Mengenal Eisenhower Matrix, Saat Tak Semua Pekerjaan Harus Dikerjakan Sekaligus

Kabun Triyatno • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 17:45 WIB
Ilustrasi menyusun prioritas pekerjaan dapat membantu mengatur waktu dan fokus pada tugas yang paling penting. (AI Generated)
Ilustrasi menyusun prioritas pekerjaan dapat membantu mengatur waktu dan fokus pada tugas yang paling penting. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM – Laptop sudah menyala. Dokumen tugas sudah dibuka. Tinggal mulai mengetik.

Tapi ponsel berbunyi.

Satu pesan dibalas, lalu membuka media sosial sebentar. Setelah itu baru teringat ada tugas lain yang belum dikerjakan. Belum lagi bahan ujian minggu depan yang sama sekali belum dibaca.

Niat awalnya hanya menyelesaikan satu tugas. Yang terjadi justru sibuk berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain.

Baca Juga: Ghea Indrawari Kenakan Hijab Saat Manggung di Tasikmalaya, Warganet Ramai Puji Kecantikannya

Padahal, belum tentu semuanya harus dikerjakan malam itu.

Ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda. Ada yang masih punya waktu beberapa hari. Ada pula yang bisa menunggu.

Cara memilah pekerjaan seperti ini bisa dilakukan dengan Eisenhower Matrix.

Metode ini membagi pekerjaan berdasarkan dua hal, yaitu penting atau tidak dan mendesak atau tidak. Dari dua pertimbangan tersebut, pekerjaan dibagi menjadi empat kelompok untuk menentukan mana yang perlu didahulukan.

Baca Juga: Putra Sulung Lulus dari UGM, Pongki Barata: “Jalan Masih Panjang”

Saat deadline sudah di depan mata

Tugas yang dikumpulkan malam ini tentu berbeda dengan tugas yang baru dikumpulkan minggu depan. Begitu pula dengan ujian besok pagi dan ujian yang masih dua pekan lagi.

Pekerjaan yang penting sekaligus mendesak perlu menjadi prioritas. Tugas yang harus dikumpulkan hari itu, bahan presentasi untuk besok, atau pekerjaan dengan waktu tersisa beberapa jam tidak bisa terus ditunda.

Masalahnya muncul ketika semua pekerjaan baru disentuh saat deadline sudah dekat. Tugas yang sebenarnya sudah diberikan beberapa hari lalu akhirnya dikerjakan semalam suntuk.

Bukan hanya pekerjaannya yang terasa berat. Pikiran pun ikut penuh.

Yang masih lama jangan sampai dilupakan

Ada pekerjaan penting tetapi belum mendesak. Tugas minggu depan sering masuk ke bagian ini.

Karena waktunya masih panjang, pekerjaan mudah dipindahkan ke besok, lalu bergeser lagi ke lusa. Tanpa terasa, deadline tinggal satu atau dua hari.

Padahal, pekerjaan tidak harus langsung diselesaikan sekaligus. Mencari bahan hari ini, membuat kerangka besok, lalu mengerjakannya secara bertahap sudah cukup untuk membuatnya tetap berjalan.

Hal yang sama berlaku untuk belajar. Materi ujian yang dicicil sedikit demi sedikit akan terasa lebih ringan daripada dipelajari dalam satu malam.

Ponsel berbunyi, fokus ikut berpindah

Kelompok berikutnya adalah pekerjaan yang mendesak tetapi tidak terlalu penting.

Contohnya ketika sedang mengerjakan tugas, lalu pesan WhatsApp masuk. Teman bertanya sesuatu, grup kelas ramai, atau ada yang meminta dikirimi file.

Tidak semua pesan harus langsung dijawab. Jika tugas memiliki batas waktu lebih dekat, pesan tersebut bisa menunggu beberapa saat.

Satu pesan mungkin hanya mengambil beberapa menit. Namun, jika datang berkali-kali, fokus ikut berpindah dan pekerjaan utama kembali tertunda.

Tidak semua waktu luang perlu diisi

Kelompok terakhir adalah kegiatan tidak penting dan tidak mendesak.

Membuka media sosial tanpa tujuan, menonton video satu demi satu, atau bermain gim ketika masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan bisa masuk ke bagian ini.

Bukan berarti kegiatan tersebut harus dihilangkan. Beristirahat tetap diperlukan. Yang perlu dijaga adalah batas waktunya.

Niat membuka media sosial selama lima menit bisa berubah menjadi setengah jam. Setelah itu, tugas yang ingin dikerjakan masih belum tersentuh.

Mulai dari yang memang perlu

Menggunakan Eisenhower Matrix tidak harus rumit. Saat pekerjaan mulai terasa menumpuk, tuliskan apa saja yang sedang menunggu. Lalu lihat satu per satu: mana yang penting, mana yang mendesak, dan mana yang masih bisa menunggu.

Misalnya ada tugas yang dikumpulkan besok, persiapan presentasi minggu depan, pesan yang belum perlu dibalas, dan keinginan menonton film.

Tidak semuanya harus dikerjakan malam itu.

Tugas untuk besok menjadi prioritas. Persiapan presentasi bisa dicicil. Pesan dapat dibalas setelah tugas selesai, sedangkan film bisa ditonton ketika pekerjaan utama sudah beres.

Eisenhower Matrix tidak membuat semua pekerjaan selesai dalam sekejap. Namun, metode ini membantu kita melihat bahwa setiap pekerjaan punya waktunya sendiri.

Tidak semua hal harus dikerjakan sekarang. Yang penting, tahu mana yang perlu didahulukan dan mana yang masih bisa menunggu. (rahma azra calista)

Editor : Kabun Triyatno
Rahma Azra Calista Manajemen Waktu mahasiswa produktivitas kuliah