SOLOBALAPAN.COM - Di kawasan perkebunan teh Cisarua, Kabupaten Bogor, ada kisah panjang tentang seorang guru yang memilih bertahan demi pendidikan anak-anak di pelosok. Namanya Rudi Manggala Saputra.
Selama puluhan tahun, Rudi tetap mengajar meski hidup dengan keterbatasan fisik dan berstatus sebagai guru honorer. Dari perjuangannya pula, sebuah kelompok belajar sederhana perlahan berkembang hingga menjadi sekolah negeri.
Kisah tersebut bermula pada 1984. Ketika berada di kawasan Cisarua, Rudi melihat masih banyak anak di sekitar Kampung Rawa Gede dan Cikoneng yang belum mendapatkan pendidikan formal. Keinginan mereka untuk belajar sebenarnya ada, tetapi akses menuju sekolah belum mudah.
Baca Juga: Tak Main-Main! Polri Jerat 138 Tersangka Karhutla dan Usut 8 Korporasi Nakal
Melihat kondisi itu, Rudi kemudian mengumpulkan anak-anak dan membuka kelompok belajar sederhana. Awalnya, sekitar 15 anak mengikuti kegiatan tersebut. Jumlahnya kemudian terus bertambah hingga mencapai puluhan siswa.
Tempat belajar yang digunakan pun jauh dari kondisi ruang kelas seperti sekarang. Anak-anak pernah belajar di gudang atau tempat penimbangan teh di kawasan perkebunan. Meja dan kursi yang memadai belum tersedia.
Namun, keterbatasan fasilitas tidak membuat Rudi menghentikan kegiatan mengajar. Ia tetap mengajarkan kemampuan dasar kepada anak-anak, mulai dari membaca, menulis, hingga berhitung.
Baca Juga: Kecil-Kecil Cabe Rawit, Ini Khasiat Fantastis Kayu Manis Untuk Kesehatan Tubuh
Rudi juga tidak memungut biaya dari anak-anak yang belajar bersamanya. Di sisi lain, ia harus memikirkan kebutuhan hidupnya sendiri. Untuk mendapatkan penghasilan tambahan, Rudi menjalani pekerjaan lain, salah satunya sebagai juru parkir di kawasan Puncak.
Bertahun-tahun dijalani dengan kondisi tersebut. Bagi Rudi, yang terpenting saat itu adalah anak-anak di sekitar perkebunan teh tetap memiliki kesempatan untuk belajar.
Perlahan, perjuangan itu mulai mendapat perhatian dari masyarakat. Sekitar 1989, bantuan datang dan digunakan untuk menyediakan tempat belajar yang lebih layak. Kegiatan yang sebelumnya berlangsung dengan fasilitas seadanya kini memiliki ruang yang lebih nyaman.
Titik balik terjadi ketika Rudi bertemu dengan Camat Cisarua saat itu, Udin Samsudin. Setelah melihat langsung kondisi anak-anak yang belajar di kawasan perkebunan teh, sang camat ikut membantu menghimpun dukungan dari berbagai pihak.
Upaya tersebut kemudian membuahkan hasil. Dana sekitar Rp47,5 juta berhasil terkumpul untuk pembangunan gedung sekolah permanen. Rudi memilih agar pembangunan dilakukan oleh pemborong dan hasilnya adalah gedung sekolah.
Sekolah tersebut pada awalnya masih menginduk pada SD Negeri Ciburial. Beberapa tahun kemudian, perjalanan panjang itu membawa perubahan status. Berdasarkan keterangan Rudi yang diberitakan Metro Bogor, pada 1997 sekolah tersebut resmi menjadi SD Negeri Cikoneng.
Berdirinya sekolah negeri ternyata bukan akhir dari pengabdian Rudi. Ia tetap berada di sana dan mengajar sebagai guru honorer.
Setiap hari, Rudi mendampingi siswa sekolah dasar. Pengabdiannya juga berlanjut melalui pendidikan kesetaraan. Ia mengajar peserta Paket B dan Paket C agar mereka tetap memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan.
Rudi bahkan berusaha menghadirkan suasana belajar yang mendekati sekolah formal bagi peserta pendidikan kesetaraan. Mereka mengikuti pembelajaran secara rutin dan menggunakan seragam.
Semua itu dijalani Rudi dengan kondisi fisik yang tidak mudah. Ia merupakan penyandang disabilitas dan menggunakan kaki palsu untuk beraktivitas sehari-hari.
Meski begitu, kondisi tersebut tidak membuatnya meninggalkan sekolah yang sejak awal ia perjuangkan. Ia tetap datang dan mengajar anak-anak.
Puluhan tahun berlalu. Tempat belajar yang dahulu dimulai dengan belasan anak dan fasilitas seadanya kini menjadi SD Negeri Cikoneng. Namun, sekolah tersebut masih menghadapi sejumlah kebutuhan, termasuk keterbatasan jaringan internet dan fasilitas pendukung seperti perpustakaan.
Perjuangan Rudi kemudian mendapat perhatian lebih luas. Pada September 2025, ia menerima penghargaan sebagai Tokoh Inspiratif Peduli Pendidikan dalam Metropolitan Award 2025.
Apresiasi juga datang dari Pemerintah Kabupaten Bogor. Bupati Bogor Rudy Susmanto memberikan bantuan kaki palsu baru kepada Rudi. Ia juga mendapat hadiah keberangkatan umrah sebagai bentuk penghargaan atas pengabdiannya selama puluhan tahun.
Baca Juga: 5 Kebiasaan Kecil yang Bikin Hidup Terasa Lebih Ringan, Bisa Dimulai dari Sekarang
Namun, semua penghargaan itu datang jauh setelah Rudi memulai perjuangannya. Pada awalnya, ia hanya melihat anak-anak di sekitar perkebunan teh yang ingin belajar tetapi tidak memiliki akses pendidikan yang memadai.
Dari kelompok belajar kecil tanpa meja dan kursi hingga menjadi sekolah negeri, perjalanan Rudi menjadi bagian dari kisah pendidikan anak-anak di Cikoneng.
Yang membuat kisahnya terasa berbeda bukan hanya sekolah yang akhirnya berdiri, tetapi juga keputusan Rudi untuk tetap berada di sana setelah sekolah itu berdiri. Puluhan tahun berlalu, kondisi fisiknya berubah, fasilitas sekolah berkembang, tetapi keinginannya untuk mengajar anak-anak tidak ikut berhenti.(hanifatuz zahra)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber