Patah Hati, Lalu Lari: Ketika Olahraga Jadi Cara Mengalihkan Diri

Adi Pras • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 19:33 WIB

 

Ilustrasi aktivitas lari sebagai salah satu cara mengalihkan diri setelah patah hati. (AI Generated)
Ilustrasi aktivitas lari sebagai salah satu cara mengalihkan diri setelah patah hati. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM – Putus cinta tidak selalu membuat seseorang mencari keramaian. Ada yang justru mencari jalur lari, ruang gym, atau mengajak teman pergi ke gunung.

Setelah hubungan berakhir, sebagian anak muda memilih membuat tubuh tetap sibuk. Lari beberapa kilometer, latihan di gym, bersepeda, atau mendaki bisa menjadi cara untuk melewati hari ketika pikiran sedang tidak tenang.

Bukan berarti patah hatinya langsung selesai. Hanya ada kegiatan yang bisa dikerjakan ketika kepala sedang penuh.

Saat Waktu Tiba-Tiba Kosong

Yang hilang setelah putus bukan cuma pasangan. Rutinitas ikut berubah.

Sabtu yang biasanya diisi makan bersama kini kosong. Tidak ada lagi pesan yang ditunggu malam hari atau rencana akhir pekan yang dibuat berdua. Waktu luang yang sebelumnya terasa biasa saja mendadak terasa panjang.

Baca Juga: “Here’s to Forever with You”, Leonardo Edwin Resmi Melamar Catharina Benita

Seseorang mungkin bangun pada Sabtu pagi dengan keinginan untuk menghubungi mantan. Namun, sebelum membuka percakapan lama, ia memilih memakai sepatu dan keluar untuk berlari.

Rutenya tidak harus jauh. Dua atau tiga kilometer pun cukup untuk membuat pagi terisi.

Begitu pula dengan gym. Ada latihan yang harus diselesaikan dan waktu yang perlu dijaga. Saat mendaki, tujuannya lebih jelas: menyelesaikan jalur, sampai puncak, lalu kembali pulang.

Ketika hubungan sedang tidak bisa dikendalikan, kegiatan seperti itu memberi sesuatu yang lebih sederhana. Ada langkah yang bisa dihitung, latihan yang bisa diselesaikan, dan jadwal yang bisa dibuat sendiri.

Baca Juga: Prilly Latuconsina Resmi Sandang Gelar M.I.Kom, Lulus S2 dengan Predikat Summa Cum Laude

Bukan Berarti Langsung Move On

Olahraga tentu tidak membuat seseorang tiba-tiba lupa.

Seseorang bisa selesai lari pada pagi hari, lalu malamnya kembali teringat mantan. Foto lama masih ada. Lagu tertentu masih bisa membawa ingatan ke masa lalu.

Bedanya, hari tidak sepenuhnya diisi dengan hal tersebut.

Akhir pekan yang sebelumnya digunakan untuk bertemu pasangan bisa diganti dengan lari bersama teman. Minggu berikutnya, kegiatan itu dilakukan lagi. Awalnya supaya tidak terus berada di kamar, tetapi lama-lama muncul alasan lain untuk tetap melakukannya.

Baca Juga: Alamat Rumahnya Disebar, Jennifer Coppen Khawatir Keselamatan Diri dan Sang Anak

Sudah punya jadwal. Ada teman yang menunggu. Bahkan mulai ingin memperbaiki jarak lari atau mencoba rute baru.

Yang tadinya hanya cara untuk mengalihkan pikiran perlahan menjadi kebiasaan.

Dari Nongkrong ke Jalur Pendakian

Patah hati dalam cerita populer sering digambarkan dengan lagu galau, nongkrong sampai malam, pesta, atau mencari keramaian. Sekarang, ada gambaran lain yang juga mudah ditemui: sepatu lari, tas gym, dan perjalanan menuju gunung.

Bukan berarti anak muda sudah meninggalkan pesta atau semua orang memilih olahraga ketika hubungan berakhir. Cara menghadapi perpisahan tetap berbeda.

Namun, olahraga punya satu hal yang cukup membantu: jadwalnya jelas. Ada waktu latihan, ada teman yang bisa diajak, dan ada tujuan yang harus diselesaikan.

Baca Juga: Part Time Atau Kantoran? Gen Z Mulai Memilih Cara Kerja Yang Lebih Fleksibel

Lari bisa dilakukan bersama teman. Latihan di gym membuat seseorang punya kegiatan yang teratur. Perjalanan ke gunung memberi kesempatan melihat tempat baru sekaligus menghabiskan waktu bersama orang lain.

Kadang, ajakan sederhana seperti “lari sore, yuk” lebih mudah diterima daripada nasihat panjang tentang cara melupakan seseorang.

Ketika Pelarian Jadi Kebiasaan Baru

Kegiatan yang dimulai karena patah hati tidak selalu berhenti ketika perasaan mulai membaik.

Lari yang awalnya dilakukan agar tidak menghubungi mantan bisa berubah menjadi kebiasaan setiap akhir pekan. Pendakian yang awalnya hanya untuk mencari suasana baru bisa membuat seseorang mulai menyimpan daftar tempat yang ingin didatangi.

Baca Juga: Pose “Mangu” Saat Berdoa, Fadly Faisal dan Maudy Effrosina Rayakan 2 Tahun Pacaran Beda Agama

Alasannya pun berubah.

Bukan lagi karena ingin melupakan seseorang, melainkan karena aktivitas itu memang ingin terus dilakukan.

Patah hati tetap membutuhkan waktu. Ada hari ketika seseorang merasa sudah baik-baik saja, lalu tiba-tiba kembali teringat. Olahraga tidak akan menghapus bagian itu dalam semalam.

Tetapi hari-hari tersebut tetap bisa diisi dengan sesuatu.

Sabtu pagi yang dulu punya satu tujuan kini bisa dimulai dengan mengikat tali sepatu, bertemu teman, lalu berlari. Bukan untuk mengejar siapa pun. Hanya karena hari itu sudah punya kegiatan. (Rahma Azra Calista)

Editor : Adi Pras
Rahma Azra Calista patah hati olahraga Gen Z lifestyle