Singapura, Kota yang Hampir Tidak Pernah Kehilangan Jejak Masa Lalunya

Kabun Triyatno • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 08:05 WIB
Di tengah gedung pencakar langit dan wajah modern Singapura, Chinatown, Little India, hingga Kampong Glam masih menyimpan jejak panjang masa lalu. (Pinterest)
Di tengah gedung pencakar langit dan wajah modern Singapura, Chinatown, Little India, hingga Kampong Glam masih menyimpan jejak panjang masa lalu. (Pinterest)

SOLOBALAPAN.COM - Singapura sering digambarkan sebagai salah satu kota paling modern di Asia. Gedung pencakar langit memenuhi kawasan pusat bisnis, kereta bawah tanah menghubungkan berbagai sudut kota, sementara bangunan futuristik seperti Marina Bay Sands dan Gardens by the Bay menjadi bagian dari wajah Singapura yang dikenal dunia.

Namun, di tengah perkembangan tersebut, Singapura masih menyimpan jejak masa lalunya.

Tidak jauh dari kawasan gedung-gedung modern, pengunjung masih bisa menemukan deretan shophouse tua di Chinatown, aroma rempah dan toko tradisional di Little India, hingga bangunan bersejarah dan jejak budaya Melayu-Arab di Kampong Glam.

Kawasan-kawasan tersebut bukan sekadar sisa bangunan lama yang dibiarkan bertahan, tetapi menjadi bagian dari upaya konservasi perkotaan Singapura.

Urban Redevelopment Authority atau URA, lembaga yang menangani perencanaan kota dan konservasi bangunan di Singapura, mencatat bahwa pelestarian warisan bangunan merupakan bagian dari perencanaan dan pembangunan kota.

Baca Juga: Compare Culture: Ketika Generasi Digital Mengukur Hidup Melalui Layar Orang Lain

Sejak 1989, Singapura menjalankan program konservasi yang terus berkembang. Hingga kini, program tersebut mencakup hampir 100 kawasan konservasi dengan lebih dari 7.000 bangunan yang dilindungi.

Salah satu kawasan paling dikenal adalah Chinatown.

Kawasan yang berada di sebelah selatan Sungai Singapura ini merupakan salah satu permukiman awal komunitas Tionghoa di Singapura. Menurut URA, Chinatown masih mempertahankan banyak shophouse yang menggambarkan kehidupan komunitas imigran pada masa awal perkembangan Singapura.

Di kawasan ini pula terdapat bangunan-bangunan keagamaan dari berbagai komunitas, seperti Sri Mariamman Temple, Jamae Mosque, Thian Hock Keng Temple, hingga Nagore Durgha Shrine.

Keberagaman tersebut menunjukkan bahwa sejarah sebuah kawasan tidak selalu sesederhana namanya. Chinatown memang identik dengan komunitas Tionghoa, tetapi perkembangan kawasan tersebut juga memperlihatkan keberadaan berbagai kelompok masyarakat yang hidup dan beraktivitas di pusat perdagangan Singapura pada masa lalu.

Chinatown kemudian menjadi salah satu dari kawasan bersejarah yang secara resmi ditetapkan untuk konservasi pada 7 Juli 1989. Sejak saat itu, bangunan-bangunan di kawasan tersebut tidak bisa begitu saja diubah atau dibongkar.

Setiap pekerjaan restorasi maupun perubahan tertentu harus mengikuti pedoman konservasi yang telah ditetapkan.

Jejak masa lalu juga terlihat jelas di Little India, kawasan yang selama bertahun-tahun menjadi pusat kehidupan komunitas India di Singapura.

Menurut URA, Little India berkembang dari kawasan yang sebelumnya digunakan untuk pertanian dan perdagangan ternak. Seiring waktu, wilayah tersebut tumbuh menjadi pusat kehidupan masyarakat India dengan beragam toko, tempat makan, bangunan keagamaan, serta aktivitas perdagangan. Sebagian besar bangunan dari akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 di kawasan tersebut masih mempertahankan karakter aslinya.

