SOLOBALAPAN.COM - Ada buku yang setelah selesai dibaca membuat pembaca langsung ingin mencari cerita berikutnya. Ada pula buku yang justru meninggalkan rasa kosong dan pertanyaan, “Memangnya sudah selesai?” Korpus Uterus karya Sasti Gotama terasa seperti salah satunya.
Novel yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama pada 2025 ini mengikuti perjalanan Luh, anak yang lahir dari kekerasan seksual dan tumbuh tanpa kasih sayang dari ibunya.
Pengalaman tersebut kemudian membentuk cara Luh melihat kehidupan, perempuan, kehamilan, dan rahim. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan perempuan-perempuan yang menghadapi kehamilan yang tidak diinginkan hingga akhirnya menjadi ahli aborsi.
Dari awal, Korpus Uterus tidak hanya menempatkan Luh sebagai tokoh yang sedang mencari jalan hidup. Tubuh perempuan menjadi salah satu pusat persoalan dalam cerita.
Baca Juga: London Underground, Kereta Bawah Tanah Pertama di Dunia
Rahim tidak hanya hadir sebagai bagian dari tubuh, tetapi juga berkaitan dengan trauma, kehamilan, pilihan, dan bagaimana seseorang memiliki atau kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri.
Hal tersebut juga menjadi perhatian dalam sejumlah kajian terhadap novel ini. Penelitian yang diterbitkan dalam Narasi: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pengajarannya pada 2026 melihat tubuh perempuan dalam Korpus Uterus sebagai sesuatu yang tidak sekadar bersifat biologis, tetapi berkaitan dengan pengalaman hidup, relasi kuasa, serta persoalan otonomi tubuh.
Persoalan tersebut terasa semakin kuat ketika Luh mulai belajar mengenai aborsi. Baginya, keputusan mengenai kehamilan tidak dapat dilepaskan dari pengalaman perempuan yang menjalaninya.
Luh kemudian melihat aborsi bukan hanya sebagai persoalan tentang janin, tetapi juga tentang perempuan yang memiliki kehidupan, pengalaman, dan pilihan atas tubuhnya sendiri.
Pandangan tersebut juga berkaitan dengan keresahan Sasti Gotama mengenai pengetahuan dan akses perempuan terhadap hak atas tubuhnya.
Dalam wawancara dengan RRI, Sasti menyebut bahwa salah satu hal yang ingin ia angkat melalui novel ini adalah pemahaman mengenai hak perempuan atas tubuhnya.
Menariknya, cerita tidak hanya bergerak melalui Luh. Ada perempuan-perempuan lain yang hadir dengan kisah dan persoalannya masing-masing. Hubungan antarkarakter juga tidak selalu diberikan secara langsung.
Beberapa informasi baru terasa penting setelah cerita berjalan lebih jauh, sementara kehidupan sejumlah karakter seperti Nur dan kawan-kawan tidak lagi menjadi pusat perhatian ketika Luh meninggalkan mereka.
Cara bercerita seperti ini membuat dunia Korpus Uterus terasa lebih luas daripada perjalanan satu tokoh saja. Kehidupan para karakter seolah tetap berjalan meskipun Luh tidak lagi berada di dekat mereka. Pembaca tidak selalu diberi tahu bagaimana semuanya berakhir.
Hal tersebut juga terasa pada pertemuan Luh dengan ibunya di bagian akhir. Pertemuan itu tidak hadir sebagai jawaban besar yang menyelesaikan seluruh luka Luh.
Justru karena tidak semuanya terjawab, bagian tersebut dapat meninggalkan rasa hampa bagi pembaca. Setelah mengikuti perjalanan Luh dan berbagai persoalan yang membentuk dirinya, pembaca mungkin mengharapkan sebuah penutup yang lebih tuntas.
Namun, Korpus Uterus tampaknya memang tidak ditulis untuk memberikan ketenangan semacam itu. Dalam wawancara dengan RRI, Sasti mengatakan novel ini bukan ditulis untuk menenangkan pembaca, melainkan untuk membawa pembaca ke dalam kegelisahan dan merenungkan kembali apakah perempuan benar-benar memiliki otonomi atas tubuhnya.
Karena itu, rasa kosong setelah menyelesaikan novel ini justru bisa menjadi bagian dari pengalaman membacanya. Tidak semua pertanyaan harus dijawab melalui akhir cerita. Beberapa mungkin sengaja dibiarkan tinggal di kepala pembaca.
Pada akhirnya, Korpus Uterus adalah cerita tentang perempuan, tetapi bukan hanya tentang satu pengalaman perempuan. Melalui Luh dan perempuan-perempuan yang ditemuinya, novel ini membicarakan tubuh, trauma, kehamilan, aborsi, keluarga, serta pilihan yang tidak selalu sederhana.
Mungkin itu pula yang membuat judul Korpus Uterus terasa penting. Rahim dalam cerita bukan sekadar organ tubuh, tetapi menjadi tempat bertemunya kehidupan, luka, pilihan, dan berbagai pertanyaan tentang siapa yang sebenarnya memiliki kuasa atas tubuh seorang perempuan. (Luthfiana Sekar)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber