Dari Klub Malam ke Komunitas Lari, Gen Z Tinggalkan Miras Demi Olahraga dan Ngopi

tim solobalapan • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 15:00 WIB
Tren Gen Z tinggalkan miras demi olahraga dan ngopi ubah budaya nongkrong ke "Pagi Berlari, Siang Ngopi". Data BPS catat konsumsi alkohol turun jadi 0,30L, dongkrak bisnis kebugaran serta F&B sehat secara masif.
Tren Gen Z tinggalkan miras demi olahraga dan ngopi ubah budaya nongkrong ke "Pagi Berlari, Siang Ngopi". Data BPS catat konsumsi alkohol turun jadi 0,30L, dongkrak bisnis kebugaran serta F&B sehat secara masif.

SOLOBALAPANCOM Fenomena Generasi Z yang meninggalkan minuman beralkohol demi gaya hidup sehat tidak hanya mengguncang industri miras, tetapi juga mengubah total budaya "nongkrong" anak muda.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan konsumsi alkohol penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas terus menurun signifikan, dari 0,37 liter per kapita pada 2023 menjadi 0,30 liter pada 2025. Perubahan ini berjalan seiring dengan maraknya tren kebugaran. Menurut riset Populix, sebanyak 94% Gen Z dan Milenial kini aktif berolahraga secara rutin.

Pergeseran ini melahirkan budaya bersosialisasi baru dengan formula  "Pagi Berlari, Siang Ngopi".

Baca Juga: Tinjau SKO Surakarta, Wawali Astrid Widayani Tekankan Kolaborasi Pendidikan dan Olahraga demi Atlet Masa Depan

Jika generasi sebelumnya mengidentikkan networking atau ajang kumpul akhir pekan dengan tempat hiburan malam dan miras, Gen Z justru memindahkan ruang sosial mereka ke komunitas olahraga seperti run club, poundfit, hingga padel.

Usai berolahraga, kedai kopi dan matcha bar menjadi titik kumpul utama untuk bersantai sekaligus membuat konten media sosial.

Sosiolog urban menilai fenomena ini sebagai bentuk rekonstruksi pencarian third place (ruang ketiga) yang lebih positif. Anak muda tidak lagi membutuhkan alkohol sebagai instrumen "pelarian" dari stres kerja atau kuliah, melainkan memilih endorfin dari aktivitas fisik dan suasana kedai kopi yang kondusif untuk bertukar ide maupun memperluas jaringan profesional secara sehat.

Baca Juga: Kejar Deadline Tanpa Distraksi, Ini Alasan Kopi Kenangan Surakarta Ramai Diserbu Mahasiswa

Secara ekonomi dan sosial, fenomena ini memukul bisnis bar serta produsen alkohol yang kehilangan pasar anak muda. Sebaliknya, ekosistem wellness dan F&B sehat mengalami lonjakan pesat.

Bagi Gen Z, mengalokasikan anggaran untuk keanggotaan gym, pakaian olahraga, dan segelas specialty coffee dinilai jauh lebih menguntungkan untuk investasi fisik dan mental ketimbang efek samping hangover akibat alkohol.

Selain faktor kesehatan, dorongan ekonomi turut memengaruhi keputusan ini. Tren mindful spending membuat Gen Z lebih kalkulatif dalam mengalokasikan uang saku atau pendapatan mereka. Biaya sekali nongkrong di bar yang bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah dinilai tidak sebanding dengan manfaatnya, sementara anggaran tersebut jika dialihkan dapat mendanai paket berlangganan gym bulanan sekaligus konsumsi kopi harian.

Fenomena pergeseran ruang kumpul ini direspons cepat oleh para pelaku bisnis. Banyak kedai kopi kini buka lebih awal di akhir pekan untuk menyambut komunitas lari, sementara produsen minuman global mulai masif meluncurkan lini produk mocktail 0% alcohol dan minuman bernutrisi demi menggaet pasar Gen Z. (angelyna fransiska meia)

Editor : Kabun Triyatno
angelyna fransiska meia olahraga alkohol ekonomi generasi z