Bukan Sekadar Perang Air, Ini Cerita di Balik Songkran Thailand

Kabun Triyatno • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 17:09 WIB
Songkran identik dengan perang air, tapi tradisi Tahun Baru Thailand ini ternyata punya makna yang jauh lebih dalam. Dari penghormatan kepada orang tua hingga kegiatan di kuil, semuanya punya cerita. (Pinterest)
Songkran identik dengan perang air, tapi tradisi Tahun Baru Thailand ini ternyata punya makna yang jauh lebih dalam. Dari penghormatan kepada orang tua hingga kegiatan di kuil, semuanya punya cerita. (Pinterest)

SOLOBALAPAN.COM - Kalau mendengar kata Songkran, hal pertama yang mungkin muncul di kepala adalah jalanan Thailand yang dipenuhi orang membawa pistol air, ember, dan selang. 

Pemandangan tersebut memang menjadi bagian dari perayaan Songkran modern. Namun, Songkran sebenarnya bukan sekadar festival perang air.

Di balik tradisi tersebut terdapat perayaan Tahun Baru tradisional Thailand yang memiliki hubungan erat dengan keluarga, agama Buddha, serta simbol pembersihan dan awal kehidupan yang baru.

Songkran berasal dari kata dalam bahasa Sanskerta saṃkrānti, yang merujuk pada perpindahan atau pergerakan.

Baca Juga: Dikenal dengan Nama Berbeda, 5 Kuliner Ini Punya Banyak Sebutan di Berbagai Daerah

Dalam konteks tradisi Thailand, Songkran berkaitan dengan pergerakan matahari menuju rasi Aries dan menandai pergantian tahun menurut kalender tradisional.

Perayaan Songkran secara umum berlangsung pada 13–15 April setiap tahun. Tanggal tersebut kemudian menjadi periode penting dalam kalender Thailand dan dikenal sebagai masa perayaan Tahun Baru tradisional.

Bagi masyarakat Thailand, Songkran bukan hanya kesempatan untuk berpesta. Momen ini secara tradisional menjadi waktu untuk berkumpul bersama keluarga, mengunjungi kuil, memberikan penghormatan kepada orang yang lebih tua, serta melakukan berbagai kegiatan keagamaan.

Karena itulah, suasana Songkran sebenarnya memiliki dua sisi: perayaan yang meriah sekaligus tradisi yang penuh makna.

Baca Juga: Sering Telat, Kenali Pola dan Mengatur Jam Makan

Air menjadi simbol paling terkenal dari Songkran. Dalam tradisi, air memiliki makna sebagai sesuatu yang membersihkan dan membawa keberuntungan untuk memasuki tahun yang baru.

Salah satu praktik tradisionalnya adalah menuangkan atau menyiramkan air secara perlahan kepada orang lain sebagai bentuk penghormatan dan doa untuk keberuntungan.

Air juga digunakan dalam kegiatan keagamaan di kuil. Patung Buddha dapat dibersihkan atau diperciki air sebagai bagian dari ritual. Masyarakat kemudian dapat meminta restu dan melakukan kegiatan keagamaan sebagai bagian dari perayaan Tahun Baru.

Dari sinilah penggunaan air dalam Songkran kemudian berkembang menjadi bentuk perayaan yang jauh lebih meriah. Kalau tradisi awalnya dilakukan dengan penuh penghormatan, bagaimana bisa berubah menjadi perang air?

Perayaan Songkran berkembang seiring perubahan kehidupan masyarakat Thailand. Tradisi menyiram air kemudian menjadi semakin populer sebagai aktivitas bersama. Air tidak lagi hanya dituangkan dengan lembut ke tangan atau patung Buddha, tetapi juga digunakan untuk saling menyiram di ruang publik.

Pada akhirnya, lahirlah bentuk Songkran yang dikenal wisatawan saat ini. Di berbagai kota, jalanan berubah menjadi lokasi pesta besar.

Orang membawa ember, pistol air, selang, dan berbagai perlengkapan lainnya untuk menyiram siapa pun yang berada di sekitar mereka.

Namun, tradisi tersebut tetap memiliki hubungan dengan simbol dasar Songkran: air sebagai lambang pembersihan dan permulaan baru.

Baca Juga: Kenali Dark Feminine Energy, Sisi Feminin Yang Ternyata Tak Selalu Lembut

Di balik keramaian di jalan, ada bagian Songkran yang jauh lebih tenang. Perayaan ini secara tradisional menjadi kesempatan bagi keluarga untuk berkumpul.

Banyak orang yang bekerja atau tinggal jauh dari kampung halaman memanfaatkan periode Songkran untuk pulang dan bertemu keluarga.

