SOLOBALAPAN.COM – Niat awal hanya membuka marketplace untuk melihat-lihat. Beberapa menit kemudian, satu barang masuk keranjang karena diskon. Barang lain ikut dipertimbangkan karena gratis ongkir.
Kebiasaan seperti itu mungkin terasa jauh dari Dasa Dharma Pramuka. Padahal, salah satu dari sepuluh butirnya berbunyi “Hemat, cermat, dan bersahaja”. Dasa Dharma merupakan ketentuan moral dalam Gerakan Pramuka.
Setiap 14 Agustus, ketika Hari Pramuka diperingati, sepuluh butir tersebut bisa dilihat dari kebiasaan yang dekat dengan kehidupan sekarang. Bukan sekadar soal hafalan, tetapi bagaimana nilai-nilainya hadir ketika seseorang berbelanja, mengatur waktu, menggunakan media sosial, hingga menjaga kepercayaan.
Saat “Hemat” Bertemu Tombol Checkout
Baca Juga: Hari Pramuka, Ketika Tali-Temali Mengajarkan Lebih dari Sekadar Simpul
Belanja online membuat keputusan membeli terasa semakin singkat. Barang yang menarik bisa langsung masuk keranjang, apalagi ketika ada potongan harga atau promo dengan batas waktu tertentu.
Dasa Dharma ketujuh bisa menjadi alasan untuk memberi jeda sebelum checkout. Bukan berarti setiap keinginan harus ditahan, tetapi melihat kembali apakah barang tersebut memang dibutuhkan atau hanya terlihat menarik karena sedang ramai.
Sikap cermat juga berarti mempertimbangkan kegunaan dan kemampuan sebelum mengeluarkan uang. Dengan begitu, keputusan membeli tidak hanya mengikuti keinginan sesaat.
Disiplin di Tengah Kebiasaan Menunda
“Disiplin, berani, dan setia” menjadi Dasa Dharma kedelapan. Dalam kehidupan sehari-hari, disiplin tidak selalu berhubungan dengan aturan yang rumit.
Menyelesaikan tugas sebelum tenggat, datang sesuai waktu yang disepakati, atau berhenti menunda pekerjaan merupakan contoh sederhana.
Masalahnya, menunda sering terasa tidak berbahaya. Tugas yang seharusnya dikerjakan siang hari bisa bergeser ke malam, lalu berlanjut sampai mendekati batas waktu.
Ada kalanya yang dibutuhkan bukan jadwal yang lebih rumit, melainkan kemauan untuk mulai mengerjakan sesuatu ketika waktunya sudah tiba.
Ketika Jempol Lebih Cepat daripada Pikiran
Dasa Dharma kesepuluh berbunyi “Suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan”. Nilai ini terasa dekat dengan kebiasaan berkomunikasi melalui media sosial.
Satu komentar dapat ditulis dalam hitungan detik. Begitu pula dengan membagikan unggahan atau meneruskan informasi kepada orang lain.
Baca Juga: Penampilan Terbaru Jenna Ortega Tuai Perdebatan, Fenomena Standar Kecantikan Ekstrem Jadi Sorotan
Jeda sebentar sebelum mengetik bisa membuat perbedaan. Ketika sebuah unggahan membuat kesal, tidak semuanya harus langsung dibalas. Saat menemukan informasi yang mengejutkan, memeriksa kembali isinya juga lebih baik daripada ikut menyebarkannya.
Menjaga perkataan hari ini tidak hanya dilakukan ketika berbicara secara langsung. Apa yang ditulis di ruang digital juga menjadi bagian dari cara memperlakukan orang lain.
Kepercayaan Tidak Dibangun dalam Sehari
“Bertanggungjawab dan dapat dipercaya” merupakan Dasa Dharma kesembilan.
Kepercayaan bisa dimulai dari hal sederhana. Menyelesaikan bagian tugas kelompok sesuai kesepakatan, mengembalikan barang yang dipinjam, atau menjaga cerita pribadi yang disampaikan teman.
Ketika melakukan kesalahan, mengakuinya juga menjadi bagian dari tanggung jawab. Tidak selalu mudah, terutama ketika ada keinginan untuk mencari alasan.
Namun, orang lain tidak hanya melihat hasil akhirnya. Cara seseorang menyikapi kesalahan juga ikut menentukan apakah kepercayaan itu tetap terjaga.
Tidak Semua Perbedaan Harus Menjadi Perdebatan
Dasa Dharma keempat mengajarkan “patuh dan suka bermusyawarah”. Dalam keseharian, musyawarah bisa muncul dari persoalan sederhana.
Teman-teman bisa memiliki pilihan tempat makan yang berbeda. Sebuah kelompok dapat mempunyai beberapa ide untuk menyelesaikan tugas. Di rumah pun, setiap orang mungkin punya rencana masing-masing.
Baca Juga: Jejak Awal Pramuka Dunia: Kisah Baden-Powell dan Perkemahan Brownsea
Mendengarkan pendapat orang lain tidak berarti harus selalu setuju. Ada ruang untuk menyampaikan alasan, mempertimbangkan pilihan, lalu mencari keputusan yang bisa diterima bersama.
Perbedaan pendapat tidak selalu membutuhkan pihak yang menang dan kalah.
14 Agustus dan Dasa Dharma yang Dibaca Ulang
Hari Pramuka diperingati setiap 14 Agustus. Tahun 2026 menjadi peringatan Hari Pramuka ke-65. Gerakan Pramuka sendiri mulai diperkenalkan secara resmi kepada masyarakat pada 14 Agustus 1961.
Kwarnas mengusung tema “Memantapkan Langkah Organisasi Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045” untuk peringatan tahun ini. Tema tersebut menjadi bagian dari arah Gerakan Pramuka untuk terus berkembang dan beradaptasi dengan perubahan zaman.
Momentum tersebut bisa menjadi alasan untuk membuka kembali Dasa Dharma tanpa harus mengembalikannya sebagai hafalan masa sekolah.
Sepuluh butir itu punya bentuk yang berbeda ketika ditempatkan dalam kehidupan sekarang. Ada yang muncul ketika memilih barang yang akan dibeli, mengatur waktu, menulis komentar, menjaga janji, atau menghadapi perbedaan pendapat.
Pada 14 Agustus, Dasa Dharma tidak harus kembali menjadi sepuluh kalimat yang diucapkan bersama. Ia bisa hadir lewat pilihan-pilihan kecil yang dibuat sepanjang hari.
Mungkin justru di situlah cara lain memperingati Hari Pramuka: bukan sekadar mengingat apa yang pernah dihafalkan, tetapi melihat bagaimana nilai di dalamnya bertemu dengan kebiasaan yang kita jalani hari ini. (Rahma Azra Calista)
Editor : Andi Aris WidiyantoSumber : solobalapan.com