Lebih Worth it Belanja Online atau Offline? Konsumen Saat Ini Tak Terpaku Satu Platform

Inayah Choirunisa • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 17:00 WIB
Omnichannel adalah pola belanja terintegrasi yang menghubungkan kanal online dan offline.
Omnichannel adalah pola belanja terintegrasi yang menghubungkan kanal online dan offline.

SOLOBALAPAN.COM – Pernah melihat sebuah produk di media sosial, kemudian mencari ulasannya di marketplace, datang ke toko untuk melihat barangnya secara langsung, lalu kembali membeli secara online? Kalau pernah, kamu sebenarnya sudah menjalani pola belanja yang disebut omnichannel.

Kebiasaan konsumen berpindah dari satu kanal ke kanal lain kini semakin umum. Sebelum menentukan pilihan, pembeli tidak lagi harus terpaku pada satu toko atau platform. Mereka bisa memanfaatkan berbagai kanal sekaligus sesuai kebutuhan.

Fenomena tersebut juga terlihat dari perubahan perilaku belanja masyarakat Indonesia. Lantas, apa itu omnichannel dan mengapa pola belanja ini semakin banyak digunakan?

Baca Juga: Kenapa Uang Lebih Nyaman Disimpan dalam Bentuk Emas?

Apa Itu Omnichannel?

Omnichannel adalah pendekatan yang menghubungkan berbagai kanal belanja, baik online maupun offline, dalam satu pengalaman konsumen yang saling terintegrasi.

Artinya, konsumen tidak harus menyelesaikan seluruh proses belanja di tempat yang sama. Mereka bisa menemukan produk melalui media sosial, mencari informasi lebih lanjut di situs merek, membandingkan harga di e-commerce, kemudian datang ke toko fisik untuk melihat atau mencoba produk.

Setelah itu, pembelian bahkan dapat kembali dilakukan melalui platform digital.

Baca Juga: Rock in Rio 2026 Digelar September, Festival Musik Brasil Hadirkan Deretan Musisi Dunia

Dalam laporan ANTARA, pola tersebut disebut sebagai perubahan perjalanan belanja masyarakat yang tidak lagi berlangsung dalam satu kanal. Konsumen dapat menentukan kanal berdasarkan harga, kebutuhan untuk melihat produk secara langsung, kecepatan memperoleh barang, hingga kenyamanan bertransaksi.

Konsumen Makin Sering Bandingkan Harga

Salah satu alasan konsumen berpindah-pindah kanal adalah harga. Survei GMO Research & AI terhadap 881 pengguna internet berusia 16–60 tahun di Indonesia pada April 2025 menunjukkan 30,5 persen responden terbiasa membandingkan harga dan membeli pilihan termurah.

Sementara itu, 25,7 persen responden menggunakan satu platform utama, tetapi sesekali berpindah ke platform lain. Survei KedaiKOPI terhadap 932 masyarakat kelas menengah pada Oktober 2025 juga menunjukkan 94,5 persen responden pernah membandingkan harga produk di toko fisik dengan produk serupa di e-commerce.

Kebiasaan tersebut membuat konsumen memiliki lebih banyak pertimbangan sebelum melakukan pembelian. Mereka bisa memilih toko atau platform yang memberikan kombinasi harga, promo, pelayanan, dan kenyamanan yang paling sesuai.

Setiap Kanal Punya Fungsi Berbeda

Meski belanja online semakin mudah, toko fisik tetap memiliki fungsi yang tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh layar ponsel.

Di toko, konsumen dapat melihat warna dan bentuk produk secara langsung, mencoba ukuran, memeriksa bahan, bertanya kepada staf, hingga membawa barang pulang saat itu juga. Sementara itu, kanal digital memberikan kemudahan untuk mencari berbagai pilihan produk, membaca ulasan, membandingkan harga, menggunakan voucher, dan memilih metode pembayaran maupun pengiriman.

Situs resmi merek juga dapat menjadi tempat konsumen mencari informasi mengenai koleksi terbaru, produk eksklusif, atau nilai yang ditawarkan sebuah merek.

Karena fungsi setiap kanal berbeda, konsumen pun tidak harus memilih antara belanja online atau offline. Keduanya dapat digunakan dalam satu perjalanan belanja.

Belanja Sekarang Bisa Berpindah-pindah

Contoh sederhananya dapat dilihat ketika seseorang menemukan rekomendasi sepatu melalui TikTok. Ia kemudian mencari produk tersebut di marketplace untuk melihat harga dan ulasan pembeli.

Karena masih ragu dengan ukuran atau materialnya, ia datang ke toko untuk mencobanya. Setelah mengetahui ukuran yang sesuai, ia kembali membuka marketplace dan membeli produk tersebut karena mendapatkan harga atau promo yang lebih menarik.

Pola seperti ini menjadi gambaran bagaimana konsumen memanfaatkan beberapa kanal sekaligus sebelum mengambil keputusan.

Perubahan tersebut juga membuat pelaku usaha perlu memikirkan pengalaman konsumen secara menyeluruh. Strategi omnichannel tidak hanya tentang menyediakan toko online dan offline, tetapi bagaimana keduanya dapat saling melengkapi sehingga konsumen bebas menentukan cara berbelanja yang paling nyaman.

Jadi, omnichannel bukan sekadar istilah dalam dunia e-commerce. Konsep ini menggambarkan kebiasaan belanja yang mungkin sudah sering dilakukan tanpa disadari, ketika seseorang berpindah dari media sosial, marketplace, situs merek, hingga toko fisik sebelum akhirnya memutuskan untuk checkout. (ina)

Editor : Inayah Choirunisa
kanal belanja konsumen produk