Salah satu tradisi yang dikenal adalah Rod Nam Dam Hua, yaitu ritual penghormatan kepada orang yang lebih tua. Dalam kegiatan ini, air dituangkan ke tangan orang yang lebih tua sebagai tanda penghormatan dan permohonan restu.

Jadi, ketika seseorang melihat orang Thailand saling menyiram air pada saat Songkran, ada sejarah panjang di balik penggunaan air tersebut. Bukan hanya untuk membuat orang basah.

Kegiatan keagamaan juga menjadi bagian penting dari Songkran. Masyarakat dapat mengunjungi kuil untuk memberikan persembahan, berdoa, mendengarkan ajaran agama, serta membersihkan patung Buddha. Beberapa komunitas juga mengadakan kegiatan bersama sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi dan leluhur.

Dalam konteks ini, Songkran menjadi waktu untuk membersihkan diri secara simbolis, meninggalkan hal-hal buruk dari tahun sebelumnya, dan menyambut tahun yang baru dengan harapan yang lebih baik.

Karena itu, makna Songkran tidak hanya berada di jalanan yang penuh air. Ia juga terdapat di rumah, kuil, dan keluarga.

Perkembangan pariwisata turut membuat Songkran semakin dikenal di luar Thailand. Kota-kota seperti Bangkok, Chiang Mai, Pattaya, dan Phuket kemudian menjadi tujuan wisatawan yang ingin merasakan perayaan tersebut secara langsung.

Festival yang awalnya merupakan tradisi lokal akhirnya berkembang menjadi salah satu acara budaya Thailand yang paling dikenal secara internasional. Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat tradisi, tetapi juga ikut menjadi bagian dari perayaan.

Jalan-jalan utama dapat berubah menjadi arena bermain air yang dipenuhi penduduk lokal dan wisatawan dari berbagai negara. Hal tersebut membuat Songkran memiliki wajah yang berbeda antara satu tempat dan tempat lainnya.

Baca Juga: Benarkah Sara Wijayanto Diisukan Selingkuh dengan Pendeta hingga Dicerai Demian? Ini Faktanya

Ada wilayah yang lebih menonjolkan kegiatan keagamaan dan keluarga, sementara kawasan wisata dapat menghadirkan perayaan air dalam skala yang sangat besar.

Popularitas Songkran di kalangan wisatawan terkadang membuat makna tradisionalnya terlupakan. Padahal, inti perayaan ini bukan sekadar siapa yang memiliki pistol air paling besar atau siapa yang berhasil membuat orang lain paling basah.

Songkran merupakan momen untuk menyambut tahun baru, menghormati keluarga dan orang yang lebih tua, serta melakukan berbagai kegiatan yang memiliki makna spiritual dan budaya.

Bahkan ketika perayaannya berubah menjadi pesta air besar-besaran, simbol air sebagai sesuatu yang membersihkan dan membawa keberuntungan tetap menjadi bagian dari cerita Songkran.

Pada 2023, UNESCO memasukkan Songkran in Thailand, Traditional Thai New Year Festival ke dalam daftar Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan.

UNESCO menjelaskan bahwa Songkran merupakan tradisi yang melibatkan berbagai aktivitas seperti keluarga berkumpul, memberikan penghormatan kepada orang yang lebih tua, membersihkan rumah, hingga kegiatan keagamaan.

Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa Songkran bukan hanya festival wisata. Ia merupakan bagian dari warisan budaya Thailand yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Mungkin itulah hal paling menarik dari Songkran. Satu festival bisa memiliki dua wajah yang sangat berbeda. Di satu sisi, ada keluarga yang berkumpul di rumah, orang-orang mengunjungi kuil, dan anak muda memberikan penghormatan kepada orang yang lebih tua.

Di sisi lain, ada jalanan yang penuh musik, wisatawan yang membawa pistol air, dan orang-orang yang sengaja keluar rumah hanya untuk bermain air.

Keduanya tetap menjadi bagian dari Songkran. Karena pada akhirnya, perang air hanyalah salah satu bentuk modern dari tradisi yang jauh lebih tua.

Jadi, kalau suatu hari melihat foto jalanan Thailand yang penuh orang saling menyiram air pada bulan April, jangan langsung menganggapnya sebagai pesta air biasa. Itulah cara Thailand menyambut tahun baru—dengan air, keluarga, tradisi, dan tentu saja, sedikit keributan yang membuat Songkran begitu mudah dikenali di seluruh dunia. (luthfiana sekar)

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
luthfiana sekar songkran budaya thailand lifestyle