SOLOBALAPAN.COM - Anjing yang berkeliaran bebas menjadi pemandangan yang cukup umum di Bali. Di jalan, sekitar rumah hingga lingkungan desa, anjing lokal kerap terlihat berjalan tanpa tali dan tanpa pemilik di sampingnya.
Pemandangan tersebut membuat sebagian orang mengira anjing-anjing itu merupakan hewan liar atau terlantar. Padahal, banyak di antaranya masih memiliki pemilik dan tetap dirawat.
Di Bali, terdapat kebiasaan memelihara anjing dengan memberikan ruang bagi hewan tersebut untuk bergerak bebas. Anjing tidak selalu berada di dalam rumah atau terikat sepanjang hari. Mereka dapat keluar, berkeliling di lingkungan sekitar, kemudian kembali ke rumah pemiliknya.
Baca Juga: Jamin Kualitas Menu! BGN Bakal Seleksi Ketat Chef Dapur MBG, Ini Kriteria Wajibnya
Kebiasaan itu membuat anjing bisa terlihat cukup jauh dari rumah tempatnya dipelihara. Dalam sebuah penelitian, sebagian anjing bahkan diketahui dapat berkeliaran hingga sekitar satu sampai empat kilometer dari lingkungan pemiliknya. Sebanyak 79 persen pemilik yang menjadi responden juga mengaku membiarkan anjingnya bergerak bebas.
Jadi, anjing yang terlihat sendirian di jalan belum tentu tidak mempunyai tempat tinggal. Bisa saja hewan tersebut memang sedang berkeliling sebelum kembali ke rumah pemiliknya.
Keberadaan anjing juga memiliki fungsi tersendiri dalam kehidupan masyarakat Bali. Selain sebagai hewan peliharaan, anjing kerap dipelihara untuk menjaga rumah. Gonggongannya dapat menjadi tanda ketika ada orang asing yang mendekati lingkungan tempat tinggal.
Cara pandang terhadap anjing juga berkaitan dengan budaya yang berkembang di Bali. Dalam kisah Mahabharata, seekor anjing digambarkan tetap mengikuti Yudhistira dalam perjalanan terakhirnya. Kisah tersebut kemudian dikenal sebagai salah satu gambaran mengenai kesetiaan anjing.
Baca Juga: Dulu Dikenal Licik dan Suka Menipu, Kenapa Nick Wilde Akhirnya Jadi Polisi di Zootopia?
Namun, tidak semua anjing yang berkeliaran memiliki pemilik. Pendataan di Sanur terhadap 6.009 anjing menunjukkan sekitar 96,7 persen di antaranya memiliki pemilik yang dapat diidentifikasi. Sementara itu, sekitar 3,3 persen terlihat tidak memiliki pemilik.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa anjing yang berjalan bebas tidak selalu sama dengan anjing liar. Ada yang memang tidak berpemilik, tetapi ada pula yang sengaja dibiarkan berkeliaran meski tetap dirawat.
Pola tersebut juga bukan persoalan. Anjing yang bebas bergerak lebih sulit dipantau, terutama untuk vaksinasi dan kesehatan. Kondisi ini menjadi salah satu tantangan dalam pengendalian rabies di Bali.
Baca Juga: Duga Wanprestasi Soal Rumah Gono-Gini, Sarwendah Layangkan Somasi Tegas ke Ruben Onsu
Meski pola pemeliharaan anjing kini mulai berubah, kebiasaan membiarkan anjing bergerak bebas masih dapat ditemui di sejumlah wilayah Bali.
Karena itu, anjing yang terlihat berkeliaran di Bali tidak selalu berarti sedang diabaikan. Bagi sebagian masyarakat, membiarkan anjing keluar rumah merupakan bagian dari cara memelihara hewan yang telah lama dilakukan. (hanifatuz zahra)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber