SOLOBALAPAN.COM - “Aku yang pink!” “Kalau aku yang ungu.” “Eh, jangan yang itu. Aku duluan!”
Kalau pernah tumbuh dengan Barbie, percakapan seperti itu rasanya familiar. Dulu, memilih Barbie bukan cuma soal mendapatkan boneka yang paling cantik.
Ada saja hal yang membuat kita merasa satu karakter lebih cocok daripada yang lain. Bisa karena warna bajunya, rambutnya, sepatunya, aksesori, bahkan sekadar karena bentuk bajunya terlihat lebih lucu.
Baca Juga: Mengapa Lidah Buaya Wajib Ada di Rumah? Ini Pilihan Manfaat utamanya
Dan kalau sedang bermain bersama teman, pilihan itu kadang bisa menjadi perkara serius. Satu orang sudah mengaku sebagai Barbie dengan gaun merah muda, yang lain buru-buru memilih warna ungu. Kalau ternyata sama-sama mau karakter yang sama, dimulailah negosiasi kecil khas anak-anak.
“Yaudah kamu yang ini, aku yang itu.”
Atau justru, “Pokoknya aku Barbie yang pink.”
Sekarang mungkin terdengar lucu. Namun saat masih kecil, rasanya memang ada kepuasan tersendiri ketika bisa menentukan pilihan sendiri.
Barbie memberikan banyak ruang untuk itu karena sejak awal memang dirancang sebagai boneka yang bisa didandani dan dimainkan dalam berbagai cerita.
Barbie pertama kali diperkenalkan pada 1959. Mattel menyebut penciptanya, Ruth Handler, terinspirasi dari putrinya yang senang bermain dengan paper doll.
Dari pengamatan tersebut muncul gagasan tentang boneka yang bisa didandani dan membantu anak mengeksplorasi berbagai kemungkinan melalui permainan.
Itulah yang kemudian membuat Barbie berkembang jauh lebih luas daripada sekadar satu boneka dengan satu penampilan.
Selama puluhan tahun, Barbie hadir dengan berbagai pakaian, gaya, profesi, teman, aksesori, hingga versi karakter yang berbeda-beda. Mattel bahkan mencatat Barbie telah memiliki lebih dari 250 profesi sepanjang sejarahnya.
Buat anak-anak, banyaknya pilihan itu bisa diterjemahkan dengan cara yang sangat sederhana: “Aku mau yang mana?”
Mungkin itulah mengapa dulu warna terasa penting.
Ada anak yang merasa Barbie berbaju pink adalah yang paling cantik. Ada yang lebih suka ungu karena terlihat berbeda. Ada juga yang tidak peduli warna dan justru memilih berdasarkan rambut atau bajunya.
Tidak ada aturan bahwa satu pilihan lebih benar daripada yang lain. Yang penting adalah Barbie yang dipilih terasa seperti “punya kita”.
Permainan kemudian berkembang dari memilih boneka menjadi membuat cerita. Barbie bisa pergi ke sekolah, bekerja, berbelanja, menikah, bepergian, tinggal di rumah impian, atau melakukan apa pun yang ada di kepala anak saat itu.
Bahkan satu boneka yang sama bisa menjalani cerita yang berbeda setiap kali dimainkan. Hari ini Barbie pergi ke pesta. Besok Barbie menjadi dokter. Lusa Barbie mungkin malah punya masalah karena Ken datang terlambat.
Di situlah nostalgia Barbie sebenarnya terasa. Yang diingat bukan cuma bentuk bonekanya, tetapi cara kita dulu membuat dunia sendiri.
Baca Juga: Chibi Maruko-chan Ternyata Terinspirasi dari Kisah Masa Kecil Sang Penulis, Lho
Menariknya, konsep tersebut memang sudah menjadi bagian dari Barbie sejak awal. Mattel menjelaskan bahwa Barbie dirancang untuk didandani dan ditata sehingga anak-anak bisa mengeksplorasi masa depan melalui permainan.
Karena itu, ketika mengingat Barbie, sebagian orang mungkin tidak langsung mengingat nama koleksi atau tahun keluarnya sebuah boneka.
Yang muncul justru kenangan sederhana: duduk di lantai, membuka pakaian boneka, menata rambutnya, lalu menentukan siapa yang mendapatkan Barbie dengan gaun paling bagus. Dan tentu saja, ada bagian paling penting: memilih peran.
“Aku jadi Barbie.” “Kalau aku jadi yang rambut cokelat.” “Jangan yang itu, itu aku.”
Lucunya, kebiasaan memilih seperti itu sebenarnya tidak benar-benar hilang ketika kita tumbuh besar. Hanya bentuknya yang berubah.
Kalau dulu kita memilih Barbie dengan baju pink atau ungu, sekarang mungkin kita memilih warna pakaian yang paling sering dipakai, desain kamar yang paling disukai, casing HP yang paling cocok, atau barang tertentu yang terasa paling menggambarkan diri sendiri. Bedanya, sekarang kita tidak lagi harus berebut boneka dengan teman. Kita sudah bisa memilih sendiri.
Mungkin itu juga yang membuat Barbie terasa begitu dekat dengan masa kecil. Ia bukan hanya tentang boneka yang memakai pakaian cantik, tetapi tentang masa ketika pilihan-pilihan kecil terasa menyenangkan.
Ketika warna pink bisa menjadi identitas, ketika satu gaun bisa menentukan siapa yang kita mainkan, dan ketika kalimat “aku yang ini” sudah cukup untuk membuat kita merasa punya dunia sendiri.
Dulu kita mungkin sibuk mengatakan, “Aku yang pink, kamu yang ungu.” Sekarang, kita mungkin sudah tidak lagi bermain Barbie. Tapi tanpa sadar, kita masih melakukan hal yang sama: memilih sesuatu yang terasa paling “aku.” (Luthfiana Sekar)
Editor : Luthfiana SekarSumber : Mattel