SOLOBALAPAN.COM – Pernah merasa sudah terlalu lelah menghadapi seseorang, tetapi tetap bertahan karena takut dianggap jahat? Sekarang, sebagian orang justru memilih mengambil jarak, berhenti berkomunikasi, bahkan menghapus seseorang dari kehidupannya.
Pilihan tersebut kerap disebut dengan istilah cut off.
Di media sosial, istilah cut off semakin sering digunakan, terutama ketika seseorang memutuskan untuk meninggalkan hubungan yang dianggap sudah tidak sehat. Fenomena ini juga banyak dibicarakan di kalangan Gen Z yang semakin terbuka mengenai boundaries, kenyamanan emosional, dan kualitas hubungan.
Namun, apakah cut off selalu menjadi pilihan yang tepat?
Baca Juga: Jangan Cuma Dilihat Saat Halloween, Labu Kuning Punya Khasiat Ajaib
Apa Itu Cut Off?
Secara sederhana, cut off berarti memutus atau membatasi hubungan dengan seseorang. Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari mengurangi komunikasi, berhenti mengikuti akun media sosial, menghapus kontak, hingga benar-benar tidak lagi berhubungan.
Karena itu, cut off tidak selalu berarti seseorang tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan.
Ada orang yang memilih menyampaikan alasannya terlebih dahulu. Ada pula yang perlahan mengurangi interaksi karena merasa hubungan tersebut sudah tidak memberikan ruang yang sehat bagi dirinya.
Baca Juga: Apa Itu Situationship? Istilah yang Lagi Booming di Kalangan Gen Z
Dalam beberapa kasus, cut off juga dilakukan setelah seseorang berkali-kali mencoba menyampaikan keberatan tetapi masalah yang sama terus terjadi.
Kenapa Sekarang Orang Lebih Berani Cut Off?
Salah satu alasannya adalah semakin banyak orang yang menyadari pentingnya batas pribadi dalam sebuah hubungan.
Psikolog Andi Cahyadi menjelaskan bahwa meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan mental dan boundaries turut memengaruhi keberanian anak muda untuk mengambil jarak dari hubungan yang dianggap memberikan dampak negatif.
Seseorang mulai memahami bahwa memiliki teman, pasangan, atau berada dalam lingkungan tertentu bukan berarti harus selalu menerima semua perlakuan dari orang lain.
Jika batas pribadi berulang kali dilanggar, mengambil jarak dapat menjadi salah satu pilihan.
Hal ini bukan berarti seseorang tidak mampu mempertahankan hubungan. Dalam kondisi tertentu, justru menjaga jarak dapat menjadi cara untuk melindungi diri dari hubungan yang terus memberikan tekanan.
Baca Juga: Benarkah Stres bisa sebabkan rambut rontok? ini penjelasannya
Media Sosial Bikin Cut Off Makin Mudah
Perubahan cara berkomunikasi juga membuat cut off terasa lebih mudah dilakukan.
Dulu, mengakhiri hubungan mungkin membutuhkan percakapan langsung atau setidaknya proses yang lebih panjang. Sekarang, seseorang bisa mengurangi interaksi hanya dengan menggunakan beberapa fitur di media sosial.
Mulai dari mute, unfollow, restrict, hingga block dapat digunakan untuk membatasi akses seseorang terhadap kehidupan digital kita.
Menurut Andi, kemudahan teknologi tersebut memang membuat seseorang lebih mudah mengambil jarak. Namun, kemudahan ini juga perlu digunakan secara bijaksana agar cut off tidak otomatis menjadi respons setiap kali terjadi konflik.
Cut Off Beda dengan Sekadar Punya Boundaries
Ini bagian yang sering tertukar.
Memiliki boundaries tidak selalu berarti harus memutus hubungan.
Seseorang bisa menetapkan batas dengan mengatakan bahwa ada topik tertentu yang tidak ingin dibicarakan, mengurangi intensitas komunikasi, meminta waktu sendiri, atau menyampaikan perilaku apa yang membuatnya tidak nyaman.
Sementara itu, cut off merupakan langkah yang lebih jauh ketika seseorang memutuskan untuk menghentikan atau membatasi hubungan secara signifikan.
Artinya, seseorang tidak harus langsung cut off hanya karena sedang merasa kesal.
Jika persoalannya masih dapat dibicarakan, komunikasi tetap menjadi bagian penting dalam mempertahankan hubungan yang sehat.
Jangan Sampai Cut Off Jadi Respons untuk Semua Konflik
Meski meninggalkan hubungan yang tidak sehat bisa menjadi pilihan, bukan berarti setiap perbedaan harus berakhir dengan cut off.
Psikolog mengingatkan pentingnya melihat apakah masalah yang terjadi hanya berupa konflik sesaat atau sudah menjadi pola yang berulang. Keputusan yang dibuat ketika sedang emosi juga sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai keputusan terbaik.
Misalnya, berbeda pendapat dengan teman sekali bukan berarti hubungan tersebut otomatis toxic.
Sebaliknya, jika seseorang sudah berkali-kali menyampaikan batas, tetapi terus diabaikan dan hubungan tersebut justru memberikan dampak negatif, mengambil jarak bisa menjadi pilihan yang lebih masuk akal.
Jadi, persoalannya bukan sekadar “harus cut off atau tidak?”, tetapi “apa yang sebenarnya terjadi dalam hubungan tersebut?”
Pada akhirnya, meninggalkan seseorang tidak selalu berarti kita membenci orang tersebut. Begitu pula bertahan dalam sebuah hubungan tidak selalu berarti kita sedang menjadi orang yang baik.
Ada hubungan yang memang masih bisa diperbaiki melalui komunikasi. Namun, ada pula hubungan yang justru membutuhkan jarak agar masing-masing pihak dapat melanjutkan hidup dengan lebih sehat.
Karena itu, cut off sebaiknya bukan dilakukan karena sedang tren atau ingin terlihat tegas. Keputusan tersebut perlu dipikirkan berdasarkan kondisi hubungan, batas pribadi, dan dampaknya terhadap diri sendiri.
Sebab, menjadi dewasa dalam hubungan bukan berarti selalu bertahan atau selalu pergi, tetapi mampu memahami kapan sebuah hubungan perlu diperjuangkan dan kapan kita perlu memilih diri sendiri. (Ina)
Editor : Inayah Choirunisa