Pernah Merasa Tidak Punya Waktu? Bisa Jadi Kamu Mengalami Time Blindness

Adi Pras • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 18:36 WIB
Ilustrasi time blindness yang membuat seseorang sulit menyadari berlalunya waktu. (AI Generated)
Ilustrasi time blindness yang membuat seseorang sulit menyadari berlalunya waktu. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM – Pernah berniat membuka ponsel sebentar sebelum tidur? Awalnya cuma ingin membalas pesan atau melihat satu video.

Namun, ketika melihat jam lagi, ternyata sudah hampir satu jam berlalu.

Hal serupa bisa terjadi saat bersiap pergi. Merasa masih punya banyak waktu, kita sempat mandi, memilih pakaian, sarapan, atau mencari barang yang lupa ditaruh di mana. Tiba-tiba waktu berangkat sudah dekat.

Pengalaman seperti itu sering disebut time blindness. Istilah ini menggambarkan keadaan ketika seseorang sulit menyadari waktu yang sedang berjalan atau memperkirakan berapa lama sebuah kegiatan akan berlangsung. Time blindness sendiri bukan diagnosis medis.

Baca Juga: Raisa Bawa Srikandi ke Panggung Pagelaran Sabang Merauke 2026

Ketika Waktu Terasa Berjalan Berbeda

Seseorang yang mengalami time blindness sebenarnya tetap tahu cara membaca jam. Ia juga tahu ada jadwal yang harus dipenuhi.

Yang sering meleset justru perkiraannya. Waktu 30 menit bisa terasa cukup panjang untuk menyelesaikan beberapa hal sekaligus, padahal kenyataannya tidak.

Misalnya, harus keluar rumah pukul 07.00. Pukul 06.30 masih terasa aman untuk mandi dan sarapan.

Baca Juga: Dongker Gelar Perayaan Musik Dan Aksi Sosial Jelang Rilis Melankolia Radikal

Belum lagi kalau harus memilih pakaian atau mencari kunci yang terselip. Tanpa terasa, waktu yang tersedia sudah habis.

Hal yang sama bisa terjadi saat mengerjakan tugas. Pekerjaan yang diperkirakan selesai dalam 30 menit ternyata baru beres setelah satu jam.

Kok Bisa Lupa Waktu?

Ada kegiatan tertentu yang memang mudah membuat seseorang tidak memperhatikan jam. Menonton serial, bermain gim, membaca, mengobrol, sampai membuka media sosial bisa membuat perhatian terserap cukup lama.

Niatnya mungkin hanya melihat satu video. Setelah selesai, muncul video lain yang menarik. Begitu seterusnya sampai baru sadar waktu sudah jauh bergeser.

Baca Juga: Ctesiphon, Jejak Ibu Kota Kekaisaran Sasania yang Kini Tinggal Reruntuhan

Hal ini juga bisa terjadi ketika seseorang sedang sangat menikmati pekerjaan atau melakukan hobi yang disukai. Perhatian begitu tertuju pada kegiatan tersebut sehingga waktu seperti tidak lagi menjadi perhatian utama.

Sebaliknya, kegiatan yang terasa membosankan bisa terasa jauh lebih lama. Menunggu kendaraan atau mengerjakan tugas yang tidak disukai, misalnya, dapat membuat beberapa menit terasa seperti waktu yang panjang.

Tandanya Bukan Cuma Sering Terlambat

Datang terlambat memang salah satu hal yang paling mudah terlihat. Namun, time blindness bisa muncul dalam kebiasaan lain.

Sering merasa deadline masih jauh adalah salah satunya. Tugas yang dikumpulkan beberapa hari lagi terasa masih aman, sehingga pekerjaan belum juga dimulai.

Baca Juga: Setelah 5 Tahun Bersama, Desta Resmi Pamit dari Vindes Corp

Ada pula yang sulit menentukan kapan harus berhenti dari satu kegiatan. Sudah tahu harus bersiap pergi, tetapi masih merasa sempat menyelesaikan satu hal lagi.

Masalahnya, “satu hal lagi” bisa berubah menjadi beberapa hal. Jadwal berikutnya pun ikut mundur.

Kesulitan memperkirakan durasi juga bisa membuat seseorang membuat jadwal terlalu padat. Beberapa pekerjaan dimasukkan sekaligus karena semuanya dianggap hanya membutuhkan waktu sebentar.

Jangan Langsung Menyebut Diri Malas

Sering menunda pekerjaan tidak selalu berarti malas. Begitu juga dengan sering terlambat.

Seseorang bisa menunda karena pekerjaannya terasa berat, membosankan, atau tidak tahu harus mulai dari mana. Sementara pada time blindness, persoalannya lebih berkaitan dengan perkiraan tentang waktu.

Baca Juga: Insidious: Out of the Further Raup USD 60,3 Juta, Debut di Posisi Kedua Box Office

Contohnya, seseorang benar-benar merasa sebuah tugas hanya membutuhkan 20 menit. Setelah dikerjakan, ternyata waktu yang dibutuhkan hampir satu jam.

Keduanya juga bisa terjadi bersamaan. Ketika deadline terasa masih lama, pekerjaan menjadi lebih mudah ditunda.

Lalu, Apakah Ini ADHD?

Time blindness memang sering dibicarakan dalam kaitannya dengan ADHD. Orang dengan ADHD dapat mengalami kesulitan dalam mengatur waktu, mempertahankan perhatian pada kegiatan tertentu, atau terlalu larut dalam aktivitas yang menarik.

Namun, sering lupa waktu bukan berarti seseorang otomatis memiliki ADHD.

Baca Juga: Hanum Mega Terseret Isu "Penitipan Uang" Gara-Gara Spekulasi Netizen, Langsung Chat Lucinta Luna unt

Kehilangan jejak waktu sesekali bisa dialami siapa saja. Apalagi ketika sedang melakukan sesuatu yang menyenangkan atau sangat menarik perhatian.

Jika masalah waktu terjadi terus-menerus sampai mengganggu kuliah, pekerjaan, tidur, atau hubungan dengan orang lain, mencari bantuan profesional bisa menjadi pilihan yang lebih tepat daripada mencoba menebak penyebabnya sendiri.

Ada Cara Supaya Waktu Lebih Terasa

Kalau sering lupa waktu, jangan hanya mengandalkan perkiraan di kepala. Gunakan bantuan yang bisa dilihat atau didengar.

Timer, misalnya, bisa dipakai untuk kegiatan yang sering membuat lupa waktu. Ingin istirahat 20 menit sebelum kembali mengerjakan tugas? Pasang timer sejak awal.

Baca Juga: Bukan Sekadar Film, Istimewa Hadirkan Enam Anak Disabilitas sebagai Pemeran Utama

Mencatat durasi kegiatan juga bisa membantu. Coba hitung berapa lama waktu yang sebenarnya dibutuhkan untuk mandi, bersiap, perjalanan, atau mengerjakan satu tugas.

Dari situ, perkiraan untuk kegiatan berikutnya bisa dibuat lebih realistis. Kalau ternyata bersiap membutuhkan 45 menit, jangan lagi memasukkan kegiatan tersebut ke dalam jadwal yang hanya menyediakan waktu 20 menit.

Pekerjaan yang terasa besar juga bisa dibagi. Daripada menargetkan “menyelesaikan tugas malam ini”, buat bagian yang lebih kecil seperti membaca materi, membuat kerangka, lalu mulai menulis.

Sediakan sedikit jarak antara satu kegiatan dengan kegiatan berikutnya. Jadwal yang terlalu rapat akan mudah berantakan ketika satu pekerjaan ternyata membutuhkan waktu lebih lama.

Baca Juga: On This Day: 11 Hal yang Terjadi pada 27 Agustus, dari Perang Tersingkat hingga HUT Jalasenastri

Kehilangan jejak waktu sesekali bukan sesuatu yang aneh. Yang perlu diperhatikan adalah ketika hal itu terlalu sering terjadi dan mulai membuat aktivitas sehari-hari ikut kacau.

Jadi, kalau selama ini sering merasa sehari berlalu begitu saja, mungkin sudah waktunya memperhatikan satu hal sederhana: sebenarnya waktu habis untuk apa, dan berapa lama setiap kegiatan benar-benar berlangsung? (Rahma Azra Calista)

Editor : Adi Pras
Rahma Azra Calista Manajemen Waktu Time Blindness adhd lifestyle