SOLOBALAPAN.COM - Setiap bulan Agustus, suasana kampung di Indonesia biasanya berubah. Jalan dihiasi bendera merah putih, gapura dicat ulang, dan berbagai perlombaan mulai disiapkan. Menariknya, peserta lomba bukan hanya anak-anak. Orang dewasa pun sering ikut turun ke lapangan dan rela melakukan hal-hal yang mungkin jarang mereka lakukan sehari-hari.
Mulai dari berlari menggunakan karung, membawa kelereng dengan sendok, bermain bakiak, sampai berebut hadiah dalam lomba tarik tambang. Untuk sementara, kesibukan dan rutinitas orang dewasa seolah ditinggalkan.
Baca Juga: Kisah Seniman yang Menggunakan Karya untuk Menyuarakan Kemerdekaan
Lalu, kenapa lomba 17 Agustus bisa membuat orang dewasa kembali seperti anak-anak?
Salah satu alasannya adalah karena perlombaan tersebut menghadirkan suasana bermain yang sederhana. Banyak lomba 17 Agustus sebenarnya berasal dari permainan yang mudah dilakukan tanpa membutuhkan peralatan mahal. Aturannya pun biasanya sederhana sehingga siapa saja bisa ikut.
Ketika seseorang mengikuti lomba balap karung, misalnya, yang dipikirkan bukan lagi pekerjaan atau aktivitas sehari-hari. Ia hanya perlu melompat secepat mungkin menuju garis akhir. Tidak jarang, peserta justru kehilangan keseimbangan dan terjatuh sebelum mencapai tujuan.
Hal serupa terjadi dalam lomba bakiak. Beberapa orang harus berjalan menggunakan papan kayu yang sama. Jika satu orang bergerak terlalu cepat, seluruh kelompok bisa kehilangan keseimbangan. Alhasil, lomba yang seharusnya terlihat sederhana justru sering menjadi sumber tawa.
Lomba-lomba tersebut juga membuat batas usia menjadi tidak terlalu penting. Anak-anak, remaja, bapak-bapak, hingga ibu-ibu bisa berada di arena yang sama. Orang yang sehari-hari terlihat serius di tempat kerja bisa saja berubah menjadi peserta yang paling heboh ketika mengikuti lomba.
Bukan soal menang atau kalah, keseruan justru sering muncul dari kejadian-kejadian kecil selama perlombaan.
Baca Juga: Jejak Surat Kabar Solo pada Masa Awal Kemerdekaan
Ada peserta yang salah arah, ada yang terjatuh, ada yang terlalu bersemangat hingga kehilangan keseimbangan, bahkan ada pula yang sudah tertawa sebelum perlombaan dimulai.
Suasana seperti ini menciptakan ruang bagi masyarakat untuk berinteraksi tanpa memandang pekerjaan maupun usia. Tetangga yang biasanya hanya berpapasan di jalan dapat berkumpul, bercanda, dan saling menyemangati.
Di sinilah lomba 17 Agustus memiliki fungsi sosial yang cukup penting. Perlombaan menjadi salah satu cara masyarakat membangun kembali kebersamaan di lingkungan tempat tinggal.
Baca Juga: Book's Kitchen, Ketika Buku dan Masakan Hangat Menjadi Ruang untuk Pulang
Semangat tersebut juga berkaitan dengan tradisi gotong royong yang banyak terlihat dalam persiapan perayaan kemerdekaan. Warga tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga ikut menyiapkan tempat, menghias lingkungan, mencari hadiah, hingga mengatur jalannya perlombaan.
Bagi orang dewasa, momen tersebut mungkin menjadi kesempatan untuk sejenak kembali menikmati permainan sederhana seperti ketika masih kecil.
Bedanya, sekarang mereka bermain bukan hanya bersama teman sekolah, tetapi bersama tetangga, keluarga, bahkan anak-anak mereka sendiri.
Tidak mengherankan jika lomba 17 Agustus sering menjadi salah satu bagian yang paling ditunggu dalam perayaan Hari Kemerdekaan. Hadiahnya mungkin sederhana, tetapi pengalaman tertawa bersama justru menjadi sesuatu yang lebih berkesan.
Pada akhirnya, lomba 17 Agustus bukan sekadar pertandingan untuk menentukan siapa yang paling cepat atau paling kuat. Di balik karung, kelereng, bakiak, dan tali tambang, ada kesempatan bagi masyarakat untuk berkumpul dan menikmati kebersamaan.
Mungkin itulah alasan mengapa setiap bulan Agustus, orang dewasa bisa kembali menjadi “anak-anak” untuk sementara waktu. Bukan karena mereka lupa usia, tetapi karena mereka kembali menemukan kesenangan dari bermain bersama. (luthfiana sekar)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber