, secara harfiah berkaitan dengan lathi atau lidah. Pepatah ini mengingatkan bahwa perkataan seseorang dapat memengaruhi bagaimana dirinya dipandang oleh orang lain.

Baca Juga: Peristiwa Penting di 12 September: Tragedi Berdarah Tanjung Priok hingga Gempa Dahsyat Sumatera

Orang yang terbiasa berbicara dengan sopan, menghargai lawan bicara, dan mampu menjaga perkataan akan lebih mudah mendapatkan penghormatan. Sebaliknya, ucapan yang kasar atau menyakiti orang lain juga dapat membentuk kesan tertentu terhadap orang yang mengucapkannya.

Makna tersebut terasa semakin relevan di era media sosial. Sekarang, ucapan tidak hanya keluar ketika seseorang berbicara secara langsung. Komentar, unggahan, balasan pesan, hingga percakapan di grup juga dapat menjadi bagian dari cara seseorang menunjukkan dirinya.

Baca Juga: 12 September 1959, Manusia Sengaja Menabrakkan Pesawat ke Bulan. Ternyata Ini Tujuannya

Karena itu, menjaga ucapan tidak hanya berlaku ketika sedang bertemu orang secara langsung. Apa yang kita tulis di layar pun dapat menunjukkan bagaimana kita memperlakukan orang lain.

Ajining Raga Saka Busana Bukan Soal Baju Mahal

Sementara itu, ajining raga saka busana lebih berkaitan dengan penampilan. Dalam kajian mengenai filosofi tersebut, busana dipandang sebagai salah satu bagian yang menunjukkan etika dan kesopanan seseorang.

Namun, bukan berarti pepatah tersebut menyuruh seseorang mengenakan pakaian mahal agar terlihat berharga.

Berpakaian rapi, bersih, dan sesuai dengan situasi dapat menjadi salah satu bentuk penghargaan terhadap diri sendiri maupun orang lain. Ketika menghadiri acara resmi, misalnya, seseorang tentu perlu mempertimbangkan pakaian yang dikenakannya. Begitu pula ketika berada di lingkungan yang memiliki aturan berpakaian tertentu.

Jadi, persoalannya bukan tentang berapa mahal pakaian yang dikenakan, melainkan apakah seseorang mampu memahami situasi dan menyesuaikan penampilannya.

Busana Juga Berkaitan dengan Cara Membawa Diri

Di sinilah makna pepatah tersebut bisa terasa lebih luas. Ajining raga saka busana tidak harus berhenti pada pakaian.

Cara seseorang membawa diri juga ikut membentuk kesan yang ditinggalkan. Bagaimana ia bersikap ketika bertemu orang lain, bagaimana ia menghormati orang yang lebih tua, bagaimana ia memperlakukan teman, hingga bagaimana ia menempatkan diri dalam sebuah lingkungan menjadi bagian dari cara seseorang menunjukkan dirinya.

Dengan kata lain, pakaian memang menjadi sesuatu yang pertama kali terlihat. Namun, setelah seseorang mulai berinteraksi, sikap dan perilakunya juga ikut berbicara.

Orang mungkin awalnya memperhatikan pakaian yang kita kenakan. Akan tetapi, setelah percakapan berlangsung, mereka akan lebih banyak mengenal kita melalui ucapan dan sikap.

Tetap Relevan di Kehidupan Sekarang

Pepatah Jawa ini ternyata tidak harus dipandang sebagai aturan lama yang hanya berlaku dalam kehidupan masyarakat Jawa. Nilai yang dibawanya masih dapat ditemukan dalam berbagai situasi sehari-hari.

Di lingkungan kampus, misalnya, seseorang perlu menyesuaikan cara berbicara ketika berdiskusi dengan teman dan ketika berbicara dengan dosen. Dalam dunia kerja, cara berkomunikasi dan berpenampilan juga menjadi bagian dari profesionalitas.

Begitu pula di media sosial. Seseorang mungkin tidak bertemu langsung dengan orang yang menjadi lawan bicaranya, tetapi cara menulis komentar tetap dapat memperlihatkan bagaimana ia membawa diri.

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
pepatah jawa pakaian busana ucapan cara