Blood Falls di Antarktika, Air Terjun Merah yang Dihuni Mikroba.

tim solobalapan • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 18:55 WIB
Blood Falls, Air Terjun Merah di Ujung Gletser Antarktika.(Instagram)
Blood Falls, Air Terjun Merah di Ujung Gletser Antarktika.

SOLOBALAPAN.COM - Antarktika tidak hanya dikenal dengan hamparan es dan suhu ekstrem. Di kawasan Taylor Glacier, terdapat fenomena yang cukup mencolok berupa aliran air berwarna merah. Fenomena tersebut dikenal sebagai Blood Falls.

Blood Falls berada di kawasan McMurdo Dry Valleys dan menjadi salah satu fenomena alam yang menarik perhatian karena warna alirannya. Dari kejauhan, cairan yang muncul di antara lapisan es itu terlihat seperti noda merah yang mengalir di permukaan gletser.

Baca Juga: Fenomena Mengerikan di Sungai Thames: Ratusan Orang Tewas dalam Tragedi Princess Alice

Meski menyerupai darah, warna tersebut sebenarnya berasal dari proses kimia alami. Air yang keluar dari bawah Taylor Glacier mengandung kadar garam yang tinggi serta zat besi. Ketika cairan tersebut mencapai permukaan dan berinteraksi dengan udara, zat besi mengalami oksidasi sehingga menghasilkan warna kemerahan yang menjadi ciri khas Blood Falls.

Cairan yang berada di bawah gletser bukan sekadar air biasa. Lingkungan tersebut memiliki kadar garam yang tinggi dan berada dalam kondisi yang sangat dingin. Karakteristik airnya juga memberikan petunjuk tentang sejarah lingkungan di kawasan tersebut.

Sistem air asin yang berada di bawah Taylor Glacier memiliki kaitan dengan lingkungan laut pada masa lampau. Air tersebut kini terperangkap di bawah lapisan es dan diperkirakan telah tersimpan selama waktu yang sangat lama. Hal ini berkaitan dengan perubahan lingkungan serta perkembangan gletser di Antarktika dari waktu ke waktu.

Baca Juga: Spirit of Progress, Kereta Futuristis yang Jadi Kebanggaan Australia pada Era 1930-an

Hal lain yang membuat Blood Falls menarik adalah adanya kehidupan mikroskopis di lingkungan tersebut. Di balik lapisan es yang gelap, dingin, dan memiliki kadar garam tinggi, ditemukan mikroorganisme yang mampu bertahan hidup dalam kondisi ekstrem.

Kehidupan di bawah gletser tersebut tidak bergantung pada cahaya matahari. Beberapa mikroorganisme mampu memperoleh energi melalui reaksi kimia yang melibatkan senyawa yang tersedia di lingkungan sekitarnya. Mekanisme ini memungkinkan mereka tetap hidup dalam kondisi yang gelap dan minim sumber daya.

Keunikan Blood Falls kemudian menjadikannya salah satu contoh lingkungan ekstrem yang menarik. Kondisi tersebut memberikan gambaran mengenai kemungkinan kehidupan di tempat lain, termasuk lingkungan di luar Bumi yang memiliki karakter serupa.

Meski dikenal sebagai air terjun, Blood Falls sebenarnya merupakan aliran air asin yang berasal dari sistem air di bawah Taylor Glacier. Air tersebut keluar melalui celah pada bagian depan gletser dan tampak berwarna merah-oranye ketika mineral besi yang terkandung di dalamnya mengalami oksidasi setelah bersentuhan dengan udara.

Baca Juga: Spirit of Progress, Kereta Futuristis yang Jadi Kebanggaan Australia pada Era 1930-an

Fenomena ini membuat Blood Falls memiliki daya tarik tersendiri. Bukan hanya karena tampilannya yang berbeda dari lanskap Antarktika, tetapi juga karena aliran tersebut membuka gambaran mengenai proses geologi, sejarah lingkungan, hingga kemampuan organisme mikroskopis bertahan dalam kondisi ekstrem.

Di balik warna merah yang terlihat sederhana, Blood Falls menyimpan proses alam yang berlangsung jauh di bawah lapisan es. Fenomena tersebut sekaligus menunjukkan bahwa lingkungan yang tampak tandus dan tidak ramah bagi kehidupan ternyata masih dapat menjadi tempat bertahannya organisme mikroskopis. (hanifatuz zahra)

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
Antarktika bloodfalls mikroba dunia sains