Kenapa Otak Kita Justru Sibuk Saat Sedang Tidak Melakukan Apa-Apa?

Rastri Rafiarum • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 14:17 WIB
Ilustrasi seseorang yang sedang melamun. (AI generated)
Ilustrasi seseorang yang sedang melamun. (AI generated)

SOLOBALAPAN.COM - Pernah sedang mandi, rebahan, duduk di kendaraan, atau sekadar menatap langit-langit, tetapi tiba-tiba pikiran pergi ke mana-mana?

Baru saja memikirkan pekerjaan, lalu mendadak teringat kejadian memalukan waktu sekolah. Setelah itu membayangkan kehidupan lima tahun mendatang, kemudian malah mengulang percakapan dengan seseorang yang terjadi beberapa hari lalu.

Tubuh sedang diam, tetapi otak ternyata tidak benar-benar ikut beristirahat.

Baca Juga: Dinara Alivi Kinesya Anak Siapa? Maba Unpad Jalur Mandiri yang Viral Tolak Bantuan Kos KDM Banjir Pujian Warganet

Fenomena sederhana seperti ini ternyata berkaitan dengan salah satu jaringan di otak yang disebut default mode network (DMN). Jaringan ini menarik perhatian para ilmuwan karena aktivitasnya justru sering terlihat ketika seseorang tidak sedang berkonsentrasi pada tugas tertentu dari lingkungan luar.

Dengan kata lain, ketika kita berhenti fokus pada pekerjaan atau sesuatu di depan mata, otak tidak serta-merta masuk ke kondisi “mati”.

Perhatian kita bisa saja beralih ke dunia yang ada di dalam kepala sendiri.

DMN banyak dikaitkan dengan berbagai aktivitas mental seperti mengingat pengalaman pribadi, memikirkan diri sendiri, membayangkan masa depan, dan memahami pikiran atau perasaan orang lain.

Baca Juga: Hari Pramuka 14 Agustus, Coba Lihat Dasa Dharma di Balik Kebiasaan Sehari-hari

Itu sebabnya saat sedang melamun, pikiran bisa tiba-tiba membuka kembali kejadian yang sudah lama berlalu atau menciptakan berbagai kemungkinan tentang apa yang akan terjadi.

Misalnya, kamu sedang mencuci piring lalu mendadak teringat obrolan dengan teman tiga tahun lalu. Padahal sebelumnya sama sekali tidak sedang memikirkan hal tersebut. Atau ketika sedang perjalanan pulang, tiba-tiba muncul pikiran, “Kalau tahun depan aku pindah kerja, hidupku bakal seperti apa, ya?”

Pikiran seperti itu disebut mind-wandering, ketika perhatian kita tidak lagi sepenuhnya tertuju pada aktivitas yang sedang dilakukan dan mulai mengembara ke berbagai hal lain.

Menariknya, kondisi ini tidak selalu berarti otak sedang malas atau tidak produktif. Memikirkan masa lalu dapat membantu kita memahami pengalaman, sementara membayangkan masa depan bisa membantu kita mempertimbangkan berbagai kemungkinan.

Bahkan, ada alasan mengapa ide tertentu justru muncul ketika kita sedang tidak memaksakan diri untuk mencari jawabannya. Ketika sedang mandi atau berjalan santai, misalnya, pikiran memiliki lebih banyak kesempatan untuk menghubungkan berbagai informasi yang sebelumnya tersimpan secara terpisah.

Baca Juga: Siapa Terrel Williams? Jadi Penyebab Prichard Colon Meninggal Dunia, Ungkap Trauma Mendalam Usai Duel Maut 2015

Karena itu, tidak sedikit orang yang justru mendapatkan ide ketika sedang melakukan aktivitas yang tidak membutuhkan konsentrasi penuh.

Tetapi tentu saja, pikiran yang mengembara tidak selalu membawa kita ke tempat yang menyenangkan. Kadang yang muncul justru hal-hal yang ingin kita lupakan. Kita bisa kembali mengingat kesalahan masa lalu, membayangkan kemungkinan buruk, atau mengulang-ulang percakapan yang sebenarnya sudah selesai.

Di sini penting untuk tidak menyederhanakan bahwa DMN adalah penyebab overthinking. DMN merupakan salah satu jaringan yang terlibat dalam pemrosesan pikiran internal, dan aktivitasnya berinteraksi dengan jaringan otak lainnya. Isi pikiran dan kondisi seseorang juga sangat menentukan apakah waktu yang dihabiskan dalam pikiran internal terasa membantu atau justru melelahkan.

Jadi, ketika seseorang sedang melamun, sebenarnya tidak tepat juga jika langsung dianggap sedang tidak melakukan apa-apa.

Baca Juga: Menelusuri Cerita Umbul Sungsang, Dari Ritual hingga Jadi Wisata Andalan Desa Nepen

Bisa saja tubuhnya sedang diam, tetapi otaknya sedang melakukan berbagai pekerjaan yang tidak terlihat: mengingat siapa dirinya, memutar kembali pengalaman, membayangkan masa depan, memahami hubungan dengan orang lain, atau sekadar membiarkan pikirannya mengembara.

Mungkin itu sebabnya momen paling random sering menjadi tempat munculnya pikiran paling jauh.

Sedang mandi, ingat mantan. Sedang rebahan, tiba-tiba ingat tugas. Sedang menatap kosong, malah mendapat ide yang sejak tadi dicari.

Karena pada akhirnya, ketika tubuh berhenti sibuk, bukan berarti otak ikut berhenti bekerja. Kadang justru saat itulah kita masuk ke dunia yang paling ramai: dunia di dalam kepala sendiri.

 

 

Editor : Kabun Triyatno
Rastri Rafiarum default mode network berpikir jaringan otak mind-wandering