Dulu Heboh dan Meriah, Kenapa Sekarang Semua Hal Wajib Serba Netral dan Minimalis?

Rastri Rafiarum • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:27 WIB
Ilustrasi perubahan warna dunia. (AI generated)
Ilustrasi perubahan warna dunia. (AI generated)

SOLOBALAPAN.COM - Pernah merasa kalau dunia sekarang terlihat lebih “kalem” dibanding zaman dulu? Coba perhatikan benda-benda di sekitar. Mobil yang melintas di jalan didominasi warna putih, hitam, abu-abu, atau silver.

Rumah-rumah baru banyak menggunakan warna putih, cream, beige, dan cokelat muda. Begitu juga dengan pakaian yang semakin sering hadir dalam warna hitam, putih, abu-abu, navy, hingga earth tone.

Padahal, kalau melihat foto-foto dari beberapa dekade lalu, suasananya terasa jauh lebih berwarna. Mobil merah menyala, hijau, kuning, biru, hingga oranye bukan sesuatu yang aneh. Pakaian pun tidak selalu harus senada. Ada motif besar, warna mencolok, bahkan kombinasi warna yang sekarang mungkin dianggap terlalu ramai.

Hal serupa terlihat pada barang-barang di dalam rumah. Sofa bermotif, kursi plastik berwarna cerah, meja dengan warna mencolok, sampai peralatan rumah tangga dulu tidak terlalu takut tampil berbeda. Warna seolah menjadi bagian dari kepribadian sebuah benda.

Kini, banyak hal justru bergerak ke arah sebaliknya. Kita seperti memiliki kesepakatan tidak tertulis bahwa sesuatu akan terlihat lebih modern jika warnanya tidak terlalu banyak.

Rumah minimalis menjadi salah satu contohnya. Interior berwarna putih, abu-abu, beige, dan warna kayu natural sering dianggap memberikan kesan bersih, nyaman, sekaligus elegan. Furnitur dengan desain sederhana juga lebih banyak dipilih dibandingkan benda dengan bentuk dan warna yang terlalu ramai.

Hal yang sama terjadi pada pakaian. Gaya berpakaian sehari-hari semakin banyak didominasi pakaian basic yang mudah dipadukan. Kaus hitam, putih atau abu-abu, celana denim, hoodie, sneakers putih, dan warna-warna netral menjadi pilihan yang dianggap praktis.

Bahkan mobil pun seolah ikut kehilangan keberanian untuk bermain warna. Warna putih, hitam, abu-abu dan silver menjadi pemandangan yang sangat umum di jalan. Warna-warna mencolok memang masih ada, tetapi tidak sebanyak warna netral.

Lalu, kenapa kita seperti semakin takut pada warna?

Salah satu jawabannya mungkin karena minimalisme telah berubah menjadi standar estetika modern. Sesuatu yang sederhana, bersih dan tidak terlalu ramai kini sering dianggap lebih elegan. Warna netral juga lebih mudah dipadukan dengan benda lain sehingga dianggap lebih aman dan tidak cepat membosankan.

Media sosial ikut memperkuat kecenderungan tersebut. Di Instagram, Pinterest, hingga TikTok, kita semakin sering melihat rumah, pakaian, meja kerja, hingga kafe dengan konsep warna yang serupa. Beige, putih, cokelat muda, abu-abu dan warna-warna lembut menjadi begitu familiar sampai akhirnya terasa seperti standar dari sesuatu yang disebut “aesthetic”.

Ada pula alasan yang sangat praktis. Warna netral memang lebih mudah digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Baju hitam lebih gampang dipadukan. Sofa berwarna cream lebih mudah masuk ke berbagai konsep ruangan. Mobil berwarna putih atau hitam juga dianggap lebih aman ketika suatu hari hendak dijual kembali.

Namun, mungkin ada hal lain yang lebih menarik dari sekadar perubahan tren warna.

Selera manusia memang ikut berubah.

Apa yang dulu dianggap menarik karena berani dan mencolok, sekarang bisa saja dianggap terlalu ramai. Sebaliknya, sesuatu yang dulu terlihat biasa seperti warna beige atau abu-abu kini justru dianggap mewah dan modern.

Menariknya, ketika dunia terasa semakin netral, muncul pula tren yang justru mengajak orang kembali bermain dengan warna. Dopamine dressing, kebangkitan gaya Y2K, fashion retro, hingga interior penuh warna menjadi semacam perlawanan terhadap kehidupan yang terlalu seragam.

Seolah-olah setelah bertahun-tahun hidup dalam dunia putih, hitam dan beige, manusia mulai kembali merindukan sesuatu yang lebih berani.

Jadi, apakah dunia benar-benar kehilangan warna?

Mungkin tidak.

Warna-warna itu masih ada. Hanya saja, kita sekarang lebih sering memilih untuk tidak menggunakannya.

Barangkali suatu hari nanti kita akan kembali melihat jalanan dipenuhi mobil berwarna merah, kuning, hijau dan biru. Rumah-rumah tidak lagi takut menggunakan warna cerah. Orang-orang kembali mengenakan pakaian dengan kombinasi warna yang berani.

Sebab mungkin yang kita rindukan bukan sekadar warna. Kita sebenarnya sedang merindukan keberanian untuk terlihat berbeda.

Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin menyukai segala sesuatu yang seragam, sebuah benda berwarna merah menyala justru terasa jauh lebih hidup. (Rastri Rafiarum)

 

Editor : Andi Aris Widiyanto
Sumber : solobalapan.com
Rastri Rafiarum warna dunia serba hitam putih konsep minimalis dulu dan sekarang