SOLOBALAPAN.COM – Karakter yang awalnya hadir sebagai sosok bermasalah kini kerap mejadi daya tarik utama dalam sebuah cerita. Peristiwa ini terjadi pada tokoh Hoho dalam animasi Ibra Berkisah yang sedang menjadi perbincangan hangat di media sosial. Sejumlah penonton justru mulai menilai Hoho sebagai karakter yang lebih realistis, kritis, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Ibra Berkisah merupakan serial animasi Indonesia berlatar pesantren yang menghadirkan Ibra dan Hoho sebagai dua karakter dengan kepribadian yang cukup bertolak belakang. Ibra digambarkan sebagai anak pesantren yang baik, santun, religius, serta kerap memberikan nasihat kepada teman-temannya. Sementara Hoho merupakan anak dari keluarga kaya asal Jakarta yang harus beradaptasi dengan kehidupan pesantren.
Baca Juga: 2 Sineas Tegas soal Film Animasi Merah Putih: One For All yang Kini Jadi Kontroversi, Begini Tanggapannya
Perbedaan tersebut membuat hubungan Ibra dan Hoho menjadi salah satu daya tarik cerita. Ibra cenderung melihat persoalan melalui nilai moral dan kisah Nabi, sedangkan Hoho lebih sering mempertanyakan sesuatu berdasarkan kondisi nyata yang dihadapinya. Bahkan, sejak episode awal, keduanya sudah diperlihatkan memiliki pandangan berbeda mengenai relevansi kisah Nabi dengan kehidupan modern.
Hoho memang bukan karakter tanpa kekurangan. Ia digambarkan cukup percaya diri, terbiasa dengan kehidupan serba nyaman, dan terkadang bersikap keras atau kurang peka terhadap orang lain. Namun, sikap kritis dan cara berpikir praktisnya justru membuat sebagian penonton melihat sisi lain dari karakter tersebut. Perubahan persepsi itu semakin menarik ketika potongan adegan animasi dibicarakan kembali di media sosial. Di TikTok maupun platform lain, satu adegan dapat menghasilkan tafsiran berbeda dari cerita aslinya.
Baca Juga: Trailer Animasi Komarong Resmi Dirilis: Kolaborasi Infinite Studios dan Pemerintah Indonesia Siap Guncang Pasar Global!
Perdebatan mengenai Ibra dan Hoho pun kemudian tidak sekadar melihat siapa yang baik dan siapa yang salah. Sebagian penonton mulai mempertanyakan apakah pendekatan Ibra yang sangat menekankan nilai spiritual selalu terasa realistis dalam menghadapi persoalan sehari-hari. Namun, bukan berarti Hoho otomatis menjadi karakter yang lebih benar. Kajian terhadap Ibra Berkisah justru menunjukkan bahwa karakter Hoho juga digunakan untuk menghadirkan pembelajaran moral, termasuk melalui perubahan sikapnya setelah mendapatkan nasihat dari Ibra.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa penonton tidak selalu menerima karakter sesuai dengan posisi yang diberikan dalam cerita. Di era TikTok, audiens bahkan dapat menemukan makna baru dari sebuah karakter. Lantas, apakah Hoho memang lebih “relate”, atau justru publik sedang melihat sisi lain dari karakter yang sejak awal dirancang untuk berkembang? (monique millania s)
Editor : Kabun Triyatno