Baca Juga: Gugur saat Jalankan Misi Kemanusiaan! Ini Sosok Ahmad Zaki Ali, Relawan yang Meninggal di NTT

Hingga sekarang, identitas tersebut masih terasa. National Heritage Board mencatat bahwa kegiatan perdagangan di Little India telah berpusat di sekitar Serangoon Road sejak awal abad ke-19.

Berbagai bisnis warisan di kawasan tersebut juga masih meneruskan tradisi perdagangan, budaya, kuliner, dan kehidupan komunitas India di Singapura.

Sementara itu, Kampong Glam menawarkan jejak sejarah yang berbeda.

Kawasan ini secara tradisional dikenal sebagai area permukiman Melayu, dengan aktivitas komunitas dan perdagangan yang berkembang di sekitarnya. Pengaruh masyarakat Arab juga dapat dilihat dari sejarah kawasan serta sejumlah nama jalan di sekitarnya.

Dua bangunan penting, Sultan Mosque dan Istana Kampong Gelam, bahkan berada di dalam kawasan bersejarah tersebut dan telah ditetapkan sebagai monumen nasional.

Berjalan di kawasan-kawasan tersebut memberikan pemandangan yang kontras dengan wajah Singapura yang dikenal modern. Di satu sisi terdapat gedung tinggi dan kawasan bisnis, sementara di sisi lain terdapat bangunan dua atau tiga lantai dengan fasad lama, jalan-jalan yang lebih sempit, serta aktivitas budaya yang masih berlangsung.

Kontras inilah yang tampaknya menjadi bagian penting dari cara Singapura menjaga perkembangan kotanya.

Konservasi di Singapura tidak hanya berarti mempertahankan bagian depan bangunan agar terlihat tua. URA memiliki prinsip yang dikenal sebagai “3R”, yaitu Retention, Restoration, dan Repair atau mempertahankan sebanyak mungkin bagian asli, melakukan restorasi secara sensitif, serta memperbaiki bangunan dengan hati-hati.

Tujuannya adalah mempertahankan karakter dan suasana bangunan bersejarah, bukan sekadar menjadikannya latar belakang visual.

Karena itu, kawasan bersejarah tersebut juga tidak selalu berubah menjadi museum.

Bangunan-bangunan konservasi masih dapat digunakan untuk berbagai fungsi, termasuk kegiatan komersial, komunitas, maupun hunian. Bahkan di kawasan inti Chinatown, Kampong Glam, dan Little India, terdapat aturan khusus untuk mempertahankan suasana tradisional dan aktivitas yang menjadi ciri khas kawasan tersebut.

Baca Juga: Kenapa “Ini Abadi” Perunggu Bisa Jadi Lagu Favorit Banyak Orang?

Di sinilah Singapura menunjukkan salah satu sisi menarik dari perkembangan kotanya. Bangunan lama tidak selalu harus ditinggalkan agar sebuah kota bisa menjadi modern. Sebaliknya, bangunan dan kawasan bersejarah dapat tetap digunakan dan menjadi bagian dari kehidupan kota yang terus berubah.

Tentu saja, Singapura bukan kota yang benar-benar berhenti berubah. Gedung lama dapat direnovasi, kawasan baru terus dibangun, dan fungsi sebuah bangunan juga dapat berkembang mengikuti kebutuhan zaman. Namun, keberadaan sistem konservasi membuat perubahan tersebut memiliki batas dan aturan.

Di tengah pembangunan yang begitu cepat, Chinatown masih mempertahankan deretan shophouse, Little India masih menjadi pusat penting bagi kehidupan budaya India, dan Kampong Glam masih menyimpan jejak sejarah Melayu dan Arab.

Mungkin itulah yang membuat Singapura menarik untuk dilihat bukan hanya sebagai kota masa depan.

Di balik gedung kaca, kereta otomatis, dan arsitektur modernnya, Singapura juga terus membawa sebagian masa lalunya berjalan bersama perkembangan zaman.(Luthfiana Sekar)

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
luthfiana sekar singapura fakta unik lifestyle