SOLOBALAPAN.COM - Tato kini kerap dipandang sebagai bagian dari gaya dan ekspresi diri. Namun, tradisi memberi tanda pada tubuh ternyata telah lama hidup di berbagai masyarakat dunia, dengan fungsi yang jauh lebih luas.
Ada yang menggunakannya sebagai penanda identitas, simbol kepercayaan, keberanian, hingga bagian dari tahapan kehidupan. Setiap kelompok memiliki motif, teknik, serta aturan yang berbeda. Sebagian tradisinya bahkan masih dipertahankan hingga sekarang.
Baca Juga: Perkuat Lini Belakang dan Kiper! Persis Solo Resmi Resmikan Rafa Abdurahman dan Risnanda Rafa
Di Thailand dan Kamboja, misalnya, terdapat tradisi Sak Yant. Tato tersebut menggunakan pola dan simbol tertentu yang berkaitan dengan keyakinan spiritual. Bagi sebagian masyarakat, tanda pada tubuh dipercaya memiliki hubungan dengan perlindungan dan keberuntungan.
Tradisi penandaan tubuh juga dikenal dalam masyarakat Kroat di kawasan Bosnia dan Herzegovina. Praktik yang disebut sicanje menggunakan motif salib dan pola geometris. Tanda tersebut berkaitan dengan identitas keagamaan dan budaya masyarakat yang menjalankannya.
Di Mesir, umat Koptik memiliki tradisi tato salib yang biasanya dibuat pada bagian pergelangan tangan. Tanda tersebut menjadi salah satu cara untuk menunjukkan identitas keagamaan dan telah diwariskan dalam sejumlah keluarga selama beberapa generasi.
Berbeda lagi dengan masyarakat Okinawa, Jepang. Perempuan Okinawa pada masa lalu mengenal hajichi, yakni tato pada tangan yang dibuat secara bertahap. Tanda tersebut dapat berkaitan dengan tahapan usia, kedewasaan, serta status sosial perempuan.
Baca Juga: Gula Darah Tinggi dan Sering Asam Lambung, Ada Baiknya Konsumsi Cuka Apel
Di India, masyarakat Rabari juga memiliki tradisi tato. Motif yang dibuat pada tubuh berkaitan dengan identitas komunitas serta keyakinan yang hidup di dalam masyarakatnya. Bentuk dan penempatannya pun memiliki aturan tersendiri.
Sementara itu, masyarakat Igbo di Nigeria mengenal praktik penandaan tubuh yang disebut ichi. Namun, praktik ini sebenarnya berbeda dari tato karena dilakukan dengan membuat torehan pada kulit atau scarification. Tanda tersebut dahulu dapat menunjukkan status, kehormatan, maupun kedudukan seseorang.
Di Indonesia, tradisi tato juga menjadi bagian dari kebudayaan sejumlah masyarakat Dayak. Motif yang digunakan tidak sekadar memperindah tubuh. Dalam konteks budaya tertentu, tato memiliki makna sosial dan simbolis yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat.
Baca Juga: Prompt Tren Foto 80-an Anti Gagal di ChatGPT, Siap Pakai Tanpa Ubah Wajah Asli Paling Realistis
Beranjak ke kawasan Pasifik, masyarakat Samoa memiliki tradisi tatau. Tato tradisional ini mencakup "pe'a" untuk laki-laki dan "malu" untuk perempuan. Proses pembuatannya tidak hanya menyangkut teknik, tetapi juga berkaitan dengan nilai sosial dan spiritual serta diwariskan melalui hubungan antara guru dan murid.
Tradisi penandaan tubuh juga ditemukan pada masyarakat Haida di kawasan Pacific Northwest. Motif tertentu pada tubuh dapat berkaitan dengan hubungan keluarga dan afiliasi kelompok. Karena itu, gambar yang digunakan tidak sekadar menjadi ornamen.
Baca Juga: Mengenal Sea Moss Gel, Superfood Viral Kaya Nutrisi Untuk Kesehatan Tubuh Dan Kulit
Di Papua Nugini, masyarakat Korafe juga dikenal memiliki tradisi penandaan tubuh, termasuk tato pada wajah perempuan. Tanda tersebut menjadi bagian dari penampilan tradisional yang berkaitan dengan budaya masyarakat setempat.
Beragam tradisi tersebut menunjukkan bahwa tato memiliki cerita yang berbeda di setiap tempat. Motif yang terlihat sederhana pada kulit bisa menyimpan informasi mengenai keluarga, kepercayaan, status, hingga perjalanan hidup seseorang.
Karena itu, tato tradisional dari berbagai belahan dunia tidak cukup dilihat sebagai gambar pada tubuh. Di balik setiap pola terdapat kebudayaan yang membentuknya dan, dalam sejumlah masyarakat, tradisi tersebut masih terus dijaga hingga sekarang. (Hanifatuz Zahra)
Editor : Andi Aris WidiyantoSumber : Berbagai Sumber, solobalapan.com