“Witing Tresna Jalaran Saka Kulina”, Sering Chat Tiap Hari Bisa Bikin Baper

Inayah Choirunisa • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 10:44 WIB
Kebiasaan berinteraksi harian lewat obrolan daring kini menjadi bentuk baru hadirnya rasa nyaman dan kedekatan antarindividu. (Film Gadis Kretek)
Kebiasaan berinteraksi harian lewat obrolan daring kini menjadi bentuk baru hadirnya rasa nyaman dan kedekatan antarindividu. (Film Gadis Kretek)

SOLOBALAPAN.COM – Awalnya cuma saling balas story. Lama-lama jadi sering chat, hampir setiap hari saling mengabari, sampai muncul kebiasaan mengucapkan selamat pagi atau menanyakan sudah makan belum.

Tidak ada yang secara resmi menyatakan sedang mendekati satu sama lain. Namun, ketika sehari saja tidak berkabar, rasanya ada yang kurang.

Fenomena seperti ini cukup dekat dengan kehidupan anak muda sekarang. Kedekatan tidak selalu dibangun lewat pertemuan langsung. Chat, video call, saling membagikan unggahan, hingga kebiasaan berinteraksi di media sosial juga bisa membuat dua orang semakin akrab.

Baca Juga: Efek Rumah Kaca, Indonesian Rock Indie Band Pengisi OST Film Laut Bercerita bersama Knogg

Menariknya, orang Jawa sebenarnya sudah memiliki ungkapan yang menggambarkan proses tersebut sejak lama: “witing tresna jalaran saka kulina.”

Secara sederhana, ungkapan tersebut bermakna cinta tumbuh karena terbiasa. Artinya, rasa dekat dapat muncul karena seseorang terus berinteraksi dan menjadi terbiasa dengan kehadiran orang lain.

Dari “Cuma Teman Chat” Bisa Jadi Makin Dekat

Pernah merasa awalnya biasa saja dengan seseorang, tetapi karena hampir setiap hari berkomunikasi akhirnya jadi menunggu pesan darinya?

Kebiasaan kecil seperti bertukar cerita sebelum tidur, mengirim meme, membicarakan hal-hal random, atau menjadi orang pertama yang diberi kabar bisa membuat hubungan terasa semakin dekat.

Apalagi, komunikasi digital membuat seseorang dapat hadir dalam keseharian orang lain tanpa harus berada di tempat yang sama. Pertemuan yang dahulu membutuhkan waktu dan tempat kini bisa digantikan oleh notifikasi di layar ponsel.

Baca Juga: Trailer Laut Bercerita Resmi Dirilis, Kisah Biru Laut Segera Hadir di Bioskop

Kalau dipikir-pikir, kebiasaan seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Hanya saja, cara orang menjadi “kulina” alias terbiasa dengan seseorang kini ikut berubah. Kalau dulu harus sering bertemu untuk membangun kedekatan, sekarang cukup dengan chat setiap hari, saling kirim video, atau rutin berbagi cerita lewat layar ponsel.

Ketika Chat Harian Mulai Terasa Seperti Rutinitas

Yang menarik, kedekatan seperti ini sering kali tidak muncul secara tiba-tiba.

Seseorang mungkin awalnya hanya membalas pesan karena kebetulan sedang memiliki topik pembicaraan. Besoknya kembali mengobrol. Beberapa hari kemudian mulai terbiasa saling mengirim pesan. Tanpa disadari, komunikasi tersebut berubah menjadi rutinitas.

Dari sinilah rasa nyaman dapat muncul.

Orang yang sebelumnya hanya dikenal sebagai teman ngobrol perlahan menjadi tempat bercerita, bertanya pendapat, atau sekadar mencari hiburan ketika sedang bosan.

Tidak heran jika kemudian muncul pertanyaan klasik: “Iini temen level satu atau level dua, nih?”

Apalagi ketika intensitas komunikasi sudah menyerupai hubungan romantis, tetapi keduanya tidak pernah membicarakan status hubungan.

Baca Juga: The Last Interview, Film Baru Cho Yi Hyun hingga Kim Jae Won, Ungkap Rahasia 6 Kandidat dalam Wawancara Kerja

Ternyata Filosofi Lama Masih Nyambung dengan Cara Gen Z PDKT

Di sinilah menariknya witing tresna jalaran saka kulina.

Ungkapan Jawa tersebut lahir jauh sebelum manusia mengenal WhatsApp, Instagram, dating app, atau video call. Namun, gagasan tentang rasa yang tumbuh karena terbiasa ternyata masih dapat ditemukan dalam pola hubungan anak muda saat ini.

Bentuk interaksinya saja yang berubah.

Dulu, “kulina” mungkin lebih mudah terjadi karena sering bertemu secara langsung. Sekarang, seseorang dapat menjadi bagian dari rutinitas kita hanya melalui layar ponsel.

Bahkan, kebiasaan sederhana seperti menunggu balasan chat dapat membuat keberadaan seseorang terasa semakin penting dalam keseharian.

Meski begitu, sering berkomunikasi tentu tidak otomatis membuat dua orang saling jatuh cinta. Perasaan setiap orang berbeda dan kedekatan yang sama dapat menghasilkan hubungan yang berbeda pula.

Karena itu, witing tresna jalaran saka kulina lebih tepat dipahami sebagai gambaran bahwa rasa dapat tumbuh dari kedekatan dan kebiasaan, bukan sebagai rumus bahwa sering chat pasti berujung baper.

Jadi, kalau sekarang ada seseorang yang awalnya cuma “teman chat”, tetapi perlahan menjadi orang yang paling ditunggu pesannya, orang Jawa ternyata sudah punya ungkapan untuk menggambarkan proses tersebut sejak lama: witing tresna jalaran saka kulina. (Ina)

Editor : Inayah Choirunisa
Sumber : Relevance of Javanese Unen-Unen
Chat ungkapan witing tresna