Dulu Pamer Barang, Kini Pamer Pace Lari dan Waktu untuk Diri Sendiri

Adi Pras • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 09:51 WIB
Ilustrasi anak muda mengecek catatan aktivitas lari setelah berolahraga. (AI Generated)
Ilustrasi anak muda mengecek catatan aktivitas lari setelah berolahraga. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM - Coba buka media sosial pada pagi hari. Di antara foto sarapan dan perjalanan menuju kampus atau kantor, bisa saja muncul tangkapan layar hasil lari.

Lima kilometer. Pace sekian menit per kilometer. Kadang dilengkapi foto sepatu, jalanan pagi, atau wajah berkeringat setelah berlari.

Dulu, hasil lari mungkin hanya menjadi catatan pribadi. Sekarang, angka di aplikasi olahraga bisa ikut dipamerkan.

Baca Juga: 18 Tahun Hidup Sendiri, Yuni Shara Ungkap Ingin Punya Teman Menua

Bukan cuma lari. Foto setelah olahraga, ikut run club, pergi ke gym, sampai mengambil waktu untuk beristirahat juga semakin sering menjadi bagian dari unggahan sehari-hari.

Bentuk flexing pun terasa berubah.

Bukan Lagi Sekadar Barang

Dulu, flexing lebih mudah dikaitkan dengan barang yang dimiliki. Tas bermerek, mobil, liburan, atau makan di tempat mahal menjadi cara untuk menunjukkan gaya hidup.

Sekarang, yang ditampilkan bisa berupa kebiasaan.

Baca Juga: Bukan Belum Makan, Mungkin Belum Ketemu Nasi

Berhasil bangun pagi untuk berlari, rutin berolahraga, punya waktu untuk membaca, atau sengaja menjauh dari ponsel beberapa jam bisa terlihat sebagai pencapaian tersendiri.

Pace lari bahkan bisa menjadi angka yang dibanggakan.

Yang menarik, benda mahal bukan lagi satu-satunya cara untuk terlihat punya gaya hidup tertentu. Rutinitas juga bisa memberikan kesan yang sama.

Bangun pagi, olahraga, kuliah atau bekerja, lalu punya waktu untuk beristirahat. Sederhana, tetapi ketika ditampilkan di media sosial, rangkaian itu bisa membentuk gambaran tentang seseorang yang dianggap punya hidup teratur.

Baca Juga: Harusnya Horror, Langkah Baru Reza Arap sebagai Sutradara

Sehat Ikut Jadi Gaya Hidup

Di sinilah tren wellness terasa semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Lari tidak berhenti sebagai olahraga. Ada sepatu yang dipilih, rute yang dicoba, komunitas yang diikuti, sampai hasil latihan yang dicatat.

Hal serupa terlihat pada kebiasaan menjaga kesehatan mental.

Sebagian orang mulai terbuka membicarakan pengalaman terapi atau konseling. Ada pula yang memilih memasang Do Not Disturb ketika sedang ingin beristirahat dari notifikasi dan percakapan.

Baca Juga: Makin Banyak Dipilih, Self-Care Jadi Bagian dari Gaya Hidup untuk Bantu Kurangi Penat

Hal-hal yang sebelumnya lebih sering dilakukan secara pribadi kini sesekali ikut masuk ke media sosial.

Tentu, tidak semua orang melakukannya untuk terlihat keren. Ada yang memang ingin berbagi pengalaman, mendokumentasikan perjalanan, atau mengajak orang lain melakukan hal serupa.

Namun, ada perubahan kecil yang menarik: merawat diri kini juga bisa menjadi bagian dari cara seseorang menunjukkan dirinya.

Saat Punya Waktu Terasa Mewah

Punya waktu untuk berolahraga mungkin terdengar biasa. Namun, bagi seseorang yang setiap hari sibuk kuliah, bekerja, mengerjakan tugas, dan menghadapi berbagai notifikasi, waktu luang bisa terasa cukup berharga.

Baca Juga: Aura Farming, Ketika Momen Biasa Harus Terlihat Keren

Karena itu, unggahan tentang lari pagi atau waktu istirahat kadang bukan hanya soal aktivitasnya.

Ada pesan lain yang ikut terlihat: seseorang sedang berusaha menyediakan ruang untuk dirinya sendiri.

Hal ini membuat bentuk flexing baru terasa berbeda. Yang ditunjukkan bukan semata-mata kemampuan membeli sesuatu, tetapi kemampuan menjaga sesuatu yang tidak kalah penting, seperti waktu, tenaga, dan ketenangan.

Namun, ada satu hal yang perlu diingat.

Jangan sampai kebiasaan sehat justru terasa kurang berarti hanya karena tidak sempat diunggah.

Baca Juga: Ikuti Tren Naykilla, Nycta Gina Parodikan Jeng Kelin Lengkap dengan Gaya Ikoniknya

Lari tetap menjadi olahraga meskipun tidak ada tangkapan layar pace. Istirahat tetap dibutuhkan meskipun tidak diumumkan lewat story. Begitu pula dengan terapi atau konseling yang tidak harus dibagikan kepada siapa pun.

Media sosial hanya menunjukkan sebagian kecil dari kehidupan seseorang.

Keren dengan Cara yang Berbeda

Mungkin definisi keren memang sedang mendapat tambahan bentuk.

Barang mahal masih bisa menjadi simbol gaya hidup. Tetapi sekarang, ada kebanggaan lain yang muncul dari hal-hal yang lebih sederhana.

Baca Juga: Bukan Soal Mahal, Kenapa Hadiah Lomba 17 Agustus Tetap Dinanti?

Bisa bangun pagi untuk berlari. Punya waktu untuk istirahat. Berani mengatakan tidak. Atau mematikan notifikasi tanpa merasa harus selalu membalas pesan.

Hal-hal itu mungkin tidak bisa dipamerkan seperti barang baru. Namun, bagi sebagian orang, justru itulah bentuk kemewahan yang sedang dicari.

Jadi, ketika media sosial dipenuhi screenshot pace lari, foto sepatu olahraga, atau unggahan tentang menjaga batas diri, mungkin kita sedang melihat bentuk flexing yang berbeda.

Bukan cuma tentang apa yang berhasil dimiliki, tetapi juga apa yang berhasil dijaga. (Rahma Azra Calista)

Editor : Adi Pras
Sumber : Berbagai Sumber
Rahma Azra Calista Wellness Lari Pagi flexing lifestyle