SOLOBALAPAN.COM – Sebelum media sosial dipenuhi fashion influencer, tren warna pakaian ternyata sudah menjadi bahan pembicaraan sejak lebih dari satu abad lalu. Salah satu buktinya dapat ditemukan dalam arsip majalah Vogue edisi 8 September 1898.
Pada masa ketika internet bahkan belum terbayangkan, Vogue sudah membahas perkembangan mode, termasuk warna dan bahan pakaian yang dianggap menarik. Edisi tersebut menunjukkan bahwa urusan memilih warna pakaian ternyata bukan hal baru dalam dunia fashion.
Salah satu artikel dalam edisi tersebut berjudul What She Wears: Silk and Wool Fabric in Hydrangea Blue. Sesuai judulnya, tulisan itu membahas kain berbahan sutra dan wol dengan warna yang disebut Hydrangea Blue.
Baca Juga: Bahaya Abu Vulkanik Bagi Tubuh,dan Cara Membersihkannya
Warna tersebut menjadi salah satu bagian dari pembahasan fashion Vogue pada masa itu. Selain membicarakan bahan pakaian, edisi 8 September 1898 juga memuat tulisan berjudul Forecast of Popular Colors atau ramalan mengenai warna-warna yang diperkirakan populer.
Menariknya, konsep tersebut terasa tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan industri fashion saat ini.
Jika sekarang masyarakat mengenal istilah tren warna melalui peragaan busana, merek pakaian, media sosial hingga influencer, lebih dari 120 tahun lalu pembaca Vogue sudah mendapatkan gambaran mengenai warna yang sedang diperhatikan dalam dunia mode melalui halaman majalah.
Baca Juga: Inilah Stasiun yang Jadi Salah Satu Pusat Transportasi di Brisbane
Bedanya tentu sangat jauh. Pada 1898, informasi fashion masih mengandalkan media cetak. Pembaca harus menunggu majalah terbit untuk mengetahui perkembangan gaya berpakaian.
Sementara sekarang, perubahan tren bisa berlangsung hanya dalam hitungan hari. Sebuah warna yang dikenakan selebritas atau muncul di media sosial dapat dengan cepat menjadi perhatian dan ditiru banyak orang.
Namun, satu hal ternyata tetap sama. Dunia fashion selalu memiliki ketertarikan terhadap warna yang dianggap sedang populer.
Baca Juga: Mengenal ETR 200: Nenek Moyang Kereta Cepat Italia yang Sudah Melaju 200 Km/Jam Sejak Perang Dunia I
Edisi Vogue pada 8 September 1898 juga memperlihatkan seperti apa gaya berpakaian pada akhir abad ke-19. Saat itu, pakaian perempuan masih identik dengan siluet yang berbeda jauh dari busana modern. Material seperti sutra dan wol menjadi bagian penting dalam pembahasan pakaian.
Arsip tersebut sekaligus menjadi gambaran bahwa majalah fashion tidak hanya berfungsi sebagai tempat melihat pakaian. Sejak masa awalnya, Vogue juga menjadi media untuk membicarakan selera, gaya hidup dan perubahan tren.
Vogue sendiri pertama kali terbit pada 1892. Artinya, ketika edisi 8 September 1898 diterbitkan, majalah tersebut baru berusia sekitar enam tahun.
Kini, arsip lama itu menjadi semacam jendela untuk melihat bagaimana dunia fashion pada masa lalu membaca perubahan selera masyarakat.
Menariknya, istilah yang digunakan mungkin berbeda dengan sekarang, tetapi idenya hampir sama. Ada warna yang sedang diminati, ada bahan yang dianggap menarik, dan ada pula perkiraan mengenai warna yang bakal populer.
Lebih dari satu abad kemudian, cara orang mengikuti tren memang berubah drastis. Namun, keinginan untuk mengetahui “warna apa yang sedang populer?” ternyata sudah ada sejak lama.
Jadi, jauh sebelum munculnya fashion influencer, media sosial dan tren yang viral di internet, pembaca pada akhir abad ke-19 sudah lebih dulu mendapatkan “ramalan” mengenai warna fashion dari halaman majalah.
Editor : Luthfiana SekarSumber : Vogue Archive