SOLOBALAPAN.COM – Banyak masyarakat yang meyakini bahwa Anjing Kintamani hanyalah anjing pada umumnya yang berbulu tebal. Namun, ras yang berasal dari kawasan pegunungan Kintamani, Bali ini memiliki sejumlah ciri khas pada bulu gombong yang lebat, tulang belikat yang menonjol, serta ekor mengambang yang melengkung ke atas. Dipadu dengan karakternya yang setia dan waspada, keunikan ini mengantarkan Anjing Kintamani tercatat secara resmi dalam nomenklatur Fédération Cynologique Internationale (FCI).
FCI mencatat Kintamani Bali Dog sebagai ras dengan negara asal Indonesia dan memasukkannya dalam kelompok Spitz dan tipe primitif. Ras ini mendapat pengakuan provisional atau sementara pada 20 Februari 2019. Status tersebut menjadi tonggak penting karena menunjukkan bahwa Anjing Kintamani telah mendapat tempat dalam sistem pengakuan ras anjing internasional. Namun, statusnya masih provisional, bukan pengakuan definitif.
Baca Juga: Ternyata Hewan Peliharaan Favorit Bisa Ungkap Kepribadian Kamu! Warga Solo Termasuk yang Mana?
Salah satu ciri paling mudah dikenali adalah bulunya. Anjing Kintamani memiliki double coat, yakni lapisan bawah dan lapisan luar yang membuat tubuhnya tampak lebih tebal. Bulu di bagian leher dan pundak tumbuh lebih panjang sehingga membentuk tampilan seperti kerah. Dalam istilah lokal, karakter bulu tersebut dikenal dengan sebutan gombong atau badak. Ekor Anjing Kintamani juga berbulu lebat dan melengkung ke atas. Selain itu, warna bulunya tidak hanya putih, tetapi juga hitam, fawn atau cokelat kekuningan, serta brindle atau belang.
Keunikan Anjing Kintamani tidak hanya terlihat dari fisiknya. Standar FCI menggambarkan ras ini sebagai anjing yang waspada, cerdas, siaga, lembut, setia, dan mudah dilatih. Menurut Palupi, owner Kintamani Kennel di Permata Nusantara, karakter menjadi salah satu hal menarik dari Anjing Kintamani. Berdasarkan informasi lapangan, ras ini juga dikenal memiliki sifat mandiri, kemampuan melompat atau memanjat, serta kebiasaan menggali. Namun, karakter setiap anjing tetap dapat berbeda karena dipengaruhi lingkungan, pemeliharaan, dan pembentukan perilaku.
Keberadaan Anjing Kintamani pada akhirnya bukan hanya tentang keunikan sebagai hewan peliharaan. Ras ini menjadi bagian dari kekayaan genetik lokal Indonesia sekaligus identitas fauna dari Pulau Bali yang patut dikenal dan dijaga. (monique millania s)
Editor : Kabun Triyatno