SOLOBALAPAN.COM — Ada satu orang yang selalu dicari ketika hari sedang buruk. Saat pekerjaan membuat stres, hubungan sedang bermasalah, tugas menumpuk, atau sekadar ingin mengeluh tanpa solusi, orang tersebut menjadi tujuan pertama untuk bercerita. Ia mungkin tidak selalu punya jawaban, tetapi entah bagaimana percakapan dengannya membuat keadaan terasa sedikit lebih ringan.
Di media sosial, sosok seperti ini sering disebut sebagai “emotional support human”.
Istilah tersebut terdengar seperti istilah psikologi karena menggunakan kata emotional support. Namun, emotional support human sebenarnya bukan diagnosis maupun istilah psikologi resmi. Sebutan ini merupakan ungkapan informal yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang dianggap memberikan dukungan emosional secara konsisten kepada orang lain.
Baca Juga: Healing Tak Lagi Sekadar Liburan, Gen Z Kini Berburu Adrenalin Lewat Arung Jeram
Apa Itu Emotional Support Human?
Secara harfiah, emotional support human dapat diterjemahkan sebagai “manusia pendukung emosional”. Dalam penggunaan sehari-hari di internet, istilah tersebut merujuk pada orang yang menjadi tempat seseorang mencari kenyamanan, didengarkan, mendapatkan dukungan, atau sekadar merasa tidak sendirian.
Sosok ini bisa berupa sahabat, pasangan, saudara, rekan kerja, bahkan seseorang yang tidak terlalu dekat tetapi selalu memberikan rasa aman ketika diajak berbicara.
Dalam penelitian psikologi, emotional support sendiri merupakan bagian dari social support. Kajian mengenai dukungan sosial membedakan dukungan emosional dari bentuk dukungan lain seperti bantuan praktis, informasi, atau pendampingan.
Sebuah kajian yang diterbitkan Journal of Health Psychology pada 2026, misalnya, mengelompokkan dukungan sosial ke dalam lima dimensi utama, salah satunya dukungan emosional yang mencakup mendengarkan dengan empati, kasih sayang, penghargaan, dan keberadaan untuk seseorang.
Bukan Sekadar Tempat Curhat
Menjadi emotional support human tidak selalu berarti harus memberikan nasihat setiap kali seseorang memiliki masalah.
Kadang dukungan justru hadir dalam bentuk sederhana. Mendengarkan cerita sampai selesai, mengatakan bahwa perasaan seseorang masuk akal, menemani ketika sedang menghadapi hari yang buruk, atau mengirim pesan untuk memastikan keadaan teman dapat menjadi bentuk dukungan emosional.
Studi terhadap mahasiswa yang diterbitkan pada 2024 juga menjelaskan bahwa dukungan emosional melibatkan hubungan emosional dengan orang lain, termasuk mendengarkan secara aktif, memberikan ketenangan, dan memberi nasihat.
Karena itu, seorang emotional support human tidak harus menjadi orang yang selalu tahu apa yang harus dilakukan. Terkadang, kehadiran dan kesediaan untuk mendengarkan justru menjadi hal yang paling dicari.
Punya Emotional Support Human Bisa Membantu?
Konsep di balik istilah ini sebenarnya memiliki dasar dalam penelitian mengenai hubungan sosial.
Hubungan dekat diketahui berkaitan dengan kesejahteraan seseorang. Para peneliti dari Carnegie Mellon University dan University of California, Santa Barbara menjelaskan bahwa hubungan yang dekat dan penuh kepedulian dapat membantu seseorang menghadapi kesulitan sekaligus mendukung proses perkembangan dan pencapaian dalam kehidupan. Dukungan dalam hubungan tersebut dapat berfungsi sebagai sumber kekuatan ketika seseorang menghadapi masalah.
Kajian sistematis yang diterbitkan oleh Psychological Bulletin pada 2025 juga menemukan adanya hubungan antara persepsi seseorang terhadap dukungan sosial dengan berbagai aspek keberfungsian, termasuk kesehatan mental. Hubungan tersebut ditemukan baik secara bersamaan maupun dalam hubungan prediktif dari waktu ke waktu.
Namun, hal itu tidak berarti seseorang harus memiliki satu “manusia pendukung emosional” yang selalu tersedia selama 24 jam.
Emotional Support Human Bukan Berarti Harus Selalu Ada
Ini menjadi bagian penting dari penggunaan istilah tersebut.
Dalam percakapan di media sosial, emotional support human sering digunakan dengan nada bercanda dan penuh kasih sayang. Namun, hubungan nyata tetap membutuhkan batasan.
Seseorang yang senang mendengarkan cerita temannya bukan berarti harus selalu siap menerima semua masalah, selalu membalas pesan, atau bertanggung jawab untuk membuat temannya merasa baik.
Bahkan, penelitian terbaru mengenai dukungan emosional menunjukkan bahwa memberikan dukungan juga dapat memiliki dampak yang berbeda bagi orang yang memberikannya.
Studi terhadap mahasiswa pada 2024 menemukan bahwa memberikan dukungan emosional dapat berkaitan dengan pemenuhan peran dan kesejahteraan emosional, tetapi penelitian tersebut juga menekankan bahwa dampaknya tidak selalu sama pada setiap orang.
Dengan kata lain, hubungan yang sehat bukan hanya tentang satu orang yang terus menjadi tempat bersandar. Dukungan idealnya dapat berlangsung dua arah.
Pada akhirnya, “emotional support human” merupakan istilah untuk menggambarkan seseorang yang memberikan rasa nyaman dan dukungan emosional dalam kehidupan orang lain. Istilah ini memang terdengar seperti istilah psikologi, tetapi penggunaannya di internet lebih bersifat populer dan tidak memiliki definisi klinis.(inayah choirunisa)
Sumber: Berbagai Sumber
Editor : Inayah Choirunisa