Terjebak Standar Sempurna Media Sosial, Generasi Z Hadapi Tantangan Penurunan Self-Esteem

Siti Putri Lestari • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 10:00 WIB
Fenomena Self-Esteem. (AI Generated)
Fenomena Self-Esteem. (AI Generated)
SOLOBALAPAN.COM - Perkembangan teknologi digital dan meningkatnya penggunaan media sosial membawa perubahan besar terhadap kehidupan Generasi Z.
Di balik kemudahan berkomunikasi dan memperoleh informasi, muncul fenomena baru berupa menurunnya tingkat self-esteem atau penghargaan terhadap diri sendiri pada sebagian anak muda.

Self-esteem merupakan cara seseorang menilai, menghargai, dan menerima dirinya sendiri. Namun, banyak Generasi Z menghadapi tantangan dalam membangun kepercayaan diri akibat tingginya paparan standar kehidupan ideal yang ditampilkan melalui media sosial.

Platform digital sering menampilkan pencapaian, penampilan, gaya hidup, hingga kesuksesan seseorang dalam bentuk yang terlihat sempurna.

Kondisi tersebut dapat memicu kebiasaan membandingkan diri (social comparison) sehingga sebagian individu merasa kurang percaya diri, tidak cukup baik, atau tertinggal dibandingkan orang lain.

Baca Juga: Arka Buka Suara dan Ancam Laporkan Vilmei Usai Dituding Nikmati Rp1,2 M, Ini Respons Sang Selebgram

Sejumlah ahli kesehatan mental menyebutkan bahwa tekanan sosial digital menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kondisi psikologis generasi muda.

Dorongan untuk mendapatkan pengakuan melalui jumlah pengikut, komentar, dan tanda suka (likes) dapat membuat seseorang lebih bergantung pada validasi eksternal dibandingkan menerima nilai dirinya sendiri.

Selain media sosial, faktor lain seperti tekanan akademik, tuntutan karier, hubungan sosial, serta ekspektasi keluarga juga dapat memengaruhi tingkat self-esteem Generasi Z.

Ketika seseorang memiliki penghargaan diri yang rendah, risiko mengalami stres, kecemasan, hingga kesulitan dalam membangun hubungan sosial dapat meningkat.

Baca Juga: 5 Manfaat Pure Matcha untuk Kulit Wajah, Bantu Cerahkan Kulit hingga Atasi Jerawat

Namun, berbagai upaya mulai dilakukan untuk meningkatkan kesehatan mental Generasi Z. Edukasi mengenai literasi digital, penerapan pola pikir positif (positive mindset), pengembangan kemampuan diri, serta dukungan dari lingkungan sekitar menjadi langkah penting dalam membangun self-esteem yang sehat.

Psikolog juga mendorong anak muda untuk memahami bahwa nilai diri tidak hanya ditentukan oleh pencapaian, penampilan, atau pengakuan orang lain. Mengenali kelebihan diri, menerima kekurangan, dan menghargai proses perkembangan pribadi menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan mental.

Fenomena self-esteem pada Generasi Z menjadi perhatian karena kelompok ini merupakan generasi yang tumbuh bersama perkembangan teknologi digital. Dengan pendekatan yang tepat, Generasi Z dapat membangun kepercayaan diri yang lebih kuat dan memiliki kemampuan menghadapi tekanan sosial di era modern. (siti putri lestari)

Editor : Andi Aris Widiyanto
Sumber : solobalapan.com
Siti putri lestari self esteem teknologi mental